BREAKING NEWS
latest

728x90

header-ad

468x60

header-ad
Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan

Marus (Darah Beku), Halalkah?


SUARA-MUSLIM.COM, Solo ~ Ketika saya pergi ke kota Solo, saya banyak mendengar bahwa menurut MTA marus (darah beku yang direbus/dikukus, dideh: Jawa) hukumya halal. MTA merupakan Majelis Tafsir Al-Qur'an yang dikomandani oleh Ustadz Ahmad Sukino yang bermarkas di Solo. Menurut mereka, darah yang diharamkan Allah dalam al-Qur'an adalah yang mengalir (masfuhan), sementara marus tidak demikian.

Dalam al-Qur'an Allah berfirman:
قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ"Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali bila makanan itu adalah bangkai, darah yang mengalir, atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor." (QS. al-An'am: 145)

Menjadikan ayat ini sebagai dalil kehalalan marus bertentangan ketetapan agama yang menyatakan, bahwa darah, bagaimanapun kondisinya, hukumnya najis dan haram dikonsumsi.

Sebenarnya ada pertanyaan mudah yang harus dijawab jika mereka meyakini kehalalan marus: "Jika darah yang semula mengalir tetapi sudah kering, menurut mereka darah tersebut najis atau tidak?" Jika jawabannya tidak, karena tidak mengalir, maka manakah nash yang menyatakan demikian (darah mengalir yang mengering hukumnya menjadi suci karena tidak lagi mengalir)? Jika najis, bukankah darah tersebut tidak mengalir?

Menurut ulama, ayat di atas yang menggunakan kata daman marfuhan (darah mengalir) berguna untuk mengecualikan hati dan limpa dimana keduanya adalah darah yang mengeras. Demikian pendapat ulama, termasuk Syaikh al-Islam Ibnu Hajar al- Haitami dalam al-Fatawa al-Kubra (1/41). Selain itu, ada pula ulama yang berpendapat, bahwa sisa darah yang menempel dalam daging tidak haram dimakan karena tidak mengalir. Dua masalah inilah yang dikecualikan Allah SWT dalam firman-Nya daman masfuhan- Tafsir al-Qurthubi VII/124.

(Nur Hidayat Muhammad)
Sumber: Sarkub.com

Berkat Al-Qur'an, Dr. Shekharan Masuk Islam


SUARA-MUSLIM.COM, Riyadh -- Tahun lalu, Dr Indu Chadra Shekharan begitu takjub dengan ceramah Mohammed Ali, Direktur rumah sakit tempat ia bekerja. Saat itu, Ali mengatakan Islam dalam bahasa Arab berarti penyerahan diri, tunduk dan perdamaian.

Perkataan itu yang selanjutnya menunjukan seorang Muslim sejati berkomitmen menjaga perdamaian dan stabilitas dunia. Dr Shekharan pun semakin kagum ketika Ali bercerita tentang Alquran.

Ia ingat betul, dan telah dibuktikannya sendiri, Alquran memiliki fakta-fakta empiris yang bisa dibuktikan secara ilmiah. Hal ini sekaligus membuktikan Alquran bukanlah buatan Rasulullah Muhammad Sallallahu 'Alaihi wa Sallam melainkan pencipta-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

"Tidak ada manusia yang bisa membuat Alquran. Banyak fakta ilmiah yang ditemukan dalam Alquran dan terbukti kebenarannya," katanya seperti dilansir Arabnews.com, Kamis (15/8).

Menurut Dr Shekharan, Alquran bukanlah kitab ilmu pengetahuan biasa melainkan sebuah kitab peringatan dan mukjizat. "Saya percaya, apa yang dikatakan dalam Alquran ini akan ditemukan para ilmuwan di abad-abad mendatang," katanya yang akhirnya memutuskan untuk menjadi Muslim.

Sebagai satu contoh, lanjutnya, teori Big Bang yang dijelaskan dalam Alquran. Lalu ada posisi gunung yang menjaga kestabilan bumi. Keindahan cerita lebah dan semut yang secara khusus dikisahkan dalam Alquran. 

Melihat dari begitu luar biasanya mukjizat Alquran, Dr Shekharan mengajak umat Islam untuk mempelajarinya. Menjadikan Alquran sebagai panduan menciptakan harmonisasi dan perdamaian dunia. "Alquran menawarkan solusi kebutuhan atas manusia modern yang kerap dilanda konflik dan masalah," imbuh Dr Shekharan.

Dr Shekharan lahir dan dibesarkan dalam keluarga Hindu di Thiruvanandapuran, Kerala. Orang tuanya, profesor medis. Ia ibu dari dua anak.

Sumber: ROL

Wartawan Ini Selamat di Mesir Berkat Nama Besar Bung Karno



SUARA-MUSLIM.COM ~ Setelah sempat ditahan oleh tentara Mesir, Munawar Makyanie akhirnya dilepaskan. Siapa sangka wartawan Antara itu dilepas karena nama besar seorang Bung Karno, presiden pertama Indonesia.


Ceritanya, ketika Munawar selama sekitar tiga jam meliput pagelaran tank tempur di Jalan Salah Salim, jalan utama yang menghubungkan Bandara Internasional dan pusat kota Kairo, pada Jumat (16/8) silam. Ia saat itu hendak salat Jumat di Masjid Al Azhar di Distrik Hussein dan sedianya akan meliput aksi unjuk rasa pendukung presiden terguling Mohamed Moursi di Bundaran Ramses, pusat kota Kairo.


