BREAKING NEWS
latest

728x90

header-ad

468x60

header-ad
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Astaghfirullah! Media PKS Terus Lecehkan Ulama Al-Azhar

SUARA-MUSLIM.COM, Jakarta ~ Beberapa waktu lalu situs PKS Piyungan memuat ocehan dari Fahmi Salim tentang tuduhannya bahwa ulama Al-Azhar yang datang ke Indonesia beberapa hari lalu merupakan utusan militer Mesir. Merespon tuduhan keji itu, redaksi mosleminfo.com langsung melakukan menghubungi salah seorang pengurus Ikatan Alumni Al-Azhar di Jakarta. Di dalam postingan pkspiyungan yang berjudul “Siasat Busuk Junta Militer Mesir Datangi MUI dan Ormas Islam Indonesia”, ternyata banyak fitnah dan tuduhan belaka. Bahkan Fahmi Salim sama sekali tidak tahu persoalan ini, dan hanya mendapatkan info dari salah seorang wartawan di MUI yang disinyalir lemah dalam penguasaan bahasa Arabnya. Akibatnya, ocehan Fahmi Salim pun sama sekali tidak layak untuk dipercaya, apalagi dijadikan sebuah berita. Namun, karena redaksi mosleminfo.com melihat ocehan Fahmi tersebut banyak disebarkan oleh mereka-mereka yang membenci ulama Al-Azhar, maka kami perlu memberikan klarifikasi fakta sesungguhnya. Untuk lebih jelaskan mari kita simak penjelasan langsung dari bapak Romli Syarqawi, orang yang menemani ulama Al-Azhar selama di Indonesia.
=================
Tentang kunjungan Prof. Dr. Ahmed M. Karema ke Indonesia. Secara kebetulan, sy berkesempatan mendampingi beliau selama kunjungan empat hari (2-5 Sept 2013) di Indonesia. Beberapa teman menuduh kunjungan Guru Besar Hukum Islam Univ. Al-Azhar tsb sebagai utusan Pemerintah Sementara dan militer Mesir untuk memengaruhi opini publik Indonesia thd krisis politik di Mesir. Sepengetahuan sy, tuduhan tsb tidak berdasar dan perlu diluruskan:
1. Dr. Karema datang ke Indonesia sbg delegasi Al-Azhar cq. Ikatan Alumni Al-Azhar Internasional di Cairo atas undangan Kementerian Agama RI untuk menghadiri Simposium internasional II ttg “Madrasah in The Global Context”, sbg salah satu pembicara utama. Simposium tersebut dilaksanakan di Hotel Horison Bekasi (3-5 Sept 2013). Dengan demikian, Dr. Karema adalah tamu resmi Pemerintah Indonesia cq. Kementerian Agama RI.
2. Selain mengikuti Simposium, Dr. Karema jg melakukan kunjungan ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (3 Sept 2013) dan menghadiri Undangan Fak. Dirasat Islamiyyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk memberikan kuliah umum (4 Sept 2013), selain bertemu dengan Pengurus Ikatan Alumni Al-Azhar Internasional Cabang Indonesia (2 Sept 2013). Sebagai catatan tambahan, dari seluruh pertemuan yang dihadiri Dr. Karema, tidak satu acara pun yang dikhususkan untuk berbicara ttg krisis politik Mesir. Di Simposium, tema yg diberikan terkait pola pengembangan madrasah yang dilakukan Al-Azhar. Di MUI, topik yang diajukan adalah perkembangan Islam dan Umat Islam dewasa ini, khususnya terkait kesemrawutan fatwa dan fatwa-fatwa politik. Begitu pula kuliah umum di Fak. Dirasat Islamiyyah UIN Jakarta, judul yang diminta adalah metode Ushul Fiqh dalam menjawab persoalan masyarakat modern. (Kebenaran ttg hal ini, bisa diperiksa di seluruh arsip2 surat terkait di lembaga2 tsb). Tapi tak urung, di tengah diskusi, muncul pertanyaan2 ttg perkembangan terkini di Mesir. Untuk menjawab pertanyaan2 itulah, Dr. Karema menyampaikan informasi dan pendapatnya ttg krisis politik di Mesir. (Untuk ini jg bisa dikonfirmasi kpd sekian banyak peserta yg hadir di MUI dan Fak. Dir. Islamiyyah UIN Jakarta).
3. Bagi yg mengikuti krisis politik di Mesir, sikap dan pandangan politik Dr. Karema tidaklah asing. Beliau punya data2 dan argumen sendiri yang menjadi landasan sikapnya, terutama dr perspektif ilmu fiqh yg menjadi keahliannya. Yang penting ditekankan, seluruh sikap dan pandangan politiknya sepenuhnya merupakan tanggungjawab pribadi Dr.Karema, dan
tidak ada hubungannya dengan lembaga-lembaga yg mengutus ataupun yg mengundangnya. Di samping itu, sebagai sebuah pendapat, bisa diterima, jg bisa di tolak. Setiap orang punya hak dan kebebasan untuk memilih menerima atau menolak suatu pendapat. Hanya saja, pada suatu kasus perbedaan pendapat, yg dibutuhkan adalah toleransi dan etika berbeda pendapat sebagaimana dicontohkan oleh para ulama pendahulu kita melalui ungkapan: “Pendapatku benar, tp tetap mengandung kemungkinan salah, dan pendapat orang lain salah, tp tetap mengandung kemungkinan benar.” Atau adagium: “Perbedaan tak boleh merusak persaudaraan”. Prinsip ini sy kira sangat penting dipegang teguh jika para elit masyarakat, seperti ulama, cendekiawan atau ustadz ingin memberi contoh yg baik thd masyarakat.

4. Jika memang diutus dg “misi” khusus dan dimaksudkan untuk memengaruhi publik Indonesia terkait krisis politik di Mesir spt dituduhkan, seharusnya Dr. Karema tidak hanya berkunjung ke MUI atau Fak. Dirasat Islamiyyah UIN Jakarta sj. Seharusnya beliau jg berkunjung ke ormas2 besar spt NU dan Muhammadiyah, atau lembaga2 negara spt DPR, Kemenlu, dll, atau bahkan organisasi kaum terpelajar spt MIUMI dan sejenisnya. Tentu waktu 4 hari tidak akan cukup untuk itu. Lebih dari itu seharusnya Dr. Karema berusaha mendapatkan publikasi dari media2 nasional di Indonesia agar pesannya sampai ke masyarakat yang lebih luas. Kenyataannya hal itu tidak terjadi dan sama sekali tidak ada upaya untuk melakukannya. Waktu beliau lebih banyak habis di bangku Simposium, dan tidak ada usaha pertemuan dengan media. Tentu sangat naif jika ingin memengaruhi opini publik Indonesia yg demikian besar, strateginya “hanya” dg melakukan kunjungan singkat, serta hanya bertandang ke MUI dan memberikan kuliah umum di Fak. Dirasat Islamiyyah UIN Jakarta.
5. Tanpa bermaksud menggurui atau menasehati, sebelum melontarkan pernyataan atau tuduhan, siapapun (termasuk yg sudah masyhur sbg ulama, cendekiawan, atau ustadz) sebaiknya melakukan klarifikasi, tabayun, dan berusaha mencari informasi yg cukup terlebih dahulu agar kemudian tidak menjadi pemicu fitnah di tengah2 masyarakat. Selain itu, bukankah Islam memerintahkan kita untuk tetap adil, bahkan terhadap orang yang kita benci? Kita boleh berbeda pendapat atau bahkan membenci seseorang, tp kita tidak diperkenankan mencemarkan kehormatannya atau bersikap tidak adil terhadapnya.
Semoga maklum, Wallahu A’lam.

