BREAKING NEWS
latest

728x90

header-ad

468x60

header-ad
Tampilkan postingan dengan label Zona Jihad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zona Jihad. Tampilkan semua postingan

Bom Bunuh Diri Meledak di Masjid Baghdad, 33 Orang Tewas

SUARA-MUSLIM.COM, Baghdad ~ Serangan bom bunuh diri dengan menggunakan mobil terjadi di sebuah masjid di Kota Baghdad, Irak, Rabu malam (11/9/2013). Ledakan bom yang terjadi di wilayah Kasra, barat laut Baghdad ini menewaskan sedikitnya 33 orang.

Aksi pengeboman ini terjadi ketika orang-orang meninggalkan masjid, setelah menunaikan shalat Isya. Pelaku sengaja melakukan bom bunuh diri tepat di tengah-tengah jamaah.

Warga yang berada di dekat kejadian, bergegas membantu korban terluka. Seperti dilaporkan Reuters, setidaknya 55 orang terluka dan beberapa di antaranya dalam keadaan kritis.

Sementara itu, polisi Irak berhasil menggagalkan pelaku pengeboman bunuh diri kedua. Tertangkapnya calon pelaku bom bunuh diri memicu kemarahan warga. Massa yang marah pun menghakimi pelaku hingga tewas.

Belum diketahui secara jelas siapa di balik bom bunuh diri ini. Namun, militan Islam Sunni radikal sering melakukan teror menyerang warga Syiah, yang menurut pandangan mereka, Syiah telah melakukan penyimpangan agama.

Sudah lebih dari dua tahun perang saudara terjadi di Suriah, yang tak lain adalah negara tetangga Irak. Kondisi ini menularkan ketegangan ke Irak. Dilaporkan, lebih dari 800 orang tewas dalam serangan-serangan yang terjadi selama Agustus silam.

Sumber: Sindonews

Di Mata Teroris, Polisi Sangat Jahat




SUARA-MUSLIM.COM, Semarang ~ Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) belum berani memastikan apakah penembakan Bripka Sukardi di depan Gedung KPK dilakukan oleh teroris. Untuk memastikan masyarakat diminta untuk tidak berspekulasi siapa pelaku teror tersebut.

"Perbuatan teror. Tetapi apakah masuk kelompok teroris, nah itu tunggu. Tunggu saja penyelidikan," ujar Kepala BNPT Ansyaad Mbai usai menjadi pembicara di acara Seminar Nasional Penanggulangan Terorisme: Antara Menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Penegakan Hak Asasi Manusia di Hotel Shantika Premiere, Jl Pandanaran Kota Semarang, Kamis (12/9).

Soal adanya rekaman CCTV di gedung KPK dalam tragedi penembakan itu, Ansyaad tidak berani berspekulasi dan tidak berani menentukan apakah itu perbuatan teroris atau bukan. Apalagi, CCTV yang terekam dan kejadianya di waktu malam hari.

"Itu belum jelas kalau CCTV apalagi malam hari, baru dugaan-dugaan. Yang pasti nanti kalau orangnya sudah ketemu. Siapa yang megang motor itu terakhir kemudian dia serahkan siapa kan jadi DPO. Ini saja belum tertangkap. Mungkin saja bisa itu. Mungkin saja bisa lain," ungkapnya.

Namun, Ansyaad berkeyakinan jika aksi penembakan terhadap polisi sebelum di Gedung KPK yaitu di Ciputat, Cirendue dan Pondok Aren merupakan aksi teroris. Terutama terkait kelompok Abu Roban dengan kaki tanganya Santoso. Keduanya merupakan kelompok teroris Poso sisa-sisa dari kelompok teroris Aceh.

"Bisa saja yang terakhir ini ada kaitanya dengan yang dikerjakan terakhir. Tapi yang tiga di belakang Ciputat, Cirendue dan Pondok Aren itu jelas teroris kelompok dari Abu Roban dan berkaitan dengan Santoso dan itu berkaitan semua. Termasuk yang ini merupakan sisa-sisa yang belum tertangkap. Kita kejar, kita harus waspada. Ancaman teroris masih sangat serius, masih sangat serius," katanya.

Aksi dari kelompok Santoso dan Abu Roban ini tergolong berani bahkan bisa dibilang nekat. Sebab, mereka mencari sasaranya polisi.

"Bukan saja berani, kalau teroris memang nekat. Orang mereka cari mati kok. Tetap dan tidak berubah sasarannya. Toghut yang paling jahat di mata teroris ya polisi. Lagi enak-enak buat bom ditangkap sama polisi. Lagi enak-enak bunuh orang ditangkap. Ini paling jahat polisi di mata teroris. Tapi itu bukan di Indonesia saja di Irak, di Yaman, di Mesir itu begitu semua," katanya.

Ansyaad menjelaskan, upaya pemberantasan teroris di Indonesia saat ini mengalami kendala. Selain cara kerja teroris sangat rapi, juga pihak aparat kepolisian seperti Densus 88, saat menangkap teroris dianggap menindak aktivis agama.

"Hambatan kita utama itu, setiap menangkap kelompok teroris selalu dicap kita menindak aktivis agama. Jadi kita serba hati-hati," katanya.

Redaktur : Abu Umar
Sumber : Merdeka

Jihad Bukan Teror, dan Terorisme Bukan Jihad!

SUARA-MUSLIM.COM, Semarang ~ Terorisme adalah produk masyarakat. Terorisme bukan hanya masalah hukum dan keamanan, namun merupakan masalah politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Kejahatan ini tak boleh hanya dilihat sebagai polisi baku tembak melawan teroris. Penanggulangannya, harus melibatkan semua pihak, tak terkecuali masyarakat. Karena negara tak boleh kalah melawan terorisme.

