BREAKING NEWS
latest

728x90

header-ad

468x60

header-ad
Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan

Hizbut Tahrir Bukanlah Ahlussunnah

Wawancara  dengan Ustadz Muhammad Idrus Ramli

Sebagian kalangan ada yang berpandangan bahwa Hizbut Tahrir keluar dari Ahlussunnah Wal-Jama'ah. Bagaimana pendapat Anda?

Ust. Idrus Ramli menjawab :

Saya setuju dengan pandangan banyak kalangan bahwa Hizbut Tahrir telah keluar dari Ahlussunnah Wal- Jama'ah. Hal ini setidaknya dengan ditinjau dari dua alasan.

Pertama, dalam persoalan akidah, Syaikh Taqiyuddin al-Nabhani, memposisikan dirinya dalam posisi berlawanan dengan Ahlussunnah Wal-Jama'ah, terutama ketika membahas masalah Qadha' dan Qadar.
Misalnya ketika dia berkata:
رأيان اثنان أحد هما حرّيّة الاختيار وهو رأي المعتزلة والثّني الإجبار وهو رأي الجبرية وأهل السّنّة مع الختلاف بينهما بالتّعابير والاحتيال على الألفاظ واستقرّ المسلمون على هذين الرّأيين وحوّلوا عن رأي القران ورأي الحديث وماكان يفهمه الصّحابة منهما الى المناقشة في اسم جديد هو القضاء والقدر
"Ada dua pendapat. Pertama, kebebasan memilih, yaitu pendapat Mu'tazilah. Kedua, ijbar (keterpaksaan), yaitu pendapat Jabariyah dan Ahlussunnah, hanya ada perbedaan antara keduanya dalam retorika dan merekayasa kata-kata. Kaum Muslimin telah menetap pada dua pendapat ini dan telah dipalingkan dari pendapat al-qur'an, hadits dan pemahaman para sahabat tentang keduanya, menuju diskusi dalam nama baru yang disebut dengan Qadha' dan Qadar."

Pernyataan Syaikh al-Nabhani di atas menyimpulkan pada beberapa hal.

1.   al-Nabhani memposisikan dirinya berlawanan dengan Mu'tazilah, Jabariyah dan Ahlussunnah dalam hal Qadha' dan Qadar.
Hal ini membuktikan bahwa al- Nabhani, memang keluar dari Ahlussunnah Wal- Jama'ah. Seandainya ia mengikuti Ahlussunnah Wal- Jama'ah, tentu ia akan membela konsep Ahlussunnah dalam hal Qadha' dan Qadar.

2.   Dalam pandangan al-Nabhani, umat Islam telah tersesat selama seribu tahun lebih dalam memahami konsep Qadha' dan Qadar, sehingga keluar dari pendapat al-Qur'an, hadits dan pemahaman para sahabat.
Tentu pandangan al-Nabhani ini sangat ekstrem, karena dengan demikian berarti al-Nabhani memposisikan dirinya sebagai juru selamat terhadap umat Islam yang telah tersesat selama seribu tahun lebih tentang Oadha' dan Qadar. Padahal Rasulullah SAW telah memberikan jaminan, bahwa umat Islam tidak akan bersepakat pada kesesatan.

 عن ابن عمر أنّ رسول الله قال إن الله لا يجمع أمتي على ضلالة ، ويد الله مع الجماعة ، ومن شذ شذ إلى النار
"Dari Ibn Umar, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku atas kesesatan. Pertolongan Allah bersama jama'ah. Barangsiapa yang mengucilkan diri, maka mengucilkan dirinya ke neraka." HR. At Tirmidzi

Ust. Idrus Ramli
Hadits di atas memberikan jaminan bahwa umat Islam tidak akan bersepakat pada kesesatan, dimana pada suatu masa tidak ada satu pun golongan umat Islam yang mengikuti jalan kebenaran. Kemudian hadits tersebut juga memberikan ancaman bahwa orang yang mengucilkan dirinya dari umat Islam, berarti mengucilkan dirinya ke neraka. Dalam pernyataan di atas, Syaikh al-Nabhani telah berlawanan dengan hadits tersebut dengan pandangannya bahwa umat Islam telah tersesat semua, dan ia juga mengucilkan dirinya dari umat Islam dengan cara membuat pendapat baru tentang konsep Qadha' dan Qadar.

Dalam hadits lain diterangkan:
قال صلى الله عليه وسلم: "لا تزال طائفة من أمتي على الدين ظاهرين، لعدوهم قاهرين، لا يضرهم من خالفهم إلا ما أصابهم من لأواء، حتى يأتيهم أمر الله. وهم كذلك
"Tsauban berkata: "Rasulullah SAW bersabda: "Akan selalu ada sekelompok dari umatku, tampil di atas kebenaran, mereka tidak akan dibahayakan oleh orang yang mengabaikannya sehingga datang perkara Allah, dan mereka tetap demikian".