Ketika melintas di Jalan Salah Salim, ada peristiwa menarik untuk diliput, dan Munawar pun mengambil gambar barisan tank tempur tersebut setelah minta izin kepada seorang tentara di sekitanya, dan dipersilakan. Baru beberapa kali menjepret, seorang tentara yang agak senior berteriak dari jauh, "Mamnu tashwir" (dilarang motret)," sambil berlari ke arah Munawar.


Dia juga sempat membentak tentara yang mengizinkan Munawar untuk memotret. Tanpa bertanya, dia langsung dengan paksa menarik tangan Munawar dan dimasukkan ke mobil patroli.


Padahal Munawar sudah berteriak-teriak. "Saya wartawan, saya wartawan," katanya. Tapi tentara berseragam loreng padang pasir itu tidak peduli teriakan tersebut, dan tetap saja menarik tangan wartawan Antara tersebut.


Di dalam mobil patroli militer, sudah ada empat warga asing berkulit putih, sepasang laki-wanita berkulit hitam, dan seorang pria berwajah Arab, terkena razia tentara. Munawar sempat bertanya kepada para warga asing itu, apakah mereka juga wartawan, namun seorang wanita bule yang duduk di sampingnya menjawab bahwa dia dan tiga temannya adalah turis, ditahan atas tuduhan melanggar jam malam (19.00-06.00).


Munawar kemudian bertanya lebih lanjut, mereka dari negara mana saja, seorang tentara pengawal tiba-tiba membentak, "Uskut!" (diam), dan semua mata para warga asing itu memandangnya.


Dengan spontan Munawar berteriak balik ke arah sang pengawal, "Saya wartawan Indonesia. Ini kartu pers saya," sambil memperlihatkan dua kartu pers yang bergantung di leher. Dua kartu pers tersebut, masing-masing adalah dari Press Center Kementerian Penerangan Mesir, dan satunya lagi kartu pers dari Istana Presiden Mesir.


Menanggapi teriakan Munawar, si tentara pengawal yang duduk di kursi mobil paling belakang dengan berpegang senjata siap tembak itu tidak mau tahu, dan tanpa bicara dia hanya memelototkan matanya. Sesaat kemudian, ia mengambil telepon genggam dari saku rompi untuk menghubungi Atase Pertahanan (Athan) KBRI Kairo.


Namun, di daftar telepon genggam ada dua nama Athan, Kolonel R. Teguh Isgunanto, dan Kolonel Ipung Purwadi. Untuk konfirmasi yang mana Athan aktif, Munawar segera menelepon Staf Athan, Mukhlis Kaspul Anwar. Saat itu dijawab bahwa Ipung adalah Athan baru, pengganti Athan Teguh yang sudah kembali ke Indonesia.


"Saya wartawan Antara, Munawar Makyanie, ditahan tentara di Jalan Salah Salim," katanya kepada Athan Ipung.


Dari seberang, terdengar sayup-sayup suara Ipung bertanya-tanya, "Ini siapa, ini siapa?". Sebelum Munawar menjawab pertanyaan Ipung, HP sudah dirampas, begitu pula kamera oleh tentara. "Waduh, celaka duabelas ini, fisik dan nyawa saya bisa hilang tanpa jejak," cerita Munawar.


Munawar menceritakan, saat itu suasana semakin menyeramkan karena menjelang mobil patroli tentara yang mengangkutnya dan warga asing itu hendak bergerak ke arah yang tidak diketahui. Wajahnya ditutup dengan kain hitam. Sekitar satu jam perjalanan, ia diturunkan di suatu tempat, dan secara terpisah di ruang berbeda, kami diinterogasi oleh petugas.


KBRI bergerak cepat ketika petugas secara paksa merampas HP saat menghubungi Athan Ipung. Munawar sempat mencoba melawan dan berteriak-teriak panik ke arah petugas, "Ini saya sedang berbicara dengan Duta Besar Republik Indonesia," ujarnya.


Namun, lagi-lagi tentara itu tak mau tahu, "Mafisy kalam, uskut!" (Tidak boleh ngomong, diam), bentaknya dengan mata melotot.


Ia semakin khawatir lantaran saat berbicara telepon dengan Athan Ipung, nomor HP belum tercatat di HP Athan. Sehingga Ipung tidak tahu siapa Munawar Makyanie.


Untungnya, Ipung bergerak cepat untuk melacak nomor telpon tersebut melalui berbagai pihak. Belakangan, Staf Athan, Iman Hilmanuddin, kepada Munawar menceritakan bahwa ia diketahui setelah Ipung menceritakan kepada dirinya.


Sebelumnya, Iman Hilmanuddin juga sempat bingung tentang siapa milik HP tersebut. Selanjutnya ia berusaha melacak lagi melalui Staf Pelaksana Fungsi Penerangan, Sosial Budaya KBRI Kairo, Amir Syarifuddin. Dari situ diketahui bahwa itu adalah nomor HP wartawan Antara di Kairo.


Setelah mengetahui bahwa itu nomor HP Antara, Iman pun sengaja mengirim pesan singkat berbahasa Arab ke HP Antara atas nama Atase Partahanan, dengan harapan petugas dapat membaca dan memakluminya.