Sumber : mosleminfo

Wow! Gubernur Jabar Jebolan PKS Dukung Penuh Event Miss World

 
Miss Indonesia 2012 Ines Putri Tjiptadi Chandra (tiga kiri), Direktur Corporate Affairs RCTI Syafril Nasution (empat kiri), dan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan (empat kanan), berpose bersama di Gedung Pakuan, Jalan Otista, Kota Bandung, kemarin

SUARA-MUSLIM.COM, Bandung – Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mendukung penuh penyelenggaraan puncak acara kontes kecantikan Miss World 2013 di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor, 28 September 2013.

Heryawan mengungkapkan, Miss World 2013 merupakan kompetisi tingkat dunia yang akan berkorelasi pada terangkatnya citra pariwisata Jabar. ”Lebih dari itu, ajang Miss World 2013 ini berbeda dengan kontes lainnya, karena pada puncak acara nanti tidak menampilkan busana pantai, sehingga tidak bertentangan dengan adat kita,” kata dia kemarin.

Dukungan Heryawan disampaikan untuk merespons pertemuan dengan Direktur Corporate Affairs RCTI Syafril Nasution. Syafril menuturkan, tahun ini Indonesia melalui MNC Media dipercaya oleh Miss World Organization untuk menyelenggarakan Miss World 2013. ”Sebuah kebanggaan bagi Indonesia dapat menggelar event dunia seperti ini,” ujar Syafril saat bertemu Heryawan di Gedung Pakuan, Kota Bandung, kemarin.

Hadir dalam acara itu antara lain Miss Indonesia 2012 Ines Putri Tjiptadi Chandra. Menurut Syafril, 130 negara akan berpartisipasi dalam perhelatan Miss World 2013. Beberapa kota seperti Bali, Yogyakarta, dan Jakarta akan dijadikan tempat karantina sejak 4–28 September. Dalam rangkaian acara itu, para kontestan juga akan melakukan kegiatan sosial di kota-kota tersebut.

Miss World 2013 akan menjadi edisi ke-63 dari kontes kecantikan Miss World. JakartadanBali akan menjadi tuan rumah bersama, dengan Nusa Dua akan menjadi salah satu tempat karantina kontestan. Pada malam penobatan di SICC, Miss World 2012 Yu Wenxia dari China akan menyematkan mahkota kepada penerusnya di akhir acara.

Hak siar Miss World 2013sepenuhnya menjadi milik MNC Group. Heryawan mengungkapkan, selama menjadi tuan rumah acara final Miss World 2013, pihaknya berkomitmen menampilkan keramahtamahan masyarakat Jawa Barat, karena hal ini bisa menjadi ajang promosi ke dunia internasional. ”Ini kesempatan yang baik untuk mengenalkan kebudayaan kita,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Heryawan juga memberikan masukan agar salah satu rangkaian acara menuju Final Miss World juga mengambil lokasi di tempat wisata Jawa Barat, misalnya Kawah Putih di Ciwidey, Kabupaten Bandung.  (au/koransindo)

Foto: koran-sindo.com

Website PKS Piyungan Memakai Pageviews Palsu

Laporan Khusus


SUARA-MUSLIM.COM, Bantul ~ Sebuah website Partai Islam semestinya menjadi contoh bagi pengunjung agar selalu menjunjung tinggi kejujuran. Namun ada kalanya mereka mengabaikan hal yang sepertinya kecil namun tetap saja hal tersebut merupakan kebohongan yang nantinya akan dipertanggungjawabkan kelak. 

Jika anda pernah melihat website resmi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Piyungan (sebuah kecamatan di Kab. Bantul) yang beralamat di www.pkspiyungan.org, cobalah anda lihat di bagian bawah lalu lihat Pageviews. Sampai dengan tulisan ini dimuat, jumlah pengunjung yang tertera di website tersebut mencapai 49 juta lebih. Darimana angka ini didapat? Kok bisa angkanya terus berjalan dengan sangat cepat?.

Coba kita cek rangking alexa dari website PKS Piyungan. Sampai dengan tulisan ini dimuat (05/09), ternyata untuk global alexa, web PKS Piyungan "hanya" menempati rangking 20.182, sementara untuk tingkat Indonesia mereka "cuma" menempati rangking 377. Mana mungkin sebuah website dengan jumlah visitor sebanyak 49 jutaan berada pada urutan yang jauh di alexa rank?.

Dalam pengumumannya hari ini di websitenya, Admin PKS Piyungan tetap membantah pageviews-nya palsu. Mereka tetap bersikukuh bahwa pageviews yang dipake web PKS Piyungan adalah pageviews default (bawaan) dari blogger. Namun sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga.

Jika pembaca masih belum yakin, sekarang silahkan anda mencoba untuk memutuskan koneksi internet anda, lalu lihat halaman website PKS Piyungan yang belum anda tutup tadi. Apa hasilnya? Ajaib! , angka jumlah pengunjung di website PKS Piyungan tersebut tetap berjalan dengan sendirinya dengan cepat meskipun koneksi internet telah dimatikan. Ini berarti counter tersebut berjalan dengan jumlah konstan bukan karena ada pengunjungnya, tapi memang berjalan dengan sendirinya karena menggunakan fake counter (jumlah pengunjung palsu). Jadi, ada atau tidaknya pengunjung, counter akan terus berjalan dengan sendirinya. Tidak heran naiknya angka tersebut bersifat konstan, seperti detik jam yang berjalan. Astaghfirullah! kami telah tertipu PKS Piyungan.

Apa sih tujuan dari rekayasa tersebut? Bisa jadi hal tersebut dilakukan untuk "politik pencitraan" saja, ada upaya yang membuat website PKS terkesan banyak pengunjungnya dengan cara-cara tidak jujur. Bahkan pada bulan mei 2013 lalu hal ini menjadi liputan eksklusif dari admin PKS Piyungan yang dengan sengaja mengcapture jumlah pengunjung yang saat itu berjumlah 25 juta orang. Dalam pengakuannya, website PKS Piyungan lahir pada tahun 2008, dan jumlah pengunjung setelah limat tahun (pada mei 2013) berjumlah 25 juta, lalu hanya dalam waktu 4 bulan tiba-tiba jumlah pengunjung tersulap menjadi 49 juta. Wow!! Fantastis.Sungguh ironis apabila kebohongan tersebut dilakukan oleh Partai yang menjunjung tinggi nama Islam. 

Mungkin ada sebagian pembaca yang menilai masalah tersebut adalah masalah kecil jangan dibesar-besarkan. Ya memang! itu masalah kecil , namun jika pada hal yang kecil dan sederhana saja PKS telah terbiasa berbohong, maka bagaimana bisa jujur untuk hal yang lebih besar?
(abu umar/ suara-muslim)

Ada Apa Dengan Media PKS yang Terus Lecehkan Al-Azhar?