Data yang dilansir Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sejak peristiwa pemboman di Indonesia sekira sejak tahun 2000 hingga sekarang, tercatat 900 teroris ditangkap.

600 di antaranya diseret ke meja hijau pengadilan, dan 300 sisanya sudah keluar setelah menjalani hukuman.

Kepala BNPT, Ansyaad Mbai, mengatakan terorisme adalah ancaman terbesar bangsa ini. Hal itu akan semakin bertambah jika teroris menganggap hanya berhadapan dengan polisi, dari BNPT atau Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror.

“Teroris adalah menggurita di Indonesia. Perlu dipahami bersama bahwa terorisme adalah berbahaya. Saya bicara realita di lapangan. Memang faktanya, tiap teroris yang kami pegang ternyata aktivis masjid, tidak diduga. Ini juga membuat polisi bingung, siapa yang mencekoki seperti itu,” katanya saat menjadi pembicara SEMINAR NASIONAL; Penanggulangan Terorisme Antara Keutuhan NKRI dan Penegakan HAM di Semarang, Kamis (12/9/2013).

Untuk persoalan ini, kata dia, pihaknya sudah membuat berbagai strategi. Mulai dari pencegahan termasuk deradikalisasi, penindakan, kesiapsiagaan hingga menggalang kerjasama internasional.

“Terorisme adalah musuh bersama, bukan hanya polisi. Karena tindakannya mengancam keutuhan NKRI. Masyarakat harus memahami ini. Informasi sekecil apapun sangat berguna bagi kami. Negara tidak boleh kalah melawan terorisme,” tandasnya.

Guru Besar Emeritus Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Prof Muladi, berargumen akar penyebab terjadinya terorisme adalah radikalisme, ekstremisme atau fundamentalisme, khususnya dengan latar belakang agama.

“Kejahatan semacam ini adalah produk sosial. Kelompok – kelompok teroris mengeksploitasi penderitaan umat manusia dan solidaritas agama dengan berbagai akibat atas tindakan teror itu,” tambahnya.

Namun demikian, kata Muladi, dalam pemberantasannya tidak boleh bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Karena sudah ada berbagai resolusi internasional terkait ini.

Muladi mencontohkan, adanya Resolusi PBB 1456 tahun 2003, tentang memerangi terorisme harus taat pada kewajiban internasional, HAM dan hukum humaniter.

“Dari sisi hukum pidana internasional juga terdapat 13 konvensi internasional untuk mencegah dan memerangi terorisme. Sering disebut sectoral instruments. Ini tentang pengaturan aspek – aspek khusus terorisme.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Sub Komisi Pemantauan dan Penyelidikan Pelanggaran HAM, Komnas HAM RI, Natalius Pigai, berargumen penindakan terorisme ini seringkali dilakukan dengan cara – cara teror.

Cara – cara polisi langsung menembak mati atau kekerasan lainnya dianggap sama halnya dengan apa yang dilakukan teroris.

“Tentu harus kedepankan azas praduga tak bersalah. Ini belum tersangka, masih dicurigai langsung ditembak. Catatan kami, sejak 2002 hingga sekarang ada 83 tersangka teroris yang mati ditembak aparat,” timpalnya.

Hal itu, kata Pigai, bukan tidak mungkin akan membuat aksi teror terus berlanjut. Karena bukan tidak mungkin, aksi – aksi kekerasan semacam itu memicu aksi balas dendam.

“Sudah sangat banyak laporan yang masuk ke kami. Aduan. Tak terkecuali yang terjadi di Jawa Tengah, khususnya Solo itu sangat banyak. Rata – rata mereka mendapat perlakuan pelanggaran di TKP (Tempat Kejadian Perkara) hingga saat dibawa ke Polda,” tambahnya.

Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah, Prof. Ahmad Rofiq, yang juga jadi pembicara seminar, mengatakan problema paham atau aliran yang mengancam nasionalisme adalah munculnya radikalisme ekslusif, merasa benar sendiri dan menyalahkan lainnya.

“Jihad bukan teror, dan tindakan terorisme bukan jihad,” tandasnya.

Redaktur: Luqman
Sumber: Sindonews

Semarang Gelar Razia Untuk Persempit Gerak Teroris




SUARA-MUSLIM.COM, Semarang ~ Sejumlah kendaraan roda empat yang melintas di Mapolsek Pedurungan Semarang dihentikan oleh aparat kepolisian bersenjata. Satu persatu kendaraan diperiksa dengan seksama di setiap sudut kendaraan untuk mencegah aksi terorisme.

Razia tersebut dilakukan sejak pukul 00.00 WIB dini hari hingga nanti pukul 03.00 WIB dengan membelokkan mobil ke halaman Mapolsek Pedurungan dan menyuruh truk untuk menepi. Kendaraan-kendaraan itu kemudian diperiksa surat kelengkapannya serta barang bawaan yang diangkut.

"Perintah pimpinan, untuk masing-masing Polsek melakukan razia sajam, senpi, KTP, termasuk barang-barang bawaan," kata Kanit Reskrim Polsek Pedurungan, AKP Benny Hartawan di Jalan Brigjen Sudiarto, Semarang, Jumat (13/9/2013).

Mayoritas pengendara mobil yang dicegat polisi sempat terlihat kaget, namun setelah petugas memberi tahu maksud dan tujuan menghentikan mobil yang melintas, para pengendara hanya bisa pasrah dan membiarkan petugas memeriksa setiap sudut pengendara.