Pesan singkat berbahasa Arab itu isinya, "Apakah ini Munawar Makyanie, apa kabarnya? Saya adalah Atase Pertahanan KBRI Kairo.


Membaca SMS itu, Bung Karno seolah-olah hadir sebelum diinterogasi. Seorang petugas beruban,tampaknya pejabat senior, meminta identitas diri, dan Munawar pun menyerahkan semua dokumen identitas berupa paspor, kartu pers, STNK, SIM Mesir, dan kartu Cairo Sporting Club.


Saat membuka paspor Munawar, petugas tersebut spontan berucap, "Oh dari Indonesia ya, Soekarno, 'anaa uhibbu Soekarno' (saya cinta Soekarno)," sambil senyum takzim dan menunjukkan kedua jempol tangannya, dan dia pun keluar dari ruangan interogasi.


Lalu seorang pria berpakaian sipil berwajah angker mulai menginterogasi Munawar dengan beragam pertanyaan memojokkan. Di ruangan itu cukup sempit, hanya ada dua kursi berhadapan ditengahi sebuah meja kecil, dan sebuah lemari kusam di dekat jendela terbuka berpagar besi.


Di atas lemari dipenuhi sebundel kertas berdebu. Sesekali tampak dua ekor tikus menari-nari berkejaran di sela-sela tumpukan kertas di atas lemari. Di ruang sebelah, kerap terdengar suara bentakan keras oleh petugas berbahasa Arab.


Di tengah interogasi, tiba-tiba datang seorang petugas berbeda lagi, berpakaian rapi dengan senyum ramah, meminta Munawar untuk ke ruang tamu.


"Mohon maaf, ini hanya salah pengertian saja. Bapak Munawar Saman Makyanie boleh kembali ke rumah", kata pria berdasi itu sambil menyerahkan kembali telepon genggam, dan semua dokumen identitas, serta kamera, tapi memory card kamera sudah dicopot.


Munawar pun diantar kembali ke tempat semula ditahan, yaitu Jalan Salah Salim, dalam posisi mata dan wajah kembali ditutup dengan kain hitam. Selama perjalanan pulang dalam mobil patroli tersebut, Munawar dalma pikirannya terlintas anak-istri dan Toyota Corolla -- mobil sedan pribadi kesayangan yang diparkir di sisi Jalan Salah Salim, dengan kunci stang buatan Indonesia.


Ia khawatir lantaran banyak kerangka mobil rusak terbakar berserakan di pinggir jalan di mana-mana akibat bentrokan. Sesampai di Jalan Salah Salim, petugas membuka penutup kain hitam dari wajah dan turun dari mobil patroli. Setelah itu ia lega.


"Alhamdulillah mobil pribadi warna metalik itu masih utuh, menanti dengan anggunnya," katanya


Begitu masuk dalam mobil pribadi, istrinya menelpon dari Indonesia, "Papa, hati mama tidak tenang di rumah sakit, selalu ingat papa di depan pasien," kata istri, Widiawati Kurnia, yang sedang bertugas sebagai dokter spesialis kandungan di Rumah Sakit Sari Asih Sangeang, Tangerang.


Mendengar suara istri, ia langsung terharu. Matanya langsung meneteskan air mata. Ia sempat tidak bisa berkata apa-apa dan langsung mematikan teleponnya.


"Sesaat kemudian setelah panasin mobil sebentar, saya kirim pesan singkat BBM kepada istri, tanpa kata-kata, hanya berupa gambar setir mobil, pertanda sedang berkendara di jalan," katanya.


Ia mengaku, bisa sampai di rumah dengan selamat berkat "kehadiran" Bung Karno. Proklamator Kemerdekaan RI itu memang cukup disegani rakyat Mesir hingga sekarang yang dikenal sebagai sejawat paling akrab Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, pahlawan legendaris Arab. [AM]

Sumber: merdeka.com

Tradisi Halal Bi Halal dan Saling Meminta Maaf


Setelah hari raya tiba, kita saksikan pula umat Islam di tanah air saling meminta maaf antara yang satu dengan yang lain. Bahkan tidak sedikit pula yang melakukan itu dalam bentuk acara halal bi-halal, yang bertujuan saling memaafkan dosa-dosa dan kesalahan antara sesama yang telah berlalu. Hal ini dilakukan, karena setelah menjalankan ibadah puasa satu bulan penuh, dengan sempurna, Allah SWT telah menjanjikan pengampunan dosa-dosa kita kepada-Nya. Dalam hal ini, Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. (رواه البخارى ، ومسلم).
“Abu Hurairah berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan ketulusan, maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah berlalu”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits di atas, Rasulullah saw menjanjikan ampunan Allah kepada orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan karena motivasi keimanan dan niatan yang tulus. Tentu saja ampunan tersebut khusus dosa-dosa seseorang kepada Allah. Sedangkan dosa-dosa seseorang kepada sesama, harus meminta maaf kepada yang bersangkutan. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ
“Dari Abu Hurairah berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang mempunyai kesalahan berupa harga diri atau sesuatu kepada saudaranya, maka hendaknya ia meminta kehalalannya kepada orang tersebut sekarang ini, sebelum terjadi suatu hari di mana dinar dan dirham tidak berlaku (hari kiamat). Apabila ia mempunyai amal shaleh, maka akan dibayarkan kepada saudaranya itu sesuai dengan kesalahannya. Apabila ia tidak memiliki kebaikan, maka ia akan dibebankan kesalahan-kesalahan saudaranya itu.” (HR. al-Bukhari).