SUARA-MUSLIM.COM, Jakarta — Runtuhnya rezim Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir memberikan efek domino yang sangat dahsyat bagi gerakan-gerakan Islam yang berafiliasi ke IM. Setelah strategi mereka gagal dalam memperburuk citra revolusi rakyat Mesir 30 Juni kemarin dengan menamakannya ‘kudeta militer’, kini mereka beralih untuk menyerang institusi Islam terbesar dan tertua di dunia saat ini, Al-Azhar.

IM telah menabuh genderang perang media untuk memperburuk citra militer dan Al-Azhar di mata dunia. Berbagai berita bohong baik berupa video maupuan foto sengaja disebar demi mendapatkan simpati dunia. Pihak militer pun tidak henti-hentinya juga untuk membela diri bahwa tragedi berdarah di Mesir selama ini justru dilakukan oleh pihak IM sendiri, atau justru dilakukan oleh pihak ketiga yang sampai sekarang masih menjadi ‘hantu’ bagi rakyat Mesir.

Sementara itu, PKS yang merupakan gerakan Islam Indonesia yang berafiliasi ke IM seakan tidak rela induknya diruntuhkan oleh rakyat Mesir. Mereka akhirnya bergerak rapi dan serempak untuk memuluskan kampanye media yang sedang dipimpin oleh IM Mesir.

Beberapa waktu lalu, situs-situs berlabel Islam yang dimotori oleh para kader PKS melakukan fitnah keji terhadap orang nomor satu di kalangan umat Islam Mesir, Grand Shaikh Al-Azhar Prof. Dr. Ahmad Thayeb. Mereka membuat berita pembusukan karakter Grand Shaikh dengan judul ‘Syeikh Made in Perancis’ yang pertama kali disebarkan oleh situs dakwatuna yang akhirnya disalin oleh beberapa situs PKS lainnya.

Seakan PKS belum puas dengan ulahnya tersebut. Partai yang mantan ketua umumnya saat ini terkena kasus korupsi impor daging sapi dan pernikahan di bawah tangan dengan daun muda ini, meriliskan tulisan provokatif lagi yang pastinya akan sangat melukai hati para ulama Al-Azhar dan para pelajar yang ikhlas menuntut ilmu di bumi Mesir sana. Tulisan tersebut diberi sebuah foto Grand Shaikh Al-Azhar yang diedit dengan memakai pakaian tentara dengan diberi tulisan ‘Syaikhul Askar’ yang berarti Syekh Tentara. Tulisan provokatif tersebut dirilis pertama kali oleh situs resmi pkspiyungan. PKS terkenal miliki banyak kader yang sedang menimba ilmu di Al-Azhar Mesir. Terbukti setiap pemilu, PKS mendapatkan suara terbanyak dan menang telak di Mesir dari partai-partai nasional lainnya. Sebenarnya apa yang dinginkan oleh PKS dengan melecehkan orang nomor satu di kalangan umat Islam Mesir itu?. [au/ mosleminfo]

Jangan Jadikan Agama Sebagai Komoditas Politik!


SUARA-MUSLIM.COM, Kudus ~ Agama tidak boleh dijadikan komoditas maupun jargon-jargon politik. Penggunaan simbol agama merupakan bentuk ketidakdewasaan berpolitik yang bisa memicu konflik umat beragama.

Demikian yang disampaikan pemerhati masalah sosial dari Pesantren Qudsiyah Menara Kudus Dr Abdul Jalil M.EI dalam Rapat Koordinasi “Dari Konflik Agama hingga Mediasi Peradilan” yang diselenggrakan Kesbangpolinmas Pemprof Jawa Tengah di Hotel Griptha Kudus, Rabu (28/8).

Dalam makalahnya yang berjudul Konflik Agama; Alternatif penyelesaian di Luar pengadilan, Abdul Jalil memaparkan, agama memiliki peran penting dalam politik guna memperindah nilai-nilai kehidupan. Namun, peran dan posisi agama tidak lebih dari sebuah sumber maupun pedoman dalam moralitas dan etika politik.

Ditegaskan dia, agama adalah sumber inspirasi bagi segala sendi kehidupan manusia. Namun, bila tidak dikelolala dengan baik akan mampu menjadi sumber konflik antarumat beragama.

“Termasuk pula, simbolisme agama (base of simbolism religion) dalam politik sangatlah berbahaya. Karena akan meemacu konflik umat beragama berbaju politik,” tandas Jalil yang juga Pengurus Pusat Lembaga Bahsul Masail Nahdlatul Ulama (PP LBMNU).

Penyebab konflik berbasis politik lainnya, kata dia, buruknya komunikasi politil para elite partai. Komunikasi yang buruk, misalnya memandang lawan politik sebagai musuh besar sehingga dianggap tabu untuk bersikap ‘wajar’ antarsesama.

“Mereka bahkan cenderung mengeluarkan tudingan tudingan dan cercaan satu sama lain pada kesempatan dan tempat berbeda. Mereka tidak menyadari tindakan tersebut bisa memicu konflik lanjutan di tingkat grassroot (akar rumput),” imbuhnya.

Disamping itu, lanjut dosen STAIN Kudus ini, kesadaran politik masyarakat yang masih rendah dan belum memahami makna nilai-nilai demokrasi seperti menerima perbedaan pendapat dan toleransi. Meskipun sudah banyak yang berteriak demokratis, namun masih ada masyarakat menganggap lawan konflik sebagai pihak yang harus “dimusnahkan”.

“Padahal pemaknaan terhadap nilai demokratis tersebut akan menghindarkan masyarakat dari penggunaan cara-cara represif dan anarkis penyelesaian persolan termasuk masalah politik,” tegas Jalil.

Di depan peserta yang berasal dari komponen masyarakat di Kudus, Jalil juga menguarai konflik umat beragama berbasis idiologi dan negara. Ia menekankan untuk meredam konflik adalah mentransformasi dan menaikkan daya tarik kearifan lokal dan tradisi kepada dunia.

“Setiap waktu akan ada perbedaan dalam mengekspresikan agama, dan tugas kita bukan menilai mana yang salah dan mana yang benar. Akan tetapi mana yang lebih potensial sesuai tuntutan ruang-waktu,” paparnya.

Rapat Koordinasi yang diselenggarakan Kesbangpolinmas Jateng ini berlangsung mulai Rabu-Kamis (28-29/8). Sejumlah praktisi mediasi, pakar dari kalangan akademis dan pengurus Forum Kerukunan Ummat Beragama (FKUB) Jawa Tengah menjadi pembicara. [AM/ NU Online]

Mas-ul Ihwanul Muslimin, Mustofa Al Ghanimi Ditangkap di Kota Nasr


SUARA-MUSLIM.COM, Kairo ~ Portal berita Elwatan News melansir sebuah kabar penangkapan Tokoh Ikhwanul Muslimin Mushtofa Thahir Al-Ghanimi, anggota Maktab al-Irshad dan Mas-ul Ikhwanul Muslimin. Ia ditangkap didalam apartemennya di Nasr City, pada Kamis (22/8/2013).

Sebelumnya, juru bicara resmi Ikhwanul Muslimin juga ditangkap di Nasr City. (baca: Ahmad Arif, Juru Bicara Ikhwanul Muslimin Ditangkap di Nasr City).