Hadits ini memberikan jaminan, bahwa pengikut kebenaran itu selalu ada hingga akhir masa. Sementara Syaikh al-Nabhani berpendapat bahwa pengikut kebenaran telah sirna sejak lebih seribu tahun yang lalu. Dengan demikian pernyataan al-Nabhani bertentangan dengan hadits tersebut.

3.   al-Nabhani berpandangan bahwa Qadha' dan Qadar adalah nama baru yang tidak dikenal dalam pandangan al-Qur’an, hadits dan pemahaman para sahabat.
Bahkan al-Nabhani juga mengatakan bahwa kalimat Qadha' dan Qadar belum pernah ditemukan satu paket dalam suatu hadits. Tentu pandangan al-Nabhani ini berlebih-lebihan, karena bahasan tentang Qadha' dan Qadar terdapat dalam sekian banyak ayat al-Qur’an dan hadits, baik secara terpisah maupun secara bersamaan. Dari al-Qur’an dan hadits itulah para ulama membangun konsep tentang Qadha' dan Qadar, baik melalui pendekatan rasional seperti yang dilakukan oleh para teolog Ahlussunnah, maupun melalui pendekatan tradisional seperti yang dilakukan oleh al-Bukhari dalam Khalq Afal al-'lbad, al-Baihaqi dalam al-Qadha' wa al- Qadar dan lain-lain. 

Di antara hadits yang menyebut istilah Qadha' dan Qadar bersamaan adalah:
 أكثر من يموت من أمتي بعد كتاب الله وقضائه وقدره بالأنفس
"Jabir bin Abdullah berkata: "Rasulullah SAW bersabda: "Sebagian besar orang yang meninggal di antara umatku setelah karena ketentuan, qadha' dan qadar Allah adalah disebabkan penyakit 'ain".[1]

سبق العلم وجقّ القلم، ومضى القضاء، وتمّ القدر
"Abu Hurairah berkata: "Rasulullah SAW bersabda: "Ilmu Allah telah melampaui, pena telah kering, keputusan telah berlalu dan ketentuan Allah telah sempurna.

Kedua, dari aspek amaliah, para aktivis Hizbut Tahrir banyak yang terpengaruh dengan konsep Wahabi yang sangat radikal dan mudah mendistribusikan vonis bid'ah dan syirik terhadap umat Islam di luar alirannya, dengan alasan telah mengamalkan istigatsah, tawasul, tabaruk, ziarah kubur, maulid, tahlilan dan lain-lain. Para ulama yang otoritatif dari madzhab fiqih yang empat, telah menegaskan bahwa aliran Wahabi merupakan aliran menyimpang, sesat dan menyesatkan yang muncul sejak dua abad yang lalu di Najd. Dari paparan di atas tidak berlebihan kiranya apabila banyak kalangan menilai Hizbut Tahrir telah menyimpang dari manhaj Ahlussunnah Wal-Jama'ah.



[1]    HR. al-Thayalisi (242); al-Bukhari, al-Tarikh al-Kabir (4/306); al-Bazzar, Kasyf al-Astar (3/403); Ibn Abi Ashlm, al-Sunnah (1/136); dan al-Thahawi, Syarh Musykil al-Atsar (4/77) dengan sanad yang dinilai hasan oleh ai-Hafizh al-Haitsami, Majma' al-Zawaid, juz 5, (Beirut: Dar al-Kutub al-'llmiyah), 1988, hlm. 106, dan al-Hafizh Ibn Hajar, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, juz 10, hal. 204.


Sumber : idrusramli.com

Nabi Tak Pernah Perintahkan Sweeping!

Kepada teman-teman yang mengatasnamakan FPI cobalah kita merenungkan Sirah Nabawiyah, contoh Nabi Muhammad SAW itu. Tidak pernah Nabi Muhammad memerintahkan sweeping.

Wawancara Dengan Ketua Umum PBNU: KH. Said Aqil Siradj

esekan yang menyulut kerusuhan berdarah antarumat beragama masih terus terjadi di bumi Nusantara. Penyerangan terhadap umat Syiah, Ahmadiyah, dan kelompok minoritas masih menghiasi halaman berita media massa.

Wajah Islam pun tercoreng, mendapat cap sebagai agama yang menghalalkan kekerasan. Penyerangan warga Nahdliyin terhadap umat Syiah di Madura beberapa waktu lalu juga merusak citra NU sebagai ormas yang memegang prinsip tawajud modern, tawajud balance, dan tawajud toleran.

“Ada kesalahpahaman yang sangat-sangat, yaitu dikira Islam hanya sebatas akidah dan syariah,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Said Aqil Siradj.

Tokoh-tokoh besar NU dulu mencontohkan bisa hidup berdekatan dan saling menghormati dengan pesantren Syiah. Said menyesalkan banyaknya kelompok yang menafsirkan Islam sebagai Arabisasi. Menurutnya, tidak semua yang khas Arab itu bagus. “Jangan dikira orang pakai baju gamis seperti Nabi Muhammad, ya Abu Jahal paman Nabi yang jahat itu, juga seperti itu,” tegas Said Aqil.