Hadits ini memberikan kesimpulan, bahwa kesalahan kepada sesama manusia, harus meminta maaf atas kesalahannya kepada orang tersebut. Oleh karena itu, kaum Muslimin pada waktu hari raya saling bermaaf-maafan, dengan berkunjung kepada kerabat dan tetangga, atau saling bermaaf-maafan yang dikemas dalam acara halal bi-halal, sebuah istilah yang diambil dari redaksi hadits di atas “falyatahallalhu”.

Oleh: Muh. Idrus Ramli


Redaktur: ML
Sumber: www.idrusramli.com

Tradisi Aneka Kue dan Makanan di Hari Raya

Umat Islam di Nusantara memeriahkan hari raya juga dengan aneka kue dan makanan yang disuguhkan kepada tamu. Hal ini sebagai pengejawantahan dari ajaran Islam yang menganjurkan memberi makanan kepada orang lain. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda:

عَنْ عَمْرِو بْنِ عَبَسَةَ قَالَ: أَتَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ مَا اْلإِسْلاَمُ، قَالَ: طِيبُ الْكَلاَمِ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ. (رواه أحمد).
Amr bin Abasah berkata: “Aku mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan bertanya: “Wahai Rasulullah, Apakah Islam itu?” Beliau menjawab: “Islam adalah perkataan yang indah dan menyuguhkan makanan kepada orang lain.” (HR. Ahmad).

Pada dasarnya memberi makanan tidak hanya dianjurkan pada waktu hari raya saja. sebagai ekspresi ajaran Islam yang indah dan damai, memberi makanan kepada orang lain dianjurkan kapan dan di mana pun kita berada. Akan tetapi, dalam masa-masa hari raya, suguhan kue dan makanan lebih semarak dari pada di luar hari raya. Hal ini sesuai dengan hadits riwayat al-Bukhari dari Aisyah di atas, yang dikomentari oleh para ulama sebagai berikut ini:

فِيْهِ مَشْرُوْعِيَّةُ التَّوْسِعَةِ عَلَى الْعِيَالِ فِيْ أَيَّامِ اْلأَعْيَادِ بِأَنْوَاعِ مَا يَحْصُلُ لَهُمْ بِهِ بَسْطُ النَّفْسِ وَتَرْوِيْحُ الْبَدَنِ مِنْ كُلَفِ الْعِبَادَةِ، فِيْهِ أَنَّ إِظْهَارَ السُّرُوْرِ فِيْ الأَعْيَادِ مِنْ شَعَائِرِ الدِّيْنِ. (فتح الباري 2/514، عمدة القاري 6/393).
“Hadits di atas menganjung hukum disyariatkannya memberikan keluasan kepada keluarga pada waktu hari raya dengan aneka ragam hal yang mendatangkan kesenangan jiwa dan penyegaran badan dari beratnya ibadah. Hadits tersebut juga mengandung kesimpulan bahwa mengekspresikan kesenangan dalam hari raya termasuk bagian dari syiar agama.”

Berdasarkan pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar dan al-‘Aini di atas, hadits al-Bukhari dari Aisyah di atas, mengantarkan kita pada kesimpulan tentang disyariatkannya menyemarakkan hari raya dengan aneka ragam hiburan, kue, makanan, baju baru, menyalakan petasan (mercon) dan lain-lain untuk menyegarkan kembali tubuh kita yang telah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh.

Dari semua paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa aneka ragam tradisi di Nusantara pada saat-saat hari raya, bukanlah amaliah bid’ah yang dilarang dalam agama. Tradisi-tradisi tersebut pada dasarnya pengejawantahan dari ajaran Islam yang mensyariatkan umatnya untuk menyemarakkan hari raya dengan aneka ragam acara yang dapat mengekspresikan syiar-syiar Islam dan suka cita. 

(Muh. Idrus Ramli / www.idrusramli.com)

Tradisi Mengucapkan Selamat Idul Fitri


Ketika idul fitri dan idul adhha tiba, kita lihat umat Islam saling mengucapkan selamat hari raya, dan terkadang mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum, sebagai ungkapan suka cita dengan hari yang mereka rayakan. Hal ini merupakan tradisi yang berlangsung sejak generasi sahabat Nabi saw. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fath al-Bari:

وَرَوَيْنَا فِي الْمَحَامِلِيَّاتِ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ كَانَ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيْدِ يَقُوْلُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ
Kami meriwayatkan dalam al-Mahamiliyyat dengan sanad yang hasan dari jalur Jubair bin Nufair, berkata: “Para sahabat Rasulullah saw apabila bertemu pada waktu hari raya, mereka saling mengucapkan, “Semoga Allah menerima dari kami dan dari Anda.”

Berkaitan dengan ucapan selamat hari raya, al-Hafizh Ibnu Hajar, telah menulis sebuah kitab khusus tentang ucapan selamat pada hari raya, berjudul al-Tahni’ah fi al-A’yad wa Ghairiha. Bahkan al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi, menulis dalam kitabnya al-Hawi lil-Fatawi, satu risalah khusus tentang ucapan selamat berjudul Washul al-Amani bi-Ushul al-Tahani.