Pemerintah Mesir gencar melakukan penangkapan terhadap tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin. Diantara yang sudah tertangkap adalah Mursyid 'Am Ikhwanul Muslimin Dr. Muhamamd Badie' yang ditangkap di wilayah Rabe'ah El Adawiyah (20/8/2013). (baca: Tokoh dan Pengusaha Ikhwanul Muslimin Juga Ditangkap)

Penangkapan terhadap pimpinan IM Muhammad Badi' itu mendapat kecaman dari Amerika Serikat. Gedung Putih mengatakan penangkapan itu bertolak belakang dengan komentar-komentar militer untuk mendorong suatuproses politik inklusif. Sebagaimana diberitakan oleh Republika (21/8/2013).

Sumber: Muslimedianews

Inilah Foto-foto Hoax Terkait Konflik di Mesir!

Penyebaran foto-foto palsu ala Mujahilin tersebut membuktikan bahwa perjuangan mereka bukan Demi Allah (Lillahi Ta'ala) tetapi hanya Demi Mursi (Ikhwanul Muslimin) saja.

SUARA-MUSLIM.COM, Kairo ~ Ketika isu krisis Mesir semakin memanas, di dunia maya justru ada beberapa oknum yang secara tidak bertanggung jawab menyebarkan berita bohong untuk menarik perhatian. Berita bohong umumnya berisikan foto kekerasan dimana kelompok yang mereka dukung ditempatkan sebagai korban sehingga masyarakat lebih simpati.

Saya tidak setuju dengan cara-cara seperti itu, selain karena menyesatkan informasi pada masyarakat, hal seperti itu justru hanya membuat keadaan semakin ricuh, karenanya saya berusaha mengumpulkan beberapa foto hoax yang berhasil saya temukan. Disini saya sengaja tidak mengaburkan nama akun penyebar berita hoaxnyanya agar masyarakat tahu dan lebih berhati-hati jika menerima informasi dari mereka.

Yang pertama adalah foto mengenai seorang wanita yang tewas dalam keadaan tersenyum. Saya tidak tahu sumber hoax ini darimana, namun hoax ini saya baca daristatus facebook Jonru Ginting, seorang penulis yang cukup terkenal.



Dalam caption foto tersebut dikatakan bahwa foto yang di sebelah kanan adalah mayat pendukung Ikhwanul Muslimin yang menjadi korban kekerasan militer Mesir. Keadaan mayat yang dalam kondisi tersenyum dikatakan sebagai bukti bahwa korban tersebut meninggal dalam keadaan syahid sehingga yang didukungnya (Ikwanul Muslimin) adalah pihak yang benar.

Dilihat dari wajahnya saja saya ragu bahwa foto di sebelah kanan adalah foto orang yang sudah meninggal, karena saya belum pernah melihat mayat dengan wajar dan mulut seperti itu,  dan tanpa perlu repot mencari tahu, seseorang sudah membantah kebenaran foto tersebut di di komentarnya.

Ternyata foto yang di sebelah kanan bukanlah foto korban kekerasan yang ada di Mesir, melainkan foto orang-orang di Malaysia yang sedang melakukan latihan pengurusan jenazah. Gambar tersebut dipublikasi pada Juli 2011. Menurut keterangan rekan saya yang dari Malaysia, disana memang biasa melakukan pelatihan jenazah termasuk diajarkan juga di sekolah-sekolah.


Foto kedua saya dapatkan dari dari sebuah postingan di grup pendukung PKS. Pada foto ini nampak seorang wanita ditendang oleh beberapa pria dengan pakaian militer.
Wanita Ditendang Oleh Militer Mesir

Sebenarnya baik foto maupun keterangan yang ditulis tidak ada yang salah. Memang benar bahwa pelaku kekerasan tersebut adalah militer mesir, namun yang menjadi masalah adalah karena foto ini dikaitkan dengan peristiwa kerusuhan yang terjadi pada tahun 2013, padahal foto ini diambil dari peristiwa demonstrasi penurunan rezim Mubarak yang dilakukan di Tahrir Square pada tahun 2011.

Sumber: NPR

Foto ini diposting oleh Arida Sahputra yang sebagai ketua DPC PKS Kecamatan Kuta Alam. Dalam postingannya dikatakan bahwa ini adalah polisi yang menolak pembantaian pendukung Mursi sehingga justru mereka lah yang ikut menjadi korban pembantaian.

Pembantaian Militer
Agak lucu sebenarnya sewaktu beliau menyebut kata “polisi” padahal sudah jelas yang tergeletak disana adalah orang-orang dengan pakaian militer. Mungkin maksudnya anggota militer bukan polisi. Tapi apapun maksudnya, yang jelas foto ini tidak terkait dengan pembunuhan pendukung Mursi seperti yang diinformasikan.

Militer di gambar tersebut memang dari Mesir, terlihat dari selempang yang mereka gunakan, namun foto tersebut bukan korban pambantaian militer yang menentang Mursi melainkan korban dari bom bunuh diri yang terjadi Mei 2012. Kumpulan fotonya bahkan telah dibuat dalam bentuk video dan diunggah di Youtube.

Sumber lain yang menjelaskan hal tersebut diantaranya yang sayangnya ditulis dalam Bahasa Arab sehingga saya kesulitan untuk mengetahui detail peristiwa dan melakukan penelusuran lebih lanjut untuk mencari sumber benar-benar kredibel.

Sumber: ShamarPress | Yamenat

Penulis : Candra Wiguna
Redaktur : Abu Umar

Blunder Mursi kepada Rakyat Mesir


SUARA-MUSLIM.COM ~ Lengsernya Morsi dari kursi presiden mengingatkan saya ketika berada di Mesir di awal-awal keberhasilan revolusi Mesir, Juni 2011 - Juli 2012. Saya ikutan lihat gimana demo di tahrir, antusias rakyat mesir terhadap revolusi, termasuk mengintip jalannya pemilu.

Ketika itu, disekelilingku ada beberapa teman arab mesir, temannya suami. Saya ingat perbincangan dengan Osama, Sa’ad, Mr. Kaled dan beberapa orang lain, kekhawatiran terpendam jika Ikhwanul menang.

Dengan terus terang mereka menyatakan, khawatir akan ada polisi syariah. Yang memantau gerak-gerik menjalankan ibadah. Yups, gimana tidak khawatir, sebelum pemilu saja sudah ada patroli di beberapa tempat oleh kelompok Salafi. Mereka menegur jika seorang perempuan memakai kerudung kependekan, baju terlalu ketat, dan sebagainya. Juga menegur seorang lelaki jika tidak jenggotan.

Kelakuan ini amat dikritik oleh media. Termasuk al ahram, sehingga menjelang pemilu, khawatir kehilangan simpati dan suara, patroli ini dihentikan.

Selain itu, yang mengenaskan adalah pembakaran gereja yang dilakukan oleh kelompok Salafi. Sayang, demo warga koptik tidak mendapat tanggapan yang memadai, sehingga tidak ada kejelasan hukum yang melindungi warga koptik.

Yang bergerak justru masyarakat sipil Mesir. Melalui media sosial semacam FB, islam moderat mesir ikut menjaga gereja-gerja koptik ketika natal dan tahun baru tiba. Khawatir ada serangan dan pembakaran lagi.