Salah satu sopir truk pengangkut oli, Samsul (41) justru mendukung razia polisi tersebut, menurutnya dengan razia rutin maka masyarakat akan merasa lebih aman.

"Saya kerja cari nafkah. Senang saja jika ada seperti ini, merasa lebih aman dan tidak ada teroris," ujar Samsul.

Meski sudah dilakukan razia terhadap puluhan mobil dan truk, untuk hari ini razia yang dilakukan petugas Polsek Pedurungan tidak membuahkan hasil. Benny menambahkan, pihaknya akan terus melakukan razia serupa setiap hari.

"Hasil pemeriksaan masih nihil. Akan dilakukan tiap hari sampai mungkin ditemukan pelaku terorisme," tandasnya.

Menurut Benny, razia tersebut juga berkaitan dengan peristiwa yang menimpa Bripka Sukardi, anggota Provos Satuan Polair Baharkam Polri yang tewas ditembak orang tak dikenal di depan gedung KPK Jakarta saat mengawal 6 truk tronton dari Tanjung Priok, Jakarta Utara ke Kuningan, Jakarta Selatan hari Selasa (10/9) malam lalu.

"Yang jelas terkait kejadian di Jakarta, ini untuk mempersempit pergerakan teroris," tegasnya.

Redaktur : Abu Muhammad
Sumber: Detiknews

Teroris Poso Dalangi Aksi Penembakan Polisi


SUARA-MUSLIM.COM, Poso ~ Rentetan aksi penembakan yang menewaskan anggota polisi diduga didalangi jaringan teroris asal Poso, Sulawesi Tengah.

"Pelaku penembakan yang ada di Jakarta diawasi oleh teroris dari Poso," kata Pengamat militer dan intelijen Wawan Purwanto melalui sambungan telephone, Kamis (12/9/2013).

Selain itu, kata Wawan, masih banyak kelompok teroris yang berkeliaran di Indonesia. Walaupun begitu, dia menduga, aksi teror ini dilakukan oleh kelompok Abu Roban yang diduga masih berada di Poso.

Karena, katanya, Abu Roban sempat menyatakan perang secara terbuka kepada kepolisian melalui video streaming Yotube beberapa waktu lalu.

"Ini kelompok Abu Roban yang masih berad di Poso. Jadi kelompok Poso yang memonitoring," 

Redaktur : Abu Umar
Sumber: Sindonews

Penembak Polisi Adalah Teroris Jaringan Lokal


SUARA-MUSLIM.COM, Bandung ~ Kriminolog dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yesmil Anwar menilai, penembakan anggota polisi yang terjadi di depan gedung KPK, Selasa (10/9/2013) malam tadi merupakan sebuah bentuk akumulasi kekecewaan terhadap penegakan hukum di Indonesia. 
"Saya melihat ini adalah suatu rentetan dari ketidakpuasan kepada negara kita, khususnya dari penegakan hukum, yang membuat posisi penegak hukum ada dalam titik nadir," kata Yesmil saat ditemui seusai acara peringatan Dies Natalis ke-56 Unpad di Aula Graha Sanusi Hardjadinata di Jalan Dipati Ukur, Kota Bandung, Rabu (11/9/2013). 
Yesmil menduga, ada perubahan kepentingan ketika teror justru ditujukan kepada aparat penegak hukum. Saat ini, kata dia, jaringan terorisme di Indonesia sudah tidak lagi merujuk pada sebuah ideologi seperti Islam. 
"Teroris ini bukan lagi sebagai ideologi, misalnya Islam, tetapi sudah merupakan sikap orang melakukan teror terhadap sesuatu. Teror ini ingin mengacaukan agar negara ini tidak mampu untuk bekerja dengan baik," ucapnya. 
Bicara terorisme di Indonesia sekarang ini, kata Yesmil menambahkan, sudah bukan lagi bagian dari terorisme internasional. Secara sporadis terorisme internasional sudah melebur menjadi terorisme di negara masing-masing dengan motif yang berbeda-beda. 
"Terorismenya saat ini sudah tidak lagi bersifat global, tapi sekarang sudah terorisme bersifat regional bahkan lokal," terangnya. 
Menurut Yesmil, setelah meleburnya jaringan teroris internasional menjadi jaringan regional, ada warisan unsur-unsur dendam yang ditanamkan dari para dedengkot terorisme. Yesmil mencontohkan, unit pemberantasan teroris yaitu Densus 88 yang kerap kurang teliti melakukan penyergapan. Bahkan, lanjutnya, Densus acap kali justru mengganggu keadaan masyarakat. 
"Kalau saya lihat, polisi ini langsung berhadapan dengan masyarakat. Waktu berinteraksi, banyak sekali hal-hal yang dilakukan polisi yang justru menggugah rasa ketidakadilan di masyarakat," jelasnya. 
"Konteks sakit hati ini yang dilakukan oleh berbagai pelaku teror, bisa dituangkan melalui sikap seperti penembakan kepada individu. Jadi perubahan ini harus diantisipasi oleh pemerintah dalam hal ini penegak hukum yaitu kepolisian," sambungnya.

Sumber: Kompas

Kelompok Abu Omar Diduga Terkait Penembakan Polisi Akhir-akhir Ini



SUARA-MUSLIM.COM, Jakarta ~ Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Ansyaad Mbai mengakui ada dugaan bahwa serangkaian penembakan polisi dua bulan terakhir ini merupakan aksi kelompok Abu Omar. Hal ini dia sampaikan dalam wawancara khusus dengan Majalah Tempo, akhir Agustus 2013 lalu. 