Oleh: Ust. Muhammad Idrus Ramli

Redaktur: ML
Sumber: IdrusRamli.Com

Kisah Dua Orang FPI Mati Kutu di Hadapan Anak Pesantren di Tegal

Foto ilustrasi FPI
Kisah ini diceritakan oleh seseorang asli Cimahi yang kebetulan saat itu sedang perjalanan dari Bandung menuju Semarang.

Waktu itu di daerah Tegal, 4 Mei 2013 sekira pukul 00.30 setelah saya selesai sholat isya di suatu masjid dan akan makan di sebuah rumah makan yang terletak di depan gudang Bulog setelah kota Tegal tiba tiba terjadi keributan di seberang tempat saya makan.

Ketika keluar dari mobil dan menyebrang untuk melihat keributan tersebut,ternyata ada 2 orang laki laki yang memakai atribut rompi FPI (Front Pembela Islam) sedang adu mulut dengan 1 orang pemuda yang di tuduh sebagai anak jalanan yang suka minum minuman keras. Padahal pemuda tersebut sedang duduk beristirahat di sebuah warung yang sudah tutup,yang secara kebetulan di warung yang sebelahnya yang juga sudah tutup ada beberapa anak punk sedang minum minuman keras. Entah bagaimana awalnya sampai terjadi keributan soalnya ketika didatangi dan beberapa sopir truk, kernet truk keributan itu sudah terjadi

Setelah banyak orang yang melihat melihat apa yang terjadi, mereka yang ribut di ajak ke warung yang masih buka untuk menyelesaikan dan di tanyakan oleh beberapa warga kampung sekitar keributan itu terjadi. Dan saya pun tertarik untuk mengikutinya.

Pemuda yang memakai jaket kulit dan menenteng tas gendong menceritakan awal muasal sampai terjadi keributan

Pemuda : 
"Awalnya saya sedang beristirahat di warung depan sebrang jalan,dari jam 8 malam saya sudah beristirahat di warung tersebut,saya dalam perjalanan syiar jalan kak pulang pergi banten madura dari pondok pesantren di pandeglang banten,saya istirahat karena sudah lelah berjalan dari mulai Comal Pemalang jam 6 pagi sampai di sini jam 8 malam,saya putuskan istirahat di warung yg tutup kebetulan ada dipannya ( semacam tempat tidur dari papan kayu ),ya saya istirahat saja di warung itu"

Warga :
"Lah terus ada masalah apa sampai terjadi keributan anda dan 2 orang ini ( FPI-red ) ??"

Pemuda:
Saya tidak tau awal mulanya terjadi keributan,saya bangun karena dengar keributan itu, saya lihat 2 orang ini mengusir beberapa anak yg rambutnya ga karuan,ya saya diam saja karena pada saat saya istirahat mereka belum ada,saya tadi hanya sendiri,saya berdiri untuk melihat ada apa,2 orang ini mengusir anak jalanan yg tadi sudah pergi,tiba tiba tampa menanyakan saya ini siapa ko maen tendang ,kebetulan tas yg saya bawa posisinya di depan,saya tidak menyangka akan di tendang seperti itu ya saya terjatuh,mereka bilang ke saya pakai bahasa jawa yg saya tidak mengerti apa yg mereka ucapkan,lalu saya bilang maaf ada apa ini ko maen tendang,dan jangan pakai bahasa jawa karena saya bukan orang jawa,terus mereka marah marah kepada saya menyuruh saya pergi dari sini untuk ikut anak jalanan tadi...saya bilang saya bukan teman mereka,belum sempat saya jelaskan mas yg satu ini nendang lagi tas saya,ya saya marah karena di dalam tas saya ada Kitab Suci AL- Quran,

FPI : "Kenapa kamu ga bilang dari awal kalau di tas kamu ada AL-Quran?"

Pemuda:
"Apa mas tadi bertanya kalau mau nendang saya ?? kan anda langsung nendang saya tampa menanyakan saya ini siapa,anda jangan menilai setiap orang itu sama hanya karena saya memakai kaos oblong bercelana pendek terus anda dengan enaknya main tendang aja"

Warga :
"Hei Dengar dulu pembicaraan masnya ini" ( warga berkata sama anggota FPI ).
Terus gimana mas??

Pemuda :
"Ya saya tanya ke orang ini,kenapa menendang saya,dan apa salah saya,mereka tetap bilang sudah ikuti teman kamu dan jangan bikin kotor kota saya sama anak berandalan kaya kamu"

FPI : "Saya tidak bilang seperti itu!"

Pemuda :
"Saya pegang Al-Quran lho ini..anda berani bersumpah di atas Al-Quran ini kalau anda tadi bilang seperti itu >???
(FPI diam ga berani jawab)

Pemuda :
"Nah mas yang nendang saya ini orang nya ko emosian,saya tanya tadi sama anda kan,kenapa anda menendang saya,anda tetap saja bilang saya berandalan..dan anda menarik tas saya untuk menyuruh saya pergi,karena saya ga mau pergi anda coba menendang lagi saya,ya sudah saya lawan saya dorong dia sambil saya bilang kalau di tas saya ada Kitab Suci Al-Quran,mas yg satu ini sudah siap mau memukul saya,saya cepat buka tas saya dan saya keluarkan Al-quran dari dalam tas saya,saya jelaskan saya anak pesantren yg lagi jalan,tapi mas yg ini emosi karena saya dorong sampai dia terjatuh,saya terangkan anda sudah berbuat zolim kepada saya dan Kitab Suci Umat Islam,karena anda tadi menendang saya pas mengenai tas saya,saya simpan tas dan Al-Quran di dipan,saya ajak mereka duduk bicara baik baik,tapi mas ini ( menunjuk orng yg menendang tas nya ) emosinya ga bisa di kendalikan,dia terus berteriak menantang saya untuk berkelahi,saya heran apa dia tidak melihat apa yg saya bawa ???"