Said pun mengimbau agar Front Pembela Islam (FPI) tidak melakukan sweeping. "Cobalah kita merenungkan Sirah Nabawiyah, contoh yang dari Nabi Muhammad SAW itu. Tidak pernah Nabi Muhammad memerintahkan sweeping," kata Said.

Berikut petikan wawancara dengan Kiai Said di Pondok Pesantren Luhur Al Tsaqofah di Jl. Kahfi 1, Ciganjur, Jakarta Selatan:

Bagaimana perkembangan toleransi keberagamaan saat ini?
Memang akhir-akhir ini saya kira, dimulai tahun 1980-an dan semakin ke sini semakin memuncak. Seakan-akan kita bukan bangsa Indonesia lagi, bukan umat Islam Indonesia lagi yang terkenal dengan akhlak, santun, adabnya yang tinggi. Ternyata sekarang muncul kekerasan.

Itu pertama jelas pengaruh dari luar, tidak dari asli tabiat bangsa Indonesia. Kedua, pendidikan yang sangat jauh dari yang kita inginkan. Dalam arti, kita masih gagal dalam mendidik bangsa ini. Ketiga, ada kesalahpahaman yang sangat-sangat, yaitu dikira Islam hanya sebatas akidah dan syariah.

Islam itu dianggap teologi, rukun iman, dan ritual ibadah saja. Padahal, agama Islam itu bukan akidah dan syariah saja. Agama Islam juga agama ilmu pengetahuan, agama intelektual, agama peradaban, agama etika dan moral, agama kemanusiaan, agama kemajuan, itulah Islam sebenarnya, yaitu al-Islamu dinnul wa tsaqofah, dinnul adab wa khadoroh, dinnul thamadun wa insaniyah.

Kita sering menemukan kasus kekerasan seperti kasus terhadap Ahmadiyah dan Syiah ini. Anda melihatnya bagaimana?
Saya dari Nahdlatul Ulama (NU) sudah berkali-kali, baik itu terhadap sesama Islam atau nonmuslim, ketika di situ terjadi konflik, NU selalu berperan. Kita sekuat tenaga memberikan pencerahan dan peringatan kepada warga sendiri, terutama kasus terakhir di Sampang, Madura.

Kita sangat menyesalkan itu, mencoreng Islam itu sendiri. Pertama, Islam tidak seperti itu, walau berbeda pendapat tetap menjaga kerukunan. Kedua, jati diri sebagai warga Nahdliyin atau Ahlussunnah wal Jamaah yang memegang prinsip tawajud modern, tawajud balance, dan tawajud toleran, itu juga mereka langgar atau kehilangan jati diri sebagai warga Nahdliyin, kita sesalkan itu.

Kalau kita lihat, kiai-kiai dahulu, kiai yang sudah sepuh dan meninggal tidak pernah mengajarkan kekerasan. Yang namanya Kiai Abdul Hamid Pasuruan, Jawa Timur yang terkenal Waliyullah dan Kiai besar, itu berdekatan dengan pesantren Syiah YAPPI milik Sayyid Husen al Habsyi itu. Tidak pernah terjadi konflik, malah saling menghormati dan menghargai.

Akhir-akhir ini saja kenapa? Mudah-mudahan kita semua mendapat petunjuk dari Allah.

Idealnya bagaimana kualitas ulama yang diharapkan mampu menyampaikan kampanye toleransi beragama?
Ulama itu memiliki kewajiban mendalami ilmu agama, tidak boleh sembarangan dalam menerangkan atau menjelaskan agama. Jadi harus menguasai Alquran, tafsir, hadis, fikih, ilmu hadis, ilmu kalam. Semua tidak cukup hanya pesantren kilat 1-2 minggu. Bertahun-tahun perjuangan seseorang menjadi ulama dalam mencari ilmu agama, penuh pengorbanan.

Kedua, tugas ulama adalah memberikan bimbingan kepada masyarakat. Nah sudah barang tentu ulama itu sendiri sebagai pendidik dan pembimbing serta pengayom. Ya kita tahu bahwa seorang pendidik itu harus santun, kebapakan, toleran, berlapang dada, seperti suri teladan Nabi Muhammad.

Dalam Alquran disebutkan yang artinya, “Karena watak (sifat) kamu yang santun, maka banyak orang berbondong-bondong masuk Islam. Seandainya kamu (Muhammad) sombong, congkak, niscaya mereka lari
dari kamu”. Dalam Alquran seperti itu dan Nabi Muhammad dipuji karena sifat santunnya itu. Itu juga yang dijalankan para Wali Songo, penyebar agama Islam di Jawa dahulu kala. Mereka semua melakukan dengan pendekatan moral, pergaulan yang baik, tidak pernah mencaci maki, atau menyakiti orang lain.