Menurutnya, ada kemiripan antara satu insiden penembakan dengan yang lain. "Peluru itu kan bisa dilihat dari selongsongnya, proyektilnya. Ada identitas di situ. Dari situ dilihat ada kemiripan," katanya. 



Meski begitu, Ansyaad menolak memastikan bahwa polisi menemukan ada tulisan PNP (Philippine National Police) pada peluru di tempat kejadian perkara. "Detail seperti itu tak bisa dijelaskan," katanya.



Ciri-ciri di peluru itulah yang membuat polisi menduga kelompok Abu Omar terlibat. Pada 2011, Abu Omar ditangkap karena memasukkan senjata dari Filipina. "Abu Omar sudah terlalu banyak terekam jejaknya. Dia pengendali. Dia yang hendak membunuh Menteri Pertahanan Matori Abdul Djalil," kata Ansyaad. 



Abu Omar juga terlibat pengeboman Masjid Istiqlal pada akhir 1990-an. Setelah jaringan teroris dilumpuhkan di banyak tempat, kata dia, Abu Omar berusaha membangun sisa jaringan lama di Jakarta dan sekitarnya.



"Dia punya banyak kaki tangan. Misalnya ada Abu Roban, Qodrat, dan Sofyan. Mereka membentuk kelompok baru," kata Ansyaad lagi. Kelompok inilah yang berhubungan dengan kelompok teroris di Sulawesi Selatan, Poso, dan Bima. 



Menurut Ansyaad, untuk bertahan, kelompok Abu Omar membentuk kelompok-kelompok kecil. "Kami sebut sel atau halaqoh. Dua-tiga orang bikin satu halaqoh. Orangnya itu-itu juga, tapi mereka pun merekrut orang baru," katanya. Di sekitar Jakarta, kata dia, ada belasan kelompok seperti itu. 

Sumber : Tempo
Foto : Tempo

Diduga Kuat Dalang Penembakan Polisi, Siapa Abu Omar?


SUARA-MUSLIM.COM, Jakarta ~ Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai menduga aksi penembakan polisi belakangan ini didalangi oleh kelompok Abu Omar. Ini ditegaskan Ansyaad dalam wawancara khusus dengan majalah Tempo akhir Agustus 2013 lalu. Tapi siapa Abu Omar ini?

Terpidana kasus terorisme, Abu Omar, pertama kali ditangkap polisi pada 4 Juli 2011 karena membawa belasan pistol dan senapan dari Filipina. Ia divonis 10 tahun penjara dan kini ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta Timur. 

Omar membawahkan tiga kelompok besar. Tiap kelompok dipimpin tiga orang kepercayaannya, yakni Abu Roban, Qodrat, dan Ahmad Sofyan. 

Setelah Omar ditangkap, anak buah ketiga kelompok ini kocar-kacir. Abu Roban tewas saat digerebek Densus 88 pada Mei 2013 lalu. Qodrat juga ditembak mati. Sedangkan Sofyan ditangkap dan kini ditahan di Cipinang bersama bosnya, Abu Omar.

Sayangnya, pengacara Omar, Asludin Hatjani, menolak berkomentar. Dihubungi akhir Agustus 2013 lalu, dia menolak memberikan waktu untuk wawancara.

Sumber : Tempo

Faham Islam Radikal Menyasar ke Mahasiswa Baru di Kampus



SUARA-MUSLIM.COM, SoloFenomena gerakan Islam radikal yang merambah ranah kampus, membuat prihatin kalangan mahasiswa Nahdliyyin di Solo, Jawa Tengah. Gerakan tersebut menjadi benih-benih munculnya kelompok Islam garis keras dari kalangan akademis.

Ahmad Rodif, salah satu mahasiswa universitas negeri di Solo yang pernah merasakan hal tersebut secara langsung, belum lama ini menuturkan pengalamannya kepada NU Online. Dia mulai merasakan atmosfer yang berbeda ketika mulai menjadi mahasiswa baru.

Di kampus tempatnya kuliah terdapat program asistensi agama Islam (AAI) yang wajib diikuti mahasiswa baru. Kegiatan tersebut menurutnya menjadi salah satu celah doktrinasi gagasan kelompok Islam garis keras. Program serupa juga diadakan di banyak universitas beken dengan nama yang berbeda.

“Ketika jadi mahasiswa baru, dulu amaliyah yang saya bawa dari rumah dianggap sesat bid’ah tidak ada tuntunannya. Yang mereka gagas cenderung menimbulkan keresahan, mereka mengajarkan apakah tahlilan, dzikir bersama, ziarah itu bid’ah,” tutur Rodif yang juga kader PMII Solo itu, Jumat (30/8).

“Kelompok yang berbeda paham dengan mereka disalahkan dan mesti ‘diluruskan’,” imbuhnya.

Gagasan yang disampaikan murobbi-nya (semacam mentor dalam sebuah kelompok AAI menjurus ke pemahaman yang keras. Misal saat di Indonesia banyak terjadi kasus disintegrasi bangsa, mereka memandang dari sisi agama semata, kelompok islam dan bukan islam. Akan tetapi tapi mereka tidak memandang bahwa mereka juga bangsa Indonesia yang punya hak yang sama.

Upaya Meredam

Sayangnya banyak dari mahasiswa baru, yang kemudian termakan doktrinasi mereka. Bahkan, sebagian dari mereka adalah kalangan muda Nahdilyyin. Rodif mengisahkan, ada salah seorang temannya yang berasal dari keluarga NU, setelah ikut salah satu organisasi di kampus, sikap dan pemikirannya berubah 180 derajat.