Setelah pemilu, IM mendapatkan 48% dan kelompok Salafi, partai Al Noor mendapatkan 24%.  Morsi terpilih menjadi Presiden. Aku selalu beranggapan, IM berbeda dengan An Nour. Karena IM partai terbuka, siapapun bisa ‘mewarna’ gerakan ini. Dan memang, sekarang IM sangat diwarnai oleh pemikirran wahabi/salafi. Sangat disayangkan.

Dan seperti dugaan berbagai pihak, alih-alih merangkul pihak lain, Mursi malah melakukan blunder parah terhadap rakyat Mesir. Beberapa diantaranya adalah:

1. Dekrit yang memberikan kuasa penuh kepada Morsi pada bulan November 2012. 
Dekrit ini memicu kemarahan luar biasa rakyat Mesir karena berarti Morsi sama otoriternya dengan pendahulunya, yaitu Mubarrak. Termasuk ketika itu, Morsi membungkam beberapa media yang mengkritik keras kebijakannya.

2. Amandemen konstitusi ke arah syariah islam. 
Alih-alih secara serius memperbaiki ekonomi Mesir, Morsi melalui IM dan An Nour malah melakukan amandemen terhadap konstitusi yang tadinya berazaskan sekuler menjadi Islam. Berdasarkan Syariat Islam. Yang menjadi pertanyaan, syariat versi siapa? La wong kelompok Salafi/An Nour ini ketika rapat di parlemen saja tidak mau berdiri menghormati bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan mesir, karena dianggap bid’ah.

3. Intervensi dan Intimidasi Morsi kepada Al Azhar
Beberapa kebijakan Morsi ditentang oleh Ulama Al Azhar, termasuk ketika dia membuat obligasi yang tidak masuk akal kepada rakyat Mesir, dan dekrit kekuasaan penuh itu. Tiba-tiba terjadi kasus keracunan yang membuat korban mahasiswa Al Azhar sebanyak 500 orang. Kasus keracunan ini menjadi jalan masuk intervensi Morsi/IM ke Al Azhar dengan mencopot petinggi Al Azhar. Hal ini memicu kemarahan Al Azhar dan menganggap bahwa kasus keracunan adalah ’skema buatan MOrsi dan IM’ untuk intervensi dan intimidasi ke Al Azhar.
Menentang Al Azhar berarti ini sudah menjadi ‘jalan masuk penentangan otoritas yang sangat dihormati dalam memberikan ‘fatwa’ ataupun acuan keislaman (moderat?) rakyat Mesir.

4. Morsi tidak mampu mengontrol militansi IM & Salafi di Lapangan
Beberapa serangan yang dilakukan, baik terhadap masyarakat sipil, gereja, maupun kantor gubernur dibeberapa daerah dilakukan oleh militansi IM dan Salafi. Dan ini semakin membuat masyarakat tidak simpatik.
Selain itu, kekuasaan berbagai posisi strategis memang diberikan kepada kelompok IM dan Salafi. Ini yang membuat pihak oposisi menyatakan bahwa seolah Mesir menjadi milik IM dan Salafi.

5. Kedok Agama untuk Melanggengkan Kekuasaan
Ketika demo besar-besaran 30 juni lalu direncanakan, pengikut Morsi dan kelompok Salafi menyatakan bahwa penentang Morsi dicap sebagai ‘kafir, munafik, dan seterusnya. Bahkan, yang mengejutkan, saya juga pernah membaca update status teman Indonesia yang mendukung Morsi menyatakan bahwa pendemo Morsi ‘dilaknat’ oleh Alllah SWT.
Ini berarti agama sudah digunakan untuk melanggengkan kekuasaan. Syukurnya, ulama Al Azhar menyatakan bahwa demo damai tidak masalah. Jangankan itu, Ulama Al Azhar bersama Uskup Agung Koptik ikut press conference bersama militer ketika menjatuhkan Morsi.

Mesir, telah mengalami revolusi jilid 2. Semoga ke depan lebih baik lagi. Semoga negeri pada nabi dan aulia ini bisa melakukan rekonsiliasi, konsensus, dan mengurus negaranya sendiri dengan sebaik-baiknya. Tidak terikut ‘bara’ lain yang sedang panas.

Redaktur: AM

Arab Saudi, UEA, Bahrain, Kuwait, Yordania Dukung Pemerintah Mesir


SUARA-MUSLIM.COM, Riyadh — Negara-negara Arab mendukung pernyataan Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Aziz yang mendukung Pemerintah Mesir memerangi "terorisme".

Pemerintah Uni Emirat Arab mengatakan, pernyataan Arab Saudi datang di saat yang tepat dan mendapat dukungan penuh Uni Emirat Arab (UEA).

"Pernyataan Saudi mencerminkan kesadaran dan pendekatan yang sangat hati-hati terkait kondisi di Mesir," demikian pernyataan Pemerintah UEA yang dikutip kantor berita WAM.

"UEA menggarisbawahi bahwa pernyataan Saudi menunjukkan Raja Abdullah sangat peduli atas keamanan dan stabilitas Mesir," lanjut pernyataan itu.

Pemerintah UEA melanjutkan, posisi Saudi yang menentang kelompok yang memicu perpecahan dan kekacauan akan mendorong kemenangan Mesir, Islam, dan dunia Arab.

"Posisi Saudi yang berani dan rasional ini memang diharapkan datang dari Sang Penjaga Dua Masjid Suci," pungkas UEA.

Pemerintah Mesir juga memuji dukungan Raja Arab Saudi itu. Pemerintah Mesir mengatakan, negeri itu tak akan pernah melupakan pernyataan bersejarah Raja Abdullah ini.

Dukungan juga datang dari Bahrain. Dalam sebuah pernyataan resmi, Kerajaan Bahrain menyatakan bahwa Mesir memiliki hak untuk menegakkan peraturan di negerinya, memerangi terorisme dan kekerasan.

"Pemerintah Mesir juga berhak menghentikan penghancuran berbagai bangunan di negeri itu," demikian Pemerintah Bahrain.

Sementara itu, Kuwait menyatakan bahwa negara-negara Teluk memastikan dukungan untuk Pemerintah Mesir, yang mencoba mempertahankan keamanan dan stabilitas kawasan Afrika Utara.

Namun, Pemerintah Kuwait juga menyesalkan jatuhnya banyak korban tewas dan penghancuran banyak properti negara. Demikian pernyataan Pemerintah Kuwait seperti dilaporkan kantor berita KUNA.

Kerajaan Jordania juga tak ketinggalan memuji Arab Saudi, yang memilih posisi mendukung Pemerintah Mesir.

Redaktur: Abu Umar
Sumber: Alarabiya via Kompas

Mengapa Rakyat Mesir Mendukung Penumpasan Ikhwanul Muslimin?