FPI : 
"Kalau kamu anak pesantren kenapa kamu tidak berpakaian sejatinya anak pesantren?" ( dengan nada emosi )

Pemuda :
"Loh saya kan jalan kaki mas,bukan pakai kendaraan seperti anda,saya berpakaian seperti ini karena pakaian yg paling bersih untuk saya Solat,dan tidak ada salahnya saya berpakaian seperti ini,yg saya pakai masih sopan kok"

FPI :
"Kamu kenapa ga istirahat di masjid,malah tidur di warung,katanya anak pesantren !!"

Pemuda :
"Maaf mas,saya tadi sudah bilang,pakaian saya kotor,saya tidak ingin mengotori masjid meskipun itu hanya tidur di serambinya saja,masjid itu tempat untuk ibadah bukan tempat untuk tidur,anda seharusnya mengerti kan anda orang dari organisasi ke islaman,apa anda tidak di ajarkan amir anda "

FPI : ( diem kagak bisa ngomong )

Pemuda :
"Musafir itu jangan di lihat dari pakaiannya,kami para musafir justru berpakaian seadanya,kenapa ? karena bagi saya dan rata rata musafir yg berjalan kaki,pakaian yg paling bersih,sarung yg bersih,itu untuk kami pakai di saat kami menunaikan ibadah kami kepada Alloh SWT,anda mengerti itu?!" ( nunjuk ke orang FPI )

Lain kali mas,tanya dulu siapa,orang mana,jangan maen tendang aja,di agama Islam tidak di ajarkan kekerasaan seperti yang anda lakukan,anda ga pandang bulu langsung maen tendang aja hanya karena saya berpakaian seperti ini,anda masih mending saya tidak membalas tendangan anda,tanya dulu baik baik,pakai cara persuasif ( di sini ane mulai pikir ini pemuda latar belakang pendidikannya pasti tinggi )...anda jangan maen tendang maen teriak aja,coba kalau anda jadi saya bagaimana...tersingung tidak,apa lagi dengan emosi yg seperti anda,

(Para warga, dua orang FPI, dan saya pada terdiam semua mendengar "taushiyah" dari pemuda tersebut.)

Pemuda: 
"Apa perlu anda saya ajarkan dari awal ajaran agama Islam,apa perlu anda saya ajarkan hadist hadist...anda memakai aktribut seorang muslim,anda seharusnya malu dengan pakaian anda tapi kelakuan anda tidak mencerminkan seorang yg ber Agama,boleh lah kita marah sama orang yg suka mabuk,maksiat,tapi bukan dengan cara seperti kekerasan yang anda pakai. Ada orang mabuk,ajak mereka baik baik kembali ke jalan yg benar,bukan di musuhi dan di anggap sampah masyarakat,ada yg suka bermaksiat jangan di bilang orang orang murtad,justru itu kesempatan kita untuk ber ibadah dengan cara mengajak mereka kembali ke jalan yg benar,jangan pernah bosan mengajak mereka"

FPI : ( Terdiam,  mereka malah beranjak berdiri dan mau pergi)

Pemuda :
"Anda mau kemana,duduk dan dengarkan saya,saya nyantri bukan 1,2, atau 5 tahun mas,saya nyantri sudah lebih dari 15 tahun,duduk saya ajarkan ajaran Agama yg betul,

FPI : 
"Tidak perlu,sudah kalau memang tidak ada masalah saya mau pergi"

Warga :
"Loh kenapa ga mau mas mendengarkan mas nya ini tausiah"

FPI :
"Tidak perlu...sudah saya mau pergi aja"

Pemuda :
"Sudah pa biarkan saja kalau mereka mau pergi,ga ada gunanya berbicara dengan orang emosi,biarkan saja kalau mereka mau pergi,saran saya sama mas mas ini,belajar lagi Agama yg baik dan benar,jangan hanya bisa berpakaian seperti ini,tapi tindak tanduk anda jauh dari ajaran Agama. sekali lagi saya bilang,Agama tidak mengajarkan kekerasan

Akhirnya pada pergit tuh dua orang FPI tadi...sepertinya malu sama pemuda tadi yang belakangan diketahui bernama mas Muhammad Ilham ini.

Saya jadi pingin ngobrol sama mas ini,herannya dia ga mau di panggil ustadz,kata dia...kyai,gus,ustadz itu hanya panggilan aja,panggil nama saja sudah cukup,guru saya pun tidak mau di panggil seperti itu kata mas muhammad ini,gurunya cukup di panggil abah aja

Seperti itulah kejadiannya,ya obrolan antara saya,warga setempat sama mas muhammad ilham malah berlanjut sampai menjelang subuh..trus kita sama sama ke masjid kampung setempat,mas muhammad yang adzan, yang jadi imam ketua rt setempat.