“Yang dia lakukan, dia mencoba untuk menyampaikan yang dia ketahui kepada teman kampus dan keluarga, yakni ‘menyadarkan’ kepada mereka, bahwa tradisi yang mereka lakukan itu ada yang salah,” kata Rodif.

Bahkan, ketika ditanya oleh Ibunya tentang perubahan sikapnya, ia hanya menjawab bahwa hal itu sudah menjadi jalan hidupnya.

Melihat fenomena tersebut, Rodif bersama teman-temannya kemudian mencoba untuk meredam gerakan doktrinasi tersebut. Dirinya mengaku belum mampu untuk sampai menghentikan kebijakan AAI, selain karena sudah menjadi kebijakan kampus, juga minimnya perhatian dosen dari kalangan NU. 

Rodif bersama bersama kader PMII yang lain, mencoba untuk menyebarkan pandangan Islam yang ramah, melalui kajian yang mereka adakan atau dengan menempel pamflet. “Kebetulan saya aktif di PMII, kami membentengi mahasiswa baru. Kita sampaikan bahwa siapapun orangnya, apapun latar belakangnya, mesti memiliki pandangan Islam Rahmatan lil Alamin,” pungkasnya.

Sumber: NU Online
Foto: icrp

Desakan FPI Agar Densus 88 Dibubarkan Sangat Tidak Berdasar


SUARA-MUSLIM.COM, Jakarta - Munas Front Pembela Islam (FPI) membuahkan sebuah pandangan guna mendesak Densus 88 Antiteror Polri dibubarkan dengan alasan telah banyak melanggar aturan hukum dan kemanusiaan saat melakukan aksi.
Menyikapi hal tersebut, Markas Besar Kepolisian Indonesia (Mabes Polri) menganggap bahwa pernyataan FPI tersebut tidak berdasar.
"Silahkan saja tanya kepada masyarakat karena mendirikan Densus 88 kan melalui peraturan Kapolri dan peraturan Kapolri itu juga atas persetujuan kementerian yaitu merupakan kebutuhan negara artinya kebutuhan negara, itu dikaitkan dengan perkembangan situasi keamanana di suatu negara," kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Ronny Franky Sompie di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (26/8/2013).
Dikatakan Ronny, apa yang Densus 88 kerjakan selama ini justru dijadikan contoh negara-negara lain dalam hal pemberantasan aksi terorisme.
Kepolisian masih belum melihat adanya upaya secara simultan bersama unsur masyarakat untuk memerangi kasus terorisme termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) layaknya dalam pemberantasan korupsi.
"Justru sekarang ini kita bisa membangun secara bersama kewaspadaan secara nasional  terhadap kasus-kasus terorisme. Itu yang perlu dibangun, sehingga ada upaya sinergi dan komprehensif. Tidak hanya salah satu unsur katakanlah densus 88 semata. Kita punya BNPT dibawah koordinasi BNPT Densus 88 sebagai salah satu unsur penyidik penegak hukumnya, sedangkan pencegahan, penanggulangan teror itu kan menyangkut pencegahan kemudian pemberantasan, kemudian rehab, kalau dilakukan secara sinergi dan komprehensif disitulah baru masyarakat bisa melihat bagaimana unsur Densus perannya selama ini," papar Ronny.
Serangan terhadap Densus belakangan ini diakibatkan Densus merupakan pihak yang paling intens menangani kasus teroris, sehingga Densus 88 termasuk anggota Polri didalamnya menjadi target teoris.
Bila sudah ada sinergitas dalam masyarakat dalam pemberantasan terorisme, maka tidak akan ada pernyataan-pernyataan pembubaran Densus 88 seperti yang diungkapkan FPI.
"Persoalannya kalau  kita semua ada sinergitas secara komprehensif dan bersama-sama memerangi teroris, maka tidak akan ada pernyataan-pernyataan seperti itu. Apakah kita lihat terorisme ini menjadi hal yang harus diberantas atau tidak, kita tanyakan lagi pada masyarakat. Seperti saya katakan tadi tanya pada masyarakat, tanya pada seluruh warga Indonesia bagaimana?," ungkap Ronny.
Kebutuhan adanya Densus 88 merupakan kebutuhan negara. Sebuah tindak pidana yang menjadi musuh bersama tersebut harus didukung semua elemen masyarakat.
"Apabila upaya dari lembaga yang diberikan kewenangan untuk menangani kasus itu, kemudian mengganggu, kemudian kita katakan upaya pemberantasan terhadap teroris kemudian diganggu, ini bagaimana?, kenapa anda tidak tanya pada masyarakat Indonesia. Karena saat ada gangguan terhadap upaya pemberantasan teroris siapa yang berada dibelakangnya, siapa yang berada dibelakang Densus atau Polri untuk memberantas terorisme, apakah kemudian dibiarkan kepolsian sendirian, nah itu pertanyakan harus jawab," ungkapnya. [AU/ tribunnews]

Jihad Harus Diimbangi Pemahaman Memadai


SUARA-MUSLIM.COM, Kendal ~ Semangat jihad yang menggebu-gebu sebagian umat Islam harus diimbangi dengan pemahaman agama yang memadai. Keseimbangan antara keduanya diperlukan agar dakwah efektif dan tepat sasaran, tidak  justru menimbulkan masalah baru .

Demikian dikatakan ketua PWNU Jawa Tengah, DR. H. Abu Hafsin, MA saat memberikan taushiah dalam acara Halal Bihalal dan Temu Potensi Kader NU di Pendopo Kabupaten Kendal, pada Ahad(25/8).