SUARA-MUSLIM.COM ~ Pembunuhan lebih dari 600 orang di Mesir pada “Rabu Berdarah” dan 150 orang pada “Jumat Kemarahan” telah mendorong kecaman dunia internasional, tetapi pemerintahan sementara Mesir yang didukung militer justru menikmati dukungan domestik yang luas untuk tindakan keras yang mereka lakukan terhadap Ikhwanul Muslimin (IM).
Media pro-pemerintah dengan tegas menggambarkan IM sebagai “teroris” yangkeberadaannya mengobarkan perpecahan sektarian. Aksi anarkisme dalam demo yang mereka lakukan juga membuat sebagian masyarakat Mesir menjadi tambah antipati. Bayangkan, dirundung dalam demo berhari-hari membuat rakyat Mesir tertekan dalam rasa tidak aman.
Faktanya, memang sejak IM naik ke panggung kekuasaan telah terjadi polarisasi yang luas di kalangan masyarakat Mesir. Polarisasi makin memburuk ketika Presiden Morsi digulingkan pendemo dengan dukungan militer dari kekuasaan. IM di sisi pendukung Morsi dan kelompok masyarakat sipil di sisi lain menentangnya. Kemudian militer turun tangan ketika pertentangan kedua kelompok makin meruncing.
Wawancara yang dilakukan The Guardian pada beberapa kelompok masyarakat menunjukkan bahwa semenjak aksi penumpasan pendemo anarkis oleh militer, dukungan pada pemerintah sementara Mesir justru meningkat. Ini memang fenomena yang agak aneh. Ketika masyarakat internasional mengutuk peristiwa tersebut, beberapa komponen masyarakat Mesir justru mendukung penuh tindakan pemerintahnya.
“Mereka layak mendapatkannya. Mereka ingin menghancurkan negara, jadi itu sebabnya militer harus turun tangan,” kata Salah Amin, seorang mahasiswa berusia 17 tahun dari Sharqiya, saat ditemui pada hari Jumat ketika kekerasan kedua meletus di Kairo. “Saya mendukung tindakan tentara dan polisi terhadap IM, mereka ingin merusak Mesir dengan cara mengelola negara seperti yang mereka inginkan.”
Pada hari Rabu penduduk daerah Rabaa di Kairo timur terlihat bersorak ketika pasukan keamanan bergerak untuk membubarkan enam minggu aksi demo di sana dan di Nahda Square. “Kami setuju dengan apa yang terjadi di Rabaa dan Nahda,” kata Mohamed Khamis, juru bicara Tamarod (Pemberontakan), yang memobilisasi opini publik untuk menjatuhkan Morsi yang terpilih secara demokratis tetapi sangat tidak populer. “Kami tidak menyukai apa yang IM lakukan,” katanya.
Beberapa orang lainnya membuat perbedaan antara perlawanan politiknya terhadap IM dengan perasaan mereka tentang begitu banyak orang Mesir yang terbunuh. “Bahkan orang-orang seperti saya yang memiliki posisi yang jelas bahwa kami sedang menghadapi entitas teroris, tidak bisa tidak merasa prihatin bagi semua korban yang terbunuh,” kata komentator liberal Hisham Kassem.
Analis politik sudah sedari awal melihat adanya pertumbuhan rasa permusuhan terhadap IM sejak revolusi 2011 dan terutama selama setahun pemerintahan Morsi berlangsung. “Saya memperkirakan bahwa 80% dari rakyat Mesir benar-benar kecewa dengan Islami politik yang diwakili oleh IM dan ingin melihatnya tercerabut dari kehidupan politik Mesir,” kata Hazem Kandil, seorang sosiolog politik Mesir di Universitas Cambridge.
Pendukung IM menuntut pemulihan Morsi di kursi keprisidenan dan menuduh tentara dan pemerintah sementara saat ini berusaha untuk kembali ke gaya diktator Hosni Mubarak, yang digulingkan pada bulan Februari 2011. Namun, penentang IM balik menuduh bahwa IM justru yang sedang melakukan hal tersebut.
Jurnalis veteran sayap kiri Hani Shukrullah mengahtakan bahwa intensitas kebencian terhadap IM benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan gelegaknya jauh melebihi saat rakyat Mesir melawan rezim Mubarak, justru karena IM saat berkuasa dianggap sedang berupaya untuk menciptakan kembali sistem otoriter seperti zaman rejim Mubarak.
Umumnya, para pejabat Mesir dan liberal menyalahkan media Barat karena melaporkan hanya dari satu sisi. Beberapa orang marah pada negara Barat karena begitu mudah percaya dengan informasi yang disampaikan IM, terutama pada AS dan Inggris. “Pertama diplomat mendapat sindrom Stockholm dan sekarang media,” gurau Kassem.
Orang-orang biasa menjadi sangat marah dengan sikap beberapa negara. “Saya di sini mendukung militer dan polisi,” kata ibu rumah tangga Hamidah Mohameda pada demonstrasi pro-pemerintah. “Kami tidak ingin Qatar atau Turki atau Amerika ikut campur. Kami tidak ingin bantuan mereka. Orang-orang Mesir harus mengatur diri mereka sendiri,” teriaknya lantang.
Banyak orang Kristen, khawatir dengan sifat sektarian dari IM dan oleh serangkaian serangan terhadap gereja-gereja, karena mereka secara terbuka mendukung Sisi. “Kristen seperti saya benar-benar takut pada apa yang IM lakukan.” kata Eman Said, seorang Koptik. Diberitakan bahwa terdapat empat gereja yang dibakar oleh demonstran pro-Morsi. Sumber di Gereja Koptik mengatakan bahwa tambahan 13 gereja diserang tapi tidak dibakar. Magda Haroun, presiden komunitas Yahudi Mesir, mengatakan: “[Dengan penumpasan demonstran pada hari Rabu] tentara dan polisi telah menyelamatkan Mesir dari perang saudara,” ujarnya tegas.
Satu-satunya stasiun TV yang pro IM di Mesir adalah Al-Jazeera, ditambah beberapa stasiun televisi dan media cetak kecil milik pribadi. Di sisi lain, media pro-pemerintah lebih banyak dan lebih mudah diakses masyarakat Mesir. Al Akhbar, salah satu surat kabar Mesir paling populer, melaporkan pembantaian Rabu di bawah judul: “Mesir Menghadapi Terorisme” dan menyoroti 43 korban jiwa yang diderita oleh pasukan keamanan serta klaim adanya penggunaan senjata api dan penyiksaan di Rabaa, di mana IM menyangkal dengan keras.
Al-Ahram membuat headline dengan judul: “Hari Keputusan” di dalamnya sama sekali tidak membahas tindakan aparat keamanan yang tidak proporsional dalam merespon pembubaran demo di Rabaa dan Nahda. Sorotan justru diarahkan pada penggunaan senjata api oleh IM dan penyiksaan di lokasi kerusuhan.
Berita terbunuhnya 43 polisi dan lebih dari 140 terluka memang cukup mengemuka. Diberitakan bahwa jumlah korban tersebut berasal dari 21 pos polisi yang diserang oleh pendukung IM. Bahkan, saat penyerbuan kantor polisi Kerdesa (tidak jauh dari piramida Giza), penyerbu tidak hanya membunuh polisi yang bertugas di sana tetapi tubuh mereka dimutilasi.
Lebih jauh, jurnalis veteran sayap kiri Hani Shukrullah, mengatakan: “IM tentu saja berhak melakukan demo, dan pemerintah berhak menertibkan suatu demo, tapi seandainya itu terjadi di China, kejadiannya akan jauh lebih buruk. Ini terjadi dalam semua revolusi. Dan kita akan sembuh. Masalahnya adalah berapa lama waktu yang dibutuhkan.”