Contoh, ketika orang Jawa melakukan sesajen. Kata kiai, “Kalau sesajen jangan diisi nasi sekepal begitu, potong kambing juga dong. Kamu kan kaya, potonglah kambing, dibikin gulai, dibikin 20 piring”. Setelah jadi 20 piring, orang itu tanya, “Ini ditaruh di pojok mana?”

Kiai bilang, “Bukan ditaruh di pojok mana, tetapi undang tetangga terutama yang fakir dan miskin, lalu baca doa, itu namanya selamatan, bukan sesajen”. Nah itu cara dakwah yang baik.

Masuk masjid kan harus suci kakinya, bukan lantas ditempel tulisan gede-gede “Lepas Sandal”. Bukan begitu, tetapi dahulu di depan pintu masuk masjid ada kolam air, jadi dulu orang mau masuk masjid atau musala mau nggak mau kan cuci kaki dulu dengan nyemplung ke air. Caranya para aulia berdakwah di Indonesia dahulu.

Sekarang budaya seperti ini tidak ada. Apakah artinya ada arabisasi Islam di Indonesia?
Islam itu tidak harus seperti Arab. Islam itu sangat universal. Memang ada prinsip-prinsip menutup aurat, kan bisa celana, sarung atau gamis. Islam agama kemanusiaan. Ya maaf saja, ada orang bergamis, kepala dililit serban, berjenggot, meniru Nabi Muhammad itu betul. Tetapi bukan sebatas pakaian meniru Nabi Muhammad. Yang lebih penting itu akhlaknya dan moralnya.

Kedua, itu pakaian Abu Jahal kan juga seperti itu, jangan dikira orang pakai baju gamis seperti Nabi Muhammad, ya Abu Jahal paman Nabi yang jahat itu, juga seperti itu. Yang membedakan antara Nabi Muhammad, sahabat Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman dan Ali dengan Abu Jahal dan Abu Lahab ya iman dan takwanya, moral dan akhlaknya, bukan pakaiannya.

Apa sebetulnya akar persoalan intoleransi di Indonesia?

Ya itu tadi, salah pendidikan, salah paham tentang agama, kemelaratan dan kemiskinan, serta kebodohan dan keterbelakangan. Itu paling utama.

Kenapa kita masih susah mendamaikan antara kelompok Sunni dan Syiah di Indonesia?
Sebenarnya, yang namanya agama atau umat Islam berkelompok-kelompok itu justru untuk membangun peradaban. Jadi mazhab Sunni memperkaya argumen sehingga menghasilkan khazanah peradaban. Begitu juga Syiah.

Sebenarnya banyaknya mazhab-mazhab ini ada hikmahnya. Akhirnya, lahirnya peradaban yang luar biasa, Sunni, Syiah, Mutazilah dan seterusnya. Sebab, Indonesia yang kaya raya dengan budaya ini, budaya Jawa dipertahankan, Sunda, Batak, Bugis, Melayu, semua dipertahankan. Akhirnya itulah budaya Indonesia.

Kalau cuma satu budaya, Indonesia miskin. Yang Syiah terus mencari dan menggali dalil-dalilnya, yang Sunni terus menggali dalil-dalilnya. Di situ melahirkan peradaban, di sini melahirkan peradaban Islam semuanya.

Tapi kenapa sering bentrok?
Ya karena bodoh, karena tidak paham, karena sama sekali tidak pernah mengkaji dengan objektif. Memang
beda Sunni dan Syiah, tetapi perbedaan itu tidak harus menyebabkan permusuhan. Dalam hadis dikatakan, “Walaaud’wana Ila alaa dzolimin,” tidak boleh ada permusuhan kecuali terhadap yang melanggar hukum. Pejabat yang zalim, koruptor, teroris, narkoba, pembunuh, bos judi, itu musuh kita bersama. Selain itu tidak boleh ada permusuhan dengan alasan beda agama, beda etnik, beda aliran, beda mazhab, atau beda kelompok.

Walaa’udwana Ila alaa dzolimin ini hadis sering diucapkan para khatib Jumatan di masjid-masjid. Tetapi setelah mengucapkan itu, akhirnya sering mencaci maki orang juga.

Bagaimana dengan aksi kelompok keagamaan seperti FPI yang selama ini sering melakukan sweeping ke tempat maksiat?
Rasulullah SAW tidak pernah memerintahkan para sahabatnya untuk bertindak keras. Selama 13 tahun berada di Mekah sebelum hijrah, di Mekah saat itu ada 360 patung berhala, tidak satu pun dipecahkan oleh Rasulullah.

Setelah hijrah ke Madinah, setelah tahun kedelapan hijriah, Rasulullah kembali ke Mekah dengan kemenangan Islam, masyarakat Mekah sendiri yang sudah masuk Islam dengan kesadaran sendiri menghancurkan berhala yang ada. Itu sejarahnya.Nah kepada teman-teman yang mengatasnamakan Front Pembela Islam (FPI) cobalah kita merenungkan Sirah Nabawiyah, contoh yang dari Nabi Muhammad SAW itu. Tidak pernah Nabi Muhammad memerintahkan sweeping.