Dikatakan Abu Hafsin keseimbangan antara semangat jihad dengan pemahaman agama sangat dibutuhkan agar tidak terjadi pemahaman yang salah tentang jihad itu sendiri. Oleh karenanya Nahdlatul Ulama sebagai ormas yang konsisten memperjuangkan Aswaja selalu memperhatikan nilai-nilai  tawasuth, tasamuh dan i’tidal  yang menjadi landasan berpijak dalam berdakwah.

“Jangan sampai ketika terdengar teriakan Allahu Akbar kemudian diiringi dengan suara kaca pecah,” tegasnya, disambut tawa hadirin.

Lebih lanjut Abu Hafsin mencontohkan bagaimana KH Hasyim Asy’ari   mengobarkan semangat jihad kepada para santri dan rakyat Surabaya untuk melawan pejajah. Menurutnya dalam peristiwa itu menunjukkan bagaimana tingginya nasionalisme KH. Hasyim Asy’ari kepada negara ini. 

“Meskipun beliau tahu bahwa Indonesia bukanlah negara Islam, namun ia bersama dengan santri dan rakyat Surabaya rela mempertaruhkan jiwa raganya demi untuk membela tanah tumpah darahnya,” simpulnya.

Ia menambahkan, kelenturan dakwah yang dilakukan NU telah berhasil. NU bisa bertahan sampai saat ini dan bahkan bertambah semakin besar serta membawa berkah bagi bangsa Indonesia. Oleh karenanya ia berharap kebesaran NU harus terus dijaga dan dilestarikan oleh generasi berikutnya.

Sementara itu Ketua PC NU Kendal KH. Muhammad Danial Royyan berharap para kader NU yang tersebar di berbagai lini kehidupan baik ekonomi, politik mapun pendidikan bahu membahu untuk membesarkan NU di Kendal dan saling membantu  satu sama yang lain. 

[au/ nu online]

TNI Siap Bantu Polri Atasi Teror

Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal Moeldoko-- (Foto: MetroTVNews.com)

SUARA-MUSLIM.COM, Jakarta: Sejumlah teror terhadap anggota Polri yang santer terjadi belakangan ini turut menjadi perhatian TNI AD. 

Hal itu disampaikan KSAD Jenderal Moeldoko saat ditemui dalam acara Karya Bhakti Pembersihan Ciliwung, Jakarta, Rabu (14/8). Pihaknya menyatakan akan turut membantu menjaga dan memelihara keamanan anggota kepolisian karena sudah merupakan tradisi antara TNI dan Polri untuk saling menjaga.

"Kita sudah tradisi, antara TNI dan Polri saling menjaga dan memelihara," jelas Moeldoko.

Pihaknya juga tidak tinggal diam jika ada anggota kepolisian yang diteror. Dukungan konkret TNI kepada Polri diwujudkan baik secara perorangan maupun melalui kantor.

"Bentuk konkretnya, misalnya kalau Pangdam, atau Darem di lapangan kalau kunjungan ke daerah-daerah pasti akan melakukan kunjungan ke kantor polri, pasti itu dan sudah tradisi," tutup Moeldoko. 

Sumber: metrotvnews

PBNU Serahkan Data 12 Yayasan Berpaham Radikal


(Foto: pekanbaru.co)

SUARA-MUSLIM.COM, Surabaya ~ Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah menyerahkan data terkait dengan keberadaan 12 yayasan berpaham radikal kepada pemerintah untuk ditindaklanjuti.


"Kami telah merekomendasikan ke-12 yayasan itu agar dipantau gerakannya, bahkan sebaiknya dibubarkan saja," kata Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj setelah melantik kepengurusan PWNU Jatim 2013--2018 di Surabaya, Kamis.


Dalam pelantikan pengurus baru yang dirangkai dengan halalbihalal bersama pengurus NU se-Jatim itu, dia menjelaskan bahwa ke-12 yayasan itu tersebar di beberapa daerah di Indonesia.


"Ada di Surabaya, Cirebon, Bondowoso, Bogor, Makassar, Bandar Lampung, Mataram, Jakarta, dan Sukabumi," katanya.


Menurut dia, ke-12 yayasan tersebut mengajarkan aliran Wahabi yang sebenarnya bukan teroris, tapi radikal. Akan tetapi, bila diartikan secara salah, justru bisa mengarah kepada teroris.


"Wahabinya bukan teroris, tetapi ajarannya yang radikal itu jika dipoles sedikit bisa mengarah ke teroris. Buktinya, pentolan teroris di Indonesia bersumber dari situ semua," katanya.


Selain menyerahkan data-data itu kepada Pemerintah, PBNU juga telah menginstruksikan kepada semua pengurus NU dari ranting, cabang, hingga wilayah untuk mewaspadai aliran itu.


"Kita hanya bisa menjaga agar warga NU, terutama anak-anak muda agar tidak tertarik kepada mereka. Itu yang akan kita jaga dengan memberi pemahaman yang benar," katanya.


Ditanya validitas data ajaran ke-12 yayasan yang bisa mengarah kepada teroris, dia menjamin data yang dimiliki PBNU adalah valid. "Masak, saya asal ngomong, ya, tentu ada datanya," katanya.


Dalam acara yang tidak dihadiri satu pun dari Cagub Jatim itu, dia mengatakan bahwa PBNU akan selalu mendukung langkah Pemerintah untuk memerangi aksi teroris di Indonesia.


"Teroris itu harus kita lawan, teroris itu musuh kita bersama, bahkan kita sudah berpesan kepada Presiden agar tidak takut membubarkan ormas radikal. Kita (PBNU) selalu di belakang Pemerintah untuk urusan ini," katanya.