(Sumber: Kaskus)

Pengaruh Pemain Muslim Dalam Sepakbola Eropa


Kehadiran pemain-pemain Muslim di Eropa semakin meningkat, dan peran mereka di dalam budaya sepakbola memberi perubahan yang signifikan.


Seperti yang diketahui, Muslim dilarang untuk melakukan judi, meminum minuman beralkohol dan juga memiliki rutinitas ibadah yang tinggi, seperti shalat dan tentu saja puasa di bulan Ramadhan. Hal-hal tersebut tentu terlihat asing di sepakbola Eropa yang terbiasa menggunakan sampanye dalam melakukan selebrasi, memanfaatkan perusahaan judi sebagai sumber pemasukan, dan lain-lain.

Namun, semakin banyaknya pemain yang beragama Islam masuk ke sepakbola Eropa dan mampu menjadi perhatian pusat dunia dengan kemampuan mengolah bola yang lihai. Mau tidak mau, membuat klub atau pengelola kompetisi sepakbola Eropa melakukan kompromi.

Salah satu contoh paling bagus untuk hal tersebut adalah Liga Primer Inggris, kompetisi sepakbola yang disebut-sebut terbaik di dunia karena sangat kompetitif. Semakin ketatnya persaingan di EPL membuat klub-klub menjelajah seluruh pelosok dunia, termasuk dari bagian-bagian daerah Afrika ataupun daerah kumuh di Prancis untuk menemukan talenta baru. 

Hal itu membuat EPL dihuni oleh berbagai macam ras, etnis manusia, dan juga kepercayaan yang berbeda-beda, termasuk penganut agama Islam.

Ketika EPL pertama kali dicetuskan pada 1992, hanya ada satu pesepakbola yang Muslim, dia adalah gelandang Tottenham asal Spanyol Nayim. Sekarang, ada 40 pemain Muslim di kasta tertinggi sepakbola Inggris tersebut.




                     Nayim, satu-satunya pemain Muslim di Liga Primer Inggris pada tahun 1992



Salah satu momen yang dimiliki pemain sepakbola untuk mengekspresikan kegembiraannya adalah ketika mencetak gol. Dan momen itu menjadi salah satu bukti kuat, menjamurnya pemain Muslim di Inggris setelah Demba Ba, Papiss Cisse, Abou Diaby, dan pemain-pemain Muslim lainnya melakukan selebrasi khas yaitu dengan sujud syukur.



Hal tersebut memantik pengakuan dari pelatih dan manajemen klub untuk memahami dan mengakomodasi kebutuhan beragama pemain mereka.



Para pemain Muslim diberi asupan makanan yang dijamin kehalalannya, memiliki opsi untuk mandi secara terpisah dengan rekan-rekan satu timnya dan juga diberikan ruang dan waktu khusus untuk menjalankan ibadah shalat.



                                    Demba Ba merayakan golnya dengan sujud syukur



Momen lain adalah ketika penganugerahan predikat Man of The Match. Sebelumnya, pemain yang mendapat predikat tersebut akan diberi hadiah satu botol sampanye.



Dan kebetulan, Yaya Toure menjadi pemain terbaik Manchester City di sebuah pertandingan. Ketika diwawancarai sebuah stasiun TV, Toure tampak ditawari sampanye oleh rekannya, Joleon Lescott, namun Toure menolak tawaran tersebut karena ia seorang Muslim.



Dan sejak saat itu, pihak pengelola kompetisi memutuskan untuk meniadakan sampanye dan memberi trofi kecil untuk pemain yang mendapatkan predikat Man of The Match.



Namun, ada tantangan tersendiri untuk bagi para pemain Muslim, salah satunya adalah ketika memasuki bulan Ramadhan.



                     Yaya Toure menyebabkan tradisi sampanye untuk Man of The Match EPL diubah



Berbeda dengan pemain-pemain Muslim yang berada di negara mayoritas Muslim di Asia, di mana pihak pengelola kompetisi akan menyesuaikan jadwalnya dengan bulan suci tersebut. Pemain-pemain  Muslim yang berlaga di Eropa mungkin akan merasa sangat kesulitan karena merekalah yang harus menyesuaikan diri dengan jadwal kompetisi.



Seperti yang diketahui, liga-liga di Eropa seperti Ligue 1 Prancis, Eredivisie Belanda, Bundesliga Jerman, Serie A Italia, Primera Liga Spanyol atau Liga Primer Inggris sangat teratur dalam hal jadwal. Sehingga tidak mungkin mengubah atau menyesuaikan jadwal kompetisi selama hampir satu bulan penuh.



Beberapa pemain memaksa untuk berpuasa setiap hari. Pemain lain mungkin berpuasa di hari latihan tetapi tidak di hari pertandingan. Klub biasanya melakukan kompromi, tetapi tetap bukan periode yang mudah bagi pelatih ataupun sang pemain.



"Saya berusaha menghargai agama saya dan mengikutinya sebaik yang saya bisa," ujar Kanoute ketika masih membela Sevilla. "Terkadang sulit untuk tetap berpuasa karena di Spanyol bagian Selatan sangat panas, tetapi saya dapat melakukannya, saya bersyukur pada Tuhan."