Redaktur: ML
Sumber: Majalah Detik

Bashar: Apa Yang Terjadi di Mesir Adalah Jatuhnya 'Politik Islam'

Wawancara Bashar Al-Assad denga Surat Kabar Al-Thawra


Damascus, (SANA) - Presiden Bashar al-Assad mengatakan bahwa apa yang terjadi di Mesir adalah jatuhnya apa yang disebut "Politik Islam", menambahkan bahwa mereka yang menggunakan agama untuk kepentingan politik atau untuk kepentingan satu kelompok akan jatuh di mana saja di dunia.

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar al-Thawra, Presiden al-Assad mengatakan, "Anda tidak bisa menipu semua orang sepanjang waktu, terutama orang-orang Mesir yang memiliki peradaban yang berasal dari ribuan tahun dan pemikiran nasionalis pan-Arab yang jelas."

Presiden menambahkan bahwa setelah setahun citra telah menjadi jelas bagi orang-orang Mesir dan kinerja dari Ikhwanul Muslimin membantu mereka mengungkap kebohongan yang dibuat oleh Ikhwanul Muslimin pada awal kepopuleran revolusi di Mesir. "

Presiden al-Assad mengatakan percobaan aturan Ikhwan Muslimin gagal bahkan sebelum dimulai karena jenis aturan tidak konsisten dengan sifat orang-orang dan proyek persaudaraan adalah munafik yang benar-benar bertujuan untuk menciptakan hasutan di dunia Arab.

Presiden menekankan bahwa hasutan tidak dapat bertahan dalam masyarakat yang memiliki pengetahuan, menambahkan "inilah mengapa dari awal saya mengatakan proyek mereka adalah sebuah kegagalan sebelum dimulai dan ini adalah apa yang membuat eksperimen Ikhwanul Muslimin jatuh dengan cepat karena itu salah, dan apa yang dibangun di atas prinsip yang salah pasti akan jatuh. "


(Berita Harian Suriah)

Wawancara Bashar Al-Assad (Bagian II), Sosok Yang Luar Biasa

Lanjutan Wawancara, Bagian Kedua


#kami adalah negara sekuler yang pada dasarnya memperlakukan warganya sama

Pewawancara: Bapak Presiden, di mana Anda melihat sekularisme di tengah-tengah meningkatnya arus Islam di wilayah tersebut?

Presiden Assad: Ini adalah pertanyaan yang sangat penting, banyak di wilayah ini tidak mengerti hubungan ini. Timur Tengah adalah pusat ideologi yang berbeda. Masyarakat Arab terutama didasarkan pada dua pilar: Pan-Arabisme dan Islam. Ideologi lain memang ada, seperti komunisme, liberalisme, nasionalisme Suriah, tetapi ini tidak hampir sama populer. Banyak orang memahami sekularisme sebagai sinonim dengan komunisme di masa lalu, dalam hal ini bertentangan dengan agama. Bahkan itu adalah kebalikannya, karena kita di Suriah sekularisme adalah tentang kebebasan pengakuan termasuk Kristen, Islam dan Yahudi, dan beberapa sekte yang beragam dalam agama-agama ini. Sekularisme sangat penting untuk persatuan nasional dan rasa memiliki. Oleh karena itu kita tidak punya pilihan selain untuk memperkuat sekularisme karena agama sudah kuat di wilayah kami, dan saya menekankan di sini bahwa ini sangat sehat. Apa yang tidak sehat adalah ekstremisme karena akhirnya mengarah pada terorisme; tidak setiap ekstremis adalah teroris, tapi setiap teroris pasti seorang ekstrimis.

Jadi dalam menanggapi pertanyaan Anda, kami adalah negara sekuler yang pada dasarnya memperlakukan warganya sama, terlepas dari agama, sekte atau etnis. Semua warga negara kita menikmati kesempatan yang sama terlepas dari keyakinan agama.

#Suriah melewati situasi yang paling sulit, pastinya bukan musim semi

Pewawancara: Pak Presiden, bagaimana Anda melihat dua setengah tahun sejak yang disebut 'Arab Spring?'

Ini adalah konsep yang salah. Musim semi tidak termasuk pertumpahan darah, pembunuhan, ekstrimisme, menghancurkan sekolah atau mencegah anak tidak pergi ke sekolah mereka, atau mencegah perempuan dari memilih apa yang harus dipakai dan apa yang sesuai untuk mereka. Musim semi adalah musim yang paling indah sementara kita akan melalui situasi yang paling menakutkan, Pastinya itu bukan Musim Semi. Apakah musim semi kompatibel dengan apa yang terjadi di Suriah - pembunuhan, pembantaian, pemenggalan, kanibalisme, saya serahkan kepada Anda untuk memutuskan.