Sumber: antaranews

Densus 88 Tangkap 2 Teroris di Riau



SUARA-MUSLIM.COM, Pekanbaru ~  Densus 88 dikabarkan menangkap dua pria yang diduga teroris di Riau. Penangkapan dilakukan di Kabupaten Siak.

Kamis (22/8/2013) tim Densus 88 melakukan penangkapan terhadap dua pria di sekitar kawasan Pasar Minggu, Kecamatan Kandis, Kabupaten Siak, Riau.

Kedua pria itu adalah napi yang melarikan diri saat kerusuhan di LP Tanjung Gusta. Napi ini bagian dari kelompok teroris yang merampok Bank CIMB di Medan. Sedangkan satu pria lagi merupakan DPO teroris yang masih satu jaringan dengan napi tersebut.

Saat ini, ada 5 unit mobil Densus 88 yang terparkir di Mapolsek Kandis. Beberapa anggota Densus Anti Teror ini tampak menggunakan seragam lengkap dengan senjata laras panjang.

Hanya saja, wartawan dilarang mengambil gambar di Mapolsek tersebut.

Ketika kabar ini dikonfirmasi ke Kabid Humas Polda Riau, AKBP Hermansyah mengaku belum mengetahui informasi tersebut.

"Saya belum dapat informasinya. Saya akan cek dan segera menginformasikan jika memang benar," kata Hermansyah.


Sumber: detiknews

Ada 4 Terduga Teroris Yang Diamankan di Bekasi



SUARA-MUSLIM.COM, Bekasi ~ Satuan elit Detasemen Khusus (Densus) 88/Anti Teror Polri menangkap empat orang yang diduga terlibat jaringan teroris di Percetakan Andescre, Bekasi Timur, Kota Bekasi.


Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto saat dikonfirmasi, membenarkan adanya penangkapan teroris tersebut.



"Yang menangkap dari tim Densus. Penangkapan dilakukan pada Selasa (20/8) petang sekitar pukul 18.45 WIB," kata Rikwanto kepada detikcom, Selasa (20/8/2013).



Informasi dihimpun detikcom dari sumber di kepolisian, empat terduga teroris yang diamankan itu yakni berinisial KI (32), warga Wonosari, Jawa Timur, AW (21) yang beralamat di Dusun Gamping, Kecamatan Suruti, Jatim dan AI (22) warga Pangkalan Kecamatan Tegal, Jawa Barat serta Is, di pintu air Bekasi.



Saat ini, ketiga tersangka masih dalam penanganan Densus untuk penyelidikan lebih lanjut. Belum diketahui keempat teroris ini memiliki keterkaitan dengan kelompok teroris yang mana.

[detiknews]

Densus 88 Gerebek Teroris di Bekasi

(foto: merdeka.com)


SUARA-MUSLIM.COM, Bekasi ~ Polisi melakukan penangkapan empat terduga teroris di Percetakan Andescre, Jalan Mator Hasibuan no 12, Bekasi Timur dan di Kelurahan Margajaya, Bekasi Selatan. Selain melakukan penangkapan, polisi juga melakukan penggeladahan di rumah terduga teroris.


"Dengan barang bukti yang berhasil disita di rumah Iswahyudi berupa dua pucuk senpi FN 50 butir peluru, dan buku petunjuk pembuat bom disita di rumah Khoirul alias Irul," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto dalam pesan singkatnya kepada wartawan, Selasa (20/8).



Menurut Rikwanto, penangkapan ini adalah hasil pengembangan penyelidikan terduga teroris sebelumnya.



"Mereka ditangkap dari pengembangan tersangka Zakaria yang ditangkap sehari sebelumnya di Tangerang," tutup Rikwanto.



Densus 88 kini tengah mengamankan empat orang terduga teroris yang terkait dengan rencana peledakan di Kedubes Myanmar. Mereka adalah Khaerul Ikhwan, Andri Wahono, Ahmad Irfan dan Iswahyudi.

Sumber: merdeka.com

Ketua PBNU: Kelompok Radikal Harus Dibubarkan


SUARA-MUSLIM.COM, Jakarta - Pelaku penembakan terhadap anggota polisi tak hanya menebar teror di Jakarta. Tapi juga diluar wilayah Jakarta.
Hal itu diungkapkan Ketua PBNU, Said Agil Siradj saat bertemu Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) di Balaikota DKI Jakarta, Senin (19/8/2013).

"Targetnya nasional. Bukan Jakarta. Maunya Indonesia tidak aman. Ada yang mendesain pasti," kata Said Agil Siradj saat bertemu Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo di Balaikota DKI Jakarta (19/8/2013).

Said melanjutkan, saat ini teror tengah melanda bangsa Indonesia. Sebagai langkah antisipasi menurutnya, pemerintah pusat harus membubarkan ormas-ormas yang terindikasi ke arah radikal.

"Antisipasi harusnya tidak hanya setelah kejadian. Indikasi kelompok radikal harus dibubarkan," tandasnya.

Seperti diketahui beberapa hari terakhir aksi teror melanda Ibukota. Terakhir kasus penembakan dilakukan terhadap anggota kepolisian Polsek Pondok Aren, Tangsel. Dalam aksi penembakan tersebut, Bripka Ahmad Maulana, Aiptu Kushendratna meninggal dunia. [AM]

Sumber: Inilah

Penembakan Polisi, Kelompok Teroris Ingin Perlihatkan Konsistensi


SUARA-MUSLIM.COM, Jakarta - Rentetan penembakan terhadap anggota kepolisian beberapa pekan terakhir masih belum menemui titik terang mengenai motif pelakunya. Kejadian ini memunculkan teror di lingkungan kepolisian.