Penulis: Ar Kus / Kompasiana
Sumber: the guardian, detikom, dan kompas.

Kejahatan-Kejahatan Politik Ikhwanul Muslimin (IM)

SUARA-MUSLIM.COM - Pagi hari tgl 24 maret tahun 1948 M ketika seorang hakim bernama Ahmad Bik Alkhozandar keluar dari rumahnya menuju ke daerah bernama helwan, dengan berjalan kaki menuju stasiun kereta tiba-tiba dadanya ditembus peluru dari pistol otomatis kaliber 9 mm merek Bareta, penembakan itu bertujuan untuk membalas dendam terhadap Khozandar dan juga untuk menakut-nakuti para hakim lainnya agar tidak mengadili perkara yang berhubungan dengan tuduhan yang tidak jelas pada ikhwan atau anggotanya.Dengan kejadian ini kesatuan khusus yang awalnya dibentuk untuk melawan pasukan penjajah dan zionis Israel jadi melenceng. 

‘’Seorang hakim yang muslim, apalagi dia seorang sipil, dibunuh hanya karena hakim itu menangani perkara dari salah seorang anggota Ikhwanul Muslimin“ 

Kolonel Fu’ad ‘Allam (mantan wakil intelijen Mesir)   

Kedua pelaku penembakan lari keatas bukit dan berhasil dikepung oleh polisi, kedua pelaku itupun berhasil ditangkap, setelah lima bulan dijatuhkanlah hukuman terhadap pelaku yaitu Hasan Abdul Hafidz dan Mahmud Zein Hum dengan hukuman kerja paksa seumur hidup tanpa upah .    “kami melakukan persidangan terhadap Abdurrohman Sanadi  “apakah kamu diperintahkan imam syahid ?”. “apakah kamu diinstruksikan Imam syahid untuk membunuh Al-Khozandar ?”  

Mahmud As-Shobagh (salah satu Komandan kesatuan khusus IM)

“Abdurrahman Sanadi (Komandan satu kesatuan khusus IM) membela dirinya di persidangan yang dipimpin oleh DR.Abdul Aziz KAmil, bahwa ia memang ditugaskan oleh Hasan Al-Banna (untuk membunuh Khozandar) dengan pernyataan (Abdurrrahman Sanadi) tersebut , sebagian ikhwan berharap semoga pemimpin jama’ah (Hasan Al-BAnna) tidak terseret dalam kasus ini, (mereka berharap pula) kasus ini cukup antara si pelaku dan pihak keamanan saja.”                                                                                                             
DR.Ahmad Roif (Cemdikiawan Islam)

“Imam syahid sangat sedih dan menangis tersedu-sedu melihat kasus ini ( mengingat beliau tidak pernah menginstruksikan membunuh rakyat sipil), (iman syahid tidak habis pikir) mengapa Abdurrahman Sanadi  bisa membuat pernyataan seperti itu ?”                                                               

Mahmud As-Shobagh(salah satu Komandan kesatuan khusus IM)

“Hasan Al-Banna berkata ,”Setelah kejadian ini tidak boleh ada lagi aksi apapun  tanpa surat perintah tertulis resmi dari saya”. Beberapa penangggung jawab kesatuan khusus menolak kebijakan yang diputuskan fadhilatul Ustadz (Hasan Al-Banna) ini (penanggung jawab yang menolak kebijakan Hasan Al-Banna) mengatakan, “Sudahlah… tidak masuk akal jika urusan seperti ini saja harus dengan surat resmi  …kalau begini, kita tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali atas persetujuan dari komandan kesatuan khusus yang lima orang itu” 

Ahmad ‘Adil Kamal (salah seorang kader kesatuan khusus Ikhwanul Muslimin)

“Pernah ditanyakan kepada Abdurrahman As-Sanadi mengapa ia membunuh khozandar  (Abdurrahman As-Sanadi selaku komandan) pelaku mengatakan,” Dalam gambaran saya aksi ini akan disetujui oleh Fadhilatul Mursyid” seperti itu kira-kira…  karena Mursyid tahu bahwa (Abdurrahman) Sanadi berkata jujur (lugu), makanya Imam Syahid menangis, sementara itu keputusan ada di tangan pengadilan. Ikhwan membenarkan bahwa saudara Abdurrahman As-Sanadi telah jatuh pada pemahaman yang salah, dimana ikhwan belum pernah melakukan aksi ini sebelumnya mereka (IM) memandang peistiwa (pembunuhan) ini sangat keliru, tidak ada prinsip (IM) mendorong Abdurrahman atau (ikhwan) lainnya, membunuh orang tanpa alas an, namun yang mereka maksud (dibolehkan) membunuh orang seperti cendekiawan Mesir (untuk alasan tertentu) contohnya Khozandar. Artinya mereka membolehkan membunuh orang tertentu untuk tujuan politik seperti pembunuhan terhadap khozandar lantaran itulah maka tersangka membunuh rakyat yang tidak bersalah “.

Rof’at As-Sa’id(Ketua partai Sosialis Mesir)   

“Kami memperingatkan Sanadi agar tidak mengulangi kesalahan ini lagi, kesatuan khusus tetap berjalan tetapi tidak melibatkan Abdurrahman lagi. Imam Syahid mengatakan,”kita akan membayar ganti rugi (kepada keluarga Khozandar) dan meminta pemerintah untuk mewakilkan penyerahan ganti rugi tersebut kepada keluarga Khozandar. Setelah permasalahan ini selesai, tidak boleh terulang lagi kejadian ini pada ikhwan” 

Mahmud As-Shobagh(salah satu Komandan kesatuan khusus IM)   

 “Ini pernyataan ikhwan yang ditulis Ustadz Hasan Al-Banna ketika menangani permasalahan terror dan pembunuhan  inilah salah satu contoh dari beberapa contoh kasus yang menunjukan kalau jama’ah ini melakukan aksi terror dengan hati yang dingin.”                                                                                     

DR.Rof’at As-Sa’id (Ketua partai Sosialis Mesir)

“Saya belum pernah mengalami masa yang paling menyedihkan seperti yang saya lihat ketika itu saat itu seolah-olah hilang semua kepercayaan (masyarakat kepada ikhwan), (Hasan Al-Banna) mencurahkan perasaannya di depan saya, dan memngungkapkan kalimat yang tidak pernah saya lupakan.(beliau berkata), “Saya yang membangun jama’ah ini, tapi mereka yang menghancurkanya”                                                                    
Muhammad Farid Abdul Kholiq (Anggota lama di Markas Irsyad)

 “Menurut saya, permasalahan Khozandar ini memjadi besar, karena peristiwa ini merupakan pembunuhan pertama yang menimpa hakim sipil tanpa alas an yang jelas, sebagai reaksi atas peristiwa itu, masyarakat Mesir ketika itu turun kejalan menunjukan sikap menolak kejahatan ini “.                                                       
 Kolonel Fu’ad ‘Allam (mantan wakil intelijen Mesir)