Pewawancara: Apa isu-isu yang yang disebut "Musim Semi Arab" yang seharusnya untuk diselesaikan?

Presiden Assad: Solusinya tidak terletak pada 'musim semi' atau dalam hal lain, solusinya terletak dalam diri kita. Kami adalah orang-orang yang seharusnya memberikan solusi, dengan bersikap proaktif bukan reaktif. Ketika kita mengatasi masalah kita secara proaktif kami memastikan bahwa kami mendapatkan solusi yang tepat. Solusi yang dikenakan reaktif oleh 'Musim Semi' hanya akan menyebabkan hasil yang cacat.

Seperti banyak negara di Timur Tengah, kami memiliki banyak masalah yang kita sadar dan melihat secara obyektif. Ini adalah bagaimana masalah ini harus diselesaikan, di bahwa solusi secara internal diproduksi dan tidak diberikan secara eksternal, sebagai yang terakhir akan menghasilkan solusi menyimpang atau lahir mati. Hal ini untuk alasan ini bahwa ketika kita sebut untuk dialog atau solusi, mereka perlu rumah-tumbuh dalam rangka untuk memastikan bahwa mereka mengarah ke Suriah kita inginkan.

#apa yang terjadi di Irak sekarang, dan di Lebanon sebelumnya, adalah dampak dari situasi di Suriah

Pewawancara: Bapak Presiden, Anda telah menolak segala bentuk intervensi asing dan telah memperingatkan bahwa ini akan memperpanjang pertempuran untuk wilayah yang lebih luas, Anda telah mencapai ini?

Presiden Assad: Mari kita perjelas tentang hal ini, ada dua jenis intervensi asing: langsung melalui proxy atau agen, dan intervensi langsung melalui perang konvensional. Kami mengalami mantan. Pada awal krisis saya memperingatkan bahwa intervensi di Suriah - bahkan secara tidak langsung, mirip dengan merusak garis patahan, hal itu akan menyebabkan gelombang listrik di seluruh wilayah. Pada saat itu, banyak orang - terutama di media, memahami hal ini sebagai Presiden Assad mengancam untuk memperpanjang krisis luar perbatasan Suriah. Jelas mereka tidak mengerti apa yang saya maksud pada waktu itu, tapi ini adalah persis seperti apa yang terjadi sekarang.

Jika kita melihat realitas di depan kita, kita dapat melihat dengan jelas bahwa apa yang terjadi di Irak sekarang, dan di Lebanon sebelumnya, adalah dampak dari situasi di Suriah, dan ini hanya akan memperpanjang lebih jauh dan lebih lanjut. Kami melihat konsekuensi ini dan intervensi masih tidak langsung, jadi bayangkan konsekuensi dari intervensi militer? Situasi akan, tentu saja, jauh lebih buruk dan kemudian kita akan menyaksikan efek domino ekstremisme meluas, kekacauan dan fragmentasi.

#Hubungan dengan Rusia dan Iran adalah kerjasama dijamin oleh hukum internasional


Pewawancara: Anda mengkritik negara termasuk Arab Saudi, Qatar, Turki dan Inggris untuk campur tangan mereka dalam krisis Suriah, bukankah Rusia dan Iran juga terlibat?

Presiden Assad: Ada perbedaan yang signifikan antara kerjasama negara yang bertentangan dengan destabilisasi suatu negara dan gangguan tertentu dalam urusan internalnya. Kerjasama antar negara dipahami pada konsep saling kehendak, dengan cara yang melindungi kedaulatan, kemandirian, stabilitas dan penentuan nasib sendiri. Hubungan kami dengan Rusia, Iran dan negara-negara lain yang mendukung Suriah adalah hubungan kerjasama bersertifikat di bawah hukum internasional.

Negara-negara yang Anda sebutkan, telah mengadopsi kebijakan yang mencampuri urusan dalam negeri Suriah, yang merupakan pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional dan kedaulatan nasional kita. Perbedaannya karena itu, adalah bahwa kerjasama antar negara dimaksudkan untuk menjaga stabilitas dan mengabadikan kemakmuran bangsa ini, sementara campur tangan asing berusaha untuk mengacaukan negara, kekacauan menyebar dan melestarikan kebodohan.

Pewawancara: Pak, Anda telah membahas dampak dari krisis Suriah pada Irak dan Libanon yang masyarakatnya didasarkan pada apa yang mungkin disebut sistem sektarian. Apakah Anda berpikir bahwa sistem tersebut dengan Pilar Sunni dan Syiah bisa didirikan di Suriah?