"Ada kelompok tertentu yang ingin menunjukan eksistensinya, mereka ingin menunjukan bahwa mereka memiliki kekuatan dan tidak dapat dipandang sebelah mata," papar Sosiolog Kriminalitas UGM, Suprapto, Minggu (18/8/2013).

Selain itu menurutnya terjadi perubahan tren penyerangan terhadap polisi dari yang sebelumnya berbentuk pengeboman di kantor polisi menjadi penembakan terhadap anggota kepolisian. Perlu dikaji secara mendalam apakah terdapat keterkaitan antara keduanya.

"Nah kalau yang saya perhatikan kelompok penembak polisi ini adalah kelompok yang berbeda dari pengeboman pos polisi," imbuhnya.

Mengenai lokasi penembakan yang belakangan ini sering terjadi di wilayah Tangerang Ia menyatakan hal tersebut karena wilayah Tangerang dekat dengan Jakarta. Selain itu hal ini juga disebabkan sebagian kegiatan masyarakat ibukota telah bergeser ke Tangerang.

"Kepolisian terlihat lengah di Tangerang dibandingkan di Jakarta, jadi sebaiknya kepolisian juga melakukan pembenahan internal untuk mengatasi masalah ini. Tangerang itu kan wilayah daerah tapi posisinya sangat berdekatan dengan Jakarta," pungkasnya. [AU]

Sumber: Detiknews

PBNU: Ada yang Mendesain Teror untuk Polisi



SUARA-MUSLIM.COM, Jakarta ~ Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj menilai, ada pihak yang mendesain rentetan aksi penembakan misterius yang menarget anggota kepolisian, belakangan ini. 


"Pasti ada yang mendesain aksi itu," ujar Aqil seusai bertemu Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo di Balaikota, Jakarta, Senin (19/8/2013). 


Aqil menduga, penuai teror tersebut berasal dari kelompok radikal berbasis agama. Tujuannya, selain membalaskan dendam bagi rekan yang ditindak kepolisian, juga untuk memberikan tanda bahwa kelompok radikal tersebut masih eksis. 


Menurutnya, harus ada ketegasan pemerintah untuk membubarkan kelompok radikal yang telah dideteksi. Diakuinya, kelompok tersebut adalah embrio berbagai tindakan terorisme di Indonesia. 


"Antisipasi harusnya tak hanya setelah kejadian. Kelompok radikal harus dibubarkan. Tapi kalau teroris, urusannya aparat," lanjutnya. 


PBNU, kata Aqil, mengutuk rentetan aksi penembakan oleh pelaku misterius tersebut. Ia berharap kepolisian bekerja keras mampu mengungkap kasus tersebut dengan cepat dan tepat. 


Sebulan belakangan ini, setidaknya terjadi tiga aksi penembakan dengan target aparat kepolisian. Pda 27 Juli 2013, Anggota Satlantas wilayah Jakarta Pusat, Aipda Patah Saktiyono ditembak. Beruntung, ia tak meninggal dunia dan hanya menjalani perawatan di RS Polri Kramat Jati. 


Pada Rabu, 7 Agustus 2013, anggota Binmas Polsek Cilandak, Aiptu Dwiyatna, tewas ditembak. Terakhir, 16 Agustus 2013, anggota Binmas dan Reskrim Polsek Pondok Aren, Aipda Kus Hendratma dan Bripka Maulana, tewas ditembak pelaku misterius. Seluruh kasus itu belum terungkap siapa pelaku dan motifnya.

Sumber: Kompas

Muslim Nigeria : Boko Haram Bukanlah Muslim!


SUARA-MUSLIM.COM, Nigeria - Komunitas Muslim di Nigeria meminta pemerintah untuk menindak tegas kelompok Boko Haram yang tindak kekerasan terhadap muslim, dan meminta media massa tidak menyebut Boko Haram sebagai bagian dari Islam.
Komunitas Muslim Nigeria mengecam keras aksi serangan yang dilakukan kelompok Boko Haram ke sebuah masjid di desa Konduga, Borno pada pekan kemarin.
“Kami mengutuk keras serangan itu, dan meminta pemerintah untuk segera bertindak untuk menghentikan lingkaran kekerasan ini,” kata Sulaiman Alamutu, juru bicara Asosiasi Pelajar Muslim Nigeria pada OnIslam.net.
Ia menghimbau media untuk tidak mengindetikkan Boko Haram dengan Islam, karena apa yang dilakukan Boko Haram tidak menunjukkan bahwa mereka muslim. “Kegiatan mereka jelas-jelas bertentangan dengan apa yang diajarkan Islam,” tukas Alamutu.
Dalam insiden serangan ke masjid hari Minggu kemarin, 44 jamaah muslim tewas dan puluhan orang lainnya luka-luka. Serangan serupa terjadi di tak jauh dari desa Konduga, menewaskan 12 warga muslim.
Direktur Eksekutif Muslim Public Affairs (MPAC) Disu Kamor juga mengutuk pembantaian yang dilakukan oleh kelompok Boko Haram terhadap warga muslim, kristiani, orang tua dan anak-anak di Nigeria.
Kamor menyebut Boko Haram bukan muslim, karena Islam tidak mengajarkan umatnya untuk melakukan kekerasan dan pembunuhan terhadap sesama muslim.  “Kami menolak apa yang diserukan Boko Haram untuk melakukan islamisasi di Nigeria,” tukas Kamor.
Komunitas muslim di Nigeria menyatakan, mereka mendukung jika kelompok Boko Haram dilaporkan ke Pengadilan Internasional. [Tajuk.co]