Pada 2009, juga sempat terjadi sedikit 'insiden' di Italia saat pertandingan antara FC Internazionale menghadapi Bari yang bertepatan dengan bulan Ramadhan. Jose Mourinho, ketika masih menangani Inter, mengganti Sulley Muntari, yang memilih tetap terus berpuasa meski hari pertandingan, ketika pertandingan hanya berjalan setengah jam.



              Sulley Muntari, salah satu pemain yang memilih terus berpuasa di hari pertandingan



Mourinho kemudian mengatakan bahwa Ramadhan tidak datang di waktu ideal bagi pemain untuk bermain sepakbola. Komentar itu menimbulkan kritikan luas, yang akhirnya membuat Mourinho memberi klarifikasi.



"Keputusan Muntari tidak untuk dikritik karena itu pertanyaan kepercayaan dan agama. Itu berarti saya menerimanya. Saya tidak pernah mengatakan Muntari harus melupakan agamanya dan berlatih," ujar Mou.



Hal yang sama juga dilakukan oleh gelandang Arsenal Abou Diaby dan striker Newcastle Unite Demba Ba. 
Diaby mengatakan: "Arsenal lebih menginginkan saya untuk tidak puasa, tetapi mereka memahami ini adalah momen spesial untuk saya dan mereka berusaha mengakomodasi hal-hal agar membuat saya lebih baik."



Sementara, Ba mengakui dia memiliki beberapa masalah dengan pelatih terkait Ramadhan, tetapi dia mengatakan tetap bertahan untuk berpuasa.



"Setiap kali saya memiliki pelatih yang tidak gembira dengan hal itu, saya mengatakan: 'Dengar, saya akan melakukannya [berpuasa]. Jika performa saya masih bagus, saya tetap bermain, jika buruk maka Anda bangku cadangkan saya, demikian.'"



Beberapa Pemain Muslim Top Di Eropa
NamaKlubNegara
Mesut OzilReal MadridJerman
Sami KhediraReal MadridJerman
Karim BenzemaReal MadridPrancis
Franck RiberyBayern MunichPrancis
Demba BaNewcastle UnitedSenegal
Papiss CisseNewcastle UnitedSenegal
Yaya ToureManchester CityPantai Gading
Samir NasriManchester CityPrancis
Edin DzekoManchester CityBosnia
Kolo ToureLiverpoolPantai Gading
Samir HandanovicFC InternazionaleSlovenia
Abou DiabyArsenalPrancis
Bacary SagnaArenalPrancis
Ibrahim AffelayBarcelonaBelanda
Miralem PjanicAS RomaBosnia



Beberapa pemain juga memilih untuk melakukan kompromi. Nicolas Anelka mengatakan awalnya dia terus berpuasa seperti yang lain, tetapi ia mengatakan:  "Saya menyadari saya kerap mengalami cedera setelah beberapa periode Ramadhan, jadi saya tidak melakukannya dengan ketat lagi."



Demikian juga dengan Marouane Chamakh. "Saya tidak memiliki masalah berpuasa saat Ramadhan, ini menjadi normal. Sehari sebelum pertandingan dan di hari pertandingan saya tidak berpuasa, tetapi saya mengganti hari itu di hari yang lain."



Beruntung Ramadhan tahun ini berakhir pada 7 Agustus, atau sebelum bergulirnya kebanyakan kompetisi di Eropa.



Sponsorship juga menjadi bagian dari masalah. Tim dengan sponsor judi dan peminjaman uang di jersey mereka, membuat pemain Muslim berada dalam posisi sulit, itu karena mereka juga digunakan untuk mempromosikan aktivitas yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.



Yang paling tenar tentu saja sikap Frederic Kanoute yang sempat menolak untuk mengenakan jersey tim yang disponsori oleh perusahaan judi, yang artinya membuat klub harus menyediakan jersey tanpa sponsor untuknya.



Namun, pemain asal Mali tersebut akhirnya bersedia memakai jersey dengan sponsor dengan syarat dirinya tidak dilibatkan dalam promosi publik perusahaan judi tersebut.



Dan yang terbaru terjadi di Newcastle United, striker Cisse mengatakan dia berencana untuk berbicara dengan klub  dan sponsor mereka, Wonga, karena dia khawatir kepercayaannya sebagai seorang Muslim akan terganggu jika dia terlihat mempromosikan perusahaan itu.



              Frederic Kanoute sempat menolak mengenakan jersey dengan sponsor perusahaan judi



Striker Crewe Nathan Ellington, yang juga pernah bermain untuk Wigan Athletic dan West Bromwich Albion, menilai hal itu di luar kendali sang pemain.



"Saya pikir itu biasanya di luar kendali pemain Muslim. Meskipun dia tidak dibolehkan untuk berjudi, itu adalah hal yang tidak dapat benar-benar Anda kendalikan," ujarnya.



Kiper Wigan, Ali Al-Habsi juga mengutarakan pendapat yang sama: "Kami adalah pemain dan hal-hal seperti ini datang dari klub. Kami tidak dapat melakukan apapun terhadapnya, kami hanya melakukan tugas kami."




"Arsenal  memahami Ramadhan adalah momen spesial untuk saya dan mereka berusaha mengakomodasi hal-hal agar membuat saya lebih baik."

Abou Diaby


Sumber: Goal.Com Indonesia