Presiden Assad: Tidak diragukan lagi, sistem sektarian di negara-negara tetangga, kerusuhan sektarian atau perang sipil - seperti di Lebanon 30 tahun yang lalu, pasti akan mempengaruhi Suriah. Itulah sebabnya Suriah campur tangan di Lebanon pada tahun 1976 - untuk melindungi diri dan untuk melindungi Lebanon. Hal ini untuk alasan ini bahwa kita mengamati dengan seksama perkembangan yang terjadi di Irak - mereka akan mempengaruhi kita secara langsung. Hal ini juga untuk alasan bahwa kita gigih menentang perang di Irak, meskipun campuran godaan dan ancaman Amerika pada saat itu. Kami ditolak kehilangan stabilitas kami sebagai imbalan untuk memenuhi tuntutan Amerika. Sistem sektarian yang berbahaya dan itulah mengapa kita bersikeras pada model sekuler di mana setiap warga negara sama tanpa memandang agama.

Bersambung ke Bagian Tiga

Redaktur : AM
Sumber: Berita Harian Suriah 

- Wawancara Bagian I, Pemimpin Yang Cerdas

Wawancara Bashar Al-Assad (Bagian I), Sosok Pemimpin Yang Cerdas


Damascus, (SANA) - President Bashar al-Assad memberikan wawancara berikut untuk surat kabar Jerman Frankfurter Allgemeine Zeitung:

Pewawancara: Pak Presiden, bagaimana Anda melihat situasi di negara Anda? Tentara Suriah telah kehilangan kontrol atas sebagian besar Suriah, dengan kata lain daerah tersebut di luar kendali pemerintah pusat. Apa pendapat Anda pada situasi ini?

Presiden Assad: Pertanyaan Anda mengharuskan kita untuk meletakkan segala sesuatu ke dalam konteks yang tepat: ini bukan perang konvensional dengan dua tentara yang berjuang untuk mengontrol atau membebaskan daerah-daerah atau bagian tanah tertentu. Apa yang sebenarnya kita hadapi adalah bentuk peperangan gerilya.

Adapun Tentara Suriah, belum ada contoh di mana Angkatan Bersenjata kami telah merencanakan untuk memasukkan lokasi tertentu dan belum berhasil. Setelah mengatakan ini, Angkatan Darat tidak hadir - dan tidak boleh hadir - di setiap sudut Suriah. Apa yang lebih penting daripada mengendalikan bidang tanah adalah menyerang teroris. Kami yakin bahwa kami dapat berhasil memerangi terorisme di Suriah, namun masalah yang lebih besar adalah kerusakan berikutnya dan biayanya. Krisis telah memakan banyak korban tapi tantangan terbesar kami akan datang saat krisis ini berakhir.

#Unsur asing berusaha memperpanjang krisis secara politik dan militer

Pewawancara: Dalam wawancara terbaru dengan Al-Manar muncul seolah-olah Anda sedang menyiapkan masyarakat Suriah untuk perjuangan yang berkepanjangan. Apakah itu tujuan Anda?

Presiden Assad: Tidak, ini bukan khusus untuk Al-Manar. Dari awal krisis, setiap kali saya ditanya, saya telah menyatakan bahwa krisis ini mungkin akan berkepanjangan akibat campur tangan asing. Setiap krisis internal dapat pergi dalam satu dari dua cara: baik itu diselesaikan atau meningkat menjadi perang saudara. Baik telah terjadi untuk Suriah karena komponen asing, yang berusaha untuk memperpanjang durasi krisis baik secara politik maupun militer, saya pikir adil untuk mengatakan bahwa prediksi saya benar.

#Rekonstruksi nyata adalah merekonstruksi mentalitas, ideologi dan konsep

Pewawancara: Bapak Presiden, bagaimana Anda berharap untuk mengatasi kerusakan skala besar yang telah ditimbulkan di Suriah?

Presiden Assad: Dengan cara yang sama dengan Anda, di Jerman, mengatasi kehancuran setelah Perang Dunia II, dan dengan cara yang sama banyak negara lain telah berkembang dan telah dibangun kembali setelah perang mereka. Saya yakin Suriah akan mengikuti jalan yang sama. Selama kita memiliki orang-orang tangguh, kita bisa membangun negeri ini. Kami telah melakukan ini sebelumnya dan kami bisa melakukannya lagi, belajar dari semua yang telah kita lalui.

Dari segi pendanaan, kita telah menjadi negara mandiri untuk waktu yang sangat lama. Tentu saja kita perlu lebih produktif dari sebelumnya sebagai akibat dari situasi. Negara sahabat telah membantu kami di masa lalu dan terus memberikan dukungan mereka, mungkin dalam bentuk pinjaman di masa depan. Mungkin butuh waktu yang lama, tetapi dengan tekad kita, kekuatan kita dan solidaritas, kita dapat membangun negeri ini.

Namun, tantangan yang lebih sulit terletak pada pembangunan kembali sosial dan psikologis mereka yang telah terpengaruh oleh krisis. Ini tidak akan mudah untuk menghilangkan dampak sosial dari krisis, terutama ideologi ekstremis. Rekonstruksi nyata adalah tentang mengembangkan pikiran, ideologi dan nilai-nilai. Infrastruktur sangat berharga, tapi tidak berharga sebagai manusia, rekonstruksi adalah tentang mengabadikan keduanya.


# Menggambar ulang peta wilayah akan menjadi peta perang di Timur Tengah

Pewawancara: Bapak Presiden, selama krisis beberapa daerah negara telah menjadi baik lebih mandiri atau lebih bergantung pada dukungan eksternal. Apakah Anda pikir ini berpotensi mengarah pada penggambaran ulang perbatasan?

Presiden Assad: Apakah yang Anda maksud dalam Suriah atau wilayah secara umum?

Pewawancara: Wilayah - seratus tahun setelah Perjanjian Sykes-Picot.

Presiden Assad: Seratus tahun setelah Sykes-Picot, ketika kita berbicara tentang kembali menggambar perbatasan di wilayah kami, kita dapat menggunakan analogi dari arsitektur. Suriah adalah seperti batu kunci dalam lengkungan arsitektur tua, dengan menghapus atau merusak batu kunci, lengkungan akan runtuh. Jika kita menerapkan ini untuk daerah, untuk dunia, - gangguan dengan perbatasan wilayah ini akan menghasilkan penggambaran ulang peta daerah yang jauh karena ini akan memiliki efek domino yang tak seorang pun dapat mengontrol. Salah satu negara adidaya mungkin dapat memulai proses ini, tapi tidak ada - termasuk negara adidaya itu akan mampu menghentikannya, khususnya karena ada batas sosial baru di Timur Tengah yang saat ini tidak ada selama Sykes-Picot. Batas-batas sektarian, etnis dan politik ini membuat situasi lebih rumit. Tidak ada yang bisa tahu apa Timur Tengah akan terlihat seperti harus ada upaya untuk menggambar ulang peta wilayah. Namun, kemungkinan besar bahwa peta itu akan menjadi salah satu dari berbagai perang, yang akan melampaui Timur Tengah yang mencakup Atlantik ke Pasifik, yang tak seorang pun bisa menghentikan.

Pewawancara: Bapak Presiden, menurut Anda akan terlihat seperti apa daerah di masa depan?

Presiden Assad: Jika kita mengesampingkan skenario merusak perpecahan dalam pertanyaan terakhir, saya bisa membayangkan masa depan yang sama sekali berbeda dan lebih positif, tapi itu akan tergantung pada bagaimana kita bertindak sebagai bangsa dan masyarakat. Skenario ini melibatkan sejumlah tantangan, pertama memulihkan keamanan dan stabilitas, tantangan kedua adalah proses membangun kembali. Namun, tantangan terbesar dan paling penting kita terletak dalam menghadapi ekstremisme.

Hal ini telah menjadi sangat jelas bahwa telah terjadi pergeseran pada masyarakat di Daerah kami yang jauh dari moderasi, terutama moderasi agama. Pertanyaannya adalah: bisakah kita memulihkan masyarakat ini pada tatanan alami mereka? Dapatkah masyarakat kita yang beragam masih hidup berdampingan bersama-sama sebagai satu kesatuan alami? Pada titik ini memungkinkan saya untuk mengklarifikasi istilah tertentu. Kata-kata toleransi dan koeksistensi sering digunakan untuk mendefinisikan masyarakat kita. Namun, definisi yang lebih tepat dan sesuai, bagaimana masyarakat kita dulu - dan bagaimana mereka seharusnya, yaitu keharmonisan. Berlawanan dengan persepsi, masalah ini bukanlah tentang toleransi - karena ada akan datang suatu hari ketika Anda tidak toleran, dan tidak ada masalah tentang koeksistensi - karena Anda berdampingan dengan lawan Anda, melainkan adalah tentang harmoni. Apa yang digunakan untuk mengkarakterisasi kami di wilayah ini adalah harmoni. Anda tidak bisa mengatakan bahwa tangan Anda akan hidup berdampingan dengan atau mentolerir kaki Anda karena salah satu pujian yang lain dan keduanya merupakan bagian dari satu kesatuan yang harmonis.

Tantangan lain adalah reformasi politik dan pertanyaan yang mana sistem politik akan terus menjaga masyarakat kita koheren: baik itu presiden, semi-presidensial atau parlementer, serta memutuskan undang-undang yang paling tepat untuk mengatur partai politik. Di Jerman, misalnya, Anda memiliki Partai Demokrat Kristen. Di Suriah kita tidak bisa memiliki partai-partai keagamaan, baik Kristen maupun Muslim, karena bagi kami agama adalah untuk dakwah dan bukan untuk politik praktis. Ada banyak rincian lain, tapi intinya adalah dalam menerima orang lain. Jika kita tidak bisa menerima satu sama lain kita tidak bisa bersifat demokratis, bahkan dengan konstitusi terbaik atau peraturan perundang-undangan terbaik.

Bersambung ke Bagian Dua 

Redaktur : AM
Sumber: Berita Harian Suriah