Pada tanggal 15 November 1948 M, terjadi situasi yang genting keberadaan kesatuan khusus Ikhwanul Muslimin terungkap oleh pihak Keamanan Mesir, di salah satu jalan di kota Abasyiyah ditemukan sebuah Jip tanpa nomor polisi yang di dalamnya terdapat bom, senjata, amunisi, bahan peledak, dan ditemukan juga skenario aksi peledakan kedutaan Ingris dan Amerika serta daftar nama-nama  anggota kesatuan khusus berikut sandi komunikasi rahasia dan rencana lain seputar target-target yang ingin diledakan, dan berdasarkan barang bukti tersebut bahwa Ikhwan bertanggung jawab atas peledakan-peledakan yang terjadi belakngan ini semua ini terjadi seolah secara kebetulan, akan tetapi secara  kebetulannya ala polisi mesir saja, hal ini dilakukan agar mereka memeiliki alasan untuk menutup jama’ah ikhwanul Muslimin  dengan kata lain semuanya ini adalah rekayasa.    “Ada dua orang pemilik mobil jip, salah seoranngnya bernama At-Thobbuli,tinggal di daerah Mesir Baru, salah satu mobil dijual ke ikhwan, Ikhwan menggunakan mobil tersebut unuk keperluan kemiliteran (ikhwan) suatu ketika mobil tersebut digunakan untuk memindahakan dokumen-dokumen kesatuan khusus ke suatu tempat yang dianggap lebih aman. Orang yang ditugaskan memindahkan tugas terebut, meminta bantuan kepada tiga orang pesuruh gedung untuk memindahkan dokumen. Maka pesuruh itu berangkat (mengambil barang dari) mobil Jip, mereka masuk kedalam rumah yang saat itu pintunya terbuka. Didalam rumah , mereka melihat senjata dan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan militer (ikhwan). Tiba-tiba mereka mengambil dan membawa lari senjata (yang ada dalam rumah) menggunakan mobil Jip, beberapa ikhwan mengejar mereka, dua pesuruh itu tertangkapsementara yang satunya lagi berhasil lolos“.

Mahmud As-Shobagh (salah satu Komandan kesatuan khusus IM)

“saya dan ikhwan lainnya berhasil menangkap dua orang, namun yang kabur satu orang lagi berhasil kabur. Pada waktu bersamaan, Haji (Musthafa) Manshur keluar rumah membawa tas yang berisi scenario rencana akdi berikutnya. Mereka menangkap Haji Masyhur dengan tuduhan beliau dianggap sebagai pembawa molbil Jip yang dikaitkan dengan isi tas yaitu skenario rencana aksi yang sedang beliau bawa dari sini terungkaplah sebagian aksi-aksi yang akan dilakukan (pasukan khusus)”.                                              

Ahmad ‘Adil Kamal(salah seorang kader kesatuan khusus ikhwanul Muslimin)

Beberapa hari setelah terungkapnya rahasia keberadaan kesatuan Khusus tepatnya pada pagi hari tanggal 4 Desember, seorang polisi Kairo ysng bernama kolonel Salim Zaki Hakimdar terbunuh ditangan mahasiswa tingkat pertama, pemerintah menyiarkan di media masa kalau pelakunya adalah seorang yang loyal terhadap ikhwan, dengan peristiwa ini maka kerenggangan hubungan antara ikhwan dengan pemerintah Sa’adiyah mencapai puncaknya.Pada hari  itu juga Hasan Al-Banna meminta  wakil perdana mentri yang bernama Hamid Jaudah untuk menjadi mediator atas ketegangan Ikhwan dengan perdana mentri Naqrosyi Basya, tujuannya agar dapat dimulai lembaran baru hubungan antar pemerintah  dan Jama’ah, akan tetapi permintaan Hasan Al-Banna ditolak, maka Hasan Al-Banna menyadari bahwa keadaan semakin genting.    “Pembunuhan (kol. Salim Zaki Hkimdar) secara kebetulan saja bukan karena unsur sengaja atau direncanakan sebelumnya, waktu itu, ada aksi demonstrasi di Fakultas kedokteran dan  (kol. Salim Zaki Hkimdar) beserta anak buahnya merangsak masuk kedalam fakultas kedokteran dia duduk diatas gerobak sambil memegang senjata, dia bermaksud membubarkan demonstran dengan cara kekerasan dan kekuatan, selanjutnya ada mahasiswa yang melemparkan granat dari lantai empat. Granat tersebut jatuh persis dikakinya, kemudian meledak, diapun mati saat itu juga”.                                                                                       
Ahmad Ro’if (Cendekiawan Islam)

 “apa komentar saudara Mahmud Sobbagh ? “Melempar granat pada waktu demonstrasi ketika itu adalah hal yang biasa ?”.  Kok saya baru tahu kalau begitu, padahal saya ikut demo saat itu siapa yang bilang ada yang melempar (granat)… tidak ada yang melempar bom, melainkan Ikhwanul Muslimin, kami Cuma melempar tanah liat, ini yang membedakan aksi kami dengan Ikhwanul Muslimin, beginilah cerita singkat pembunuhan Salim Zaki”.                                                                                        

DR.Rof’at As-Sa’id (Ketua partai Sosialis Mesir)

Hasan Al-Banna terus berusaha memperbaiki keadaan termasuk menelepon Raja Faruq dan sekretaris kerajaan yang bernama Ibrahim Abdul Hadi, meskipun pada akhirnya telepon beliau tidak ada yang mengangkat, dalam upayanya menyelesaikan permasalahan yang ada Hasan Al-Banna lebih banyak  bersikap mengalah. Pada tanggal 6 Desember 1948 pemerintah mengeluarkan perintah pembredelan surat kabar Jama’ah Ikhwanul Muslimin.    Dalam head line Koran Al-Asas yang bedasarkan keterangan partai As Sa’adi, memberitakan bahwa pemerintah akan mengumunkan berita menggemparkan, selang dua hari kemudian keluar lagi perintah dari raja agar pasukan Ikhwan yang ada di Palestina ditarik ke markas, pada jam sepuluh malam wakil departemen dalam negri yang bernama Abdurrahman Ama menelpon Hasan Al-Banna dia mengatakan akan ada kabar gembira terkait perbaikan hubungan antara Jama’ah Ikhwan dengan pemerintah yang akan diumumkan nanti malam, mendengar kabar tersebut sebagian anggota Jama’ah Ikhwan kemudia berkumpul di kantor pusat menunggu-nunggu berita keputusan pemerintah lewat radio, tepat pada jam sebelas malam siaran radio mengumumkan keputusan dari Mahkamah Militer nomor 63 tahun 1948 yang berisi tentang pembubaran Jama’ah Ikhwanul Muslimin berikut semua cabangnya didalam negri, juga menutup dan menyita semua aset dan sumber pendanaan milik jama’ah, beberapa menit setelah pengumuman tersebut kantor pusat Ikhwan telah dikepung polisi dari berbagai penjuru kemudia menangkap semua orang yang ada didalamnya, Hasan Al-Banna menunggu giliran untuk ditangkap, tapi anehnya tidak satu orangpun yang menyentuhnya akhirnya dia melompat ke mobil tahanan polisi dengan harapan ikut ditangkap, akan tetapi polisi menghalau dan menolaknya dengan alasan bahwa instruksi penangkapan hanya untuk anggota Jama’ah Ikhwan saja tanpa Hasan Al-Banna.    “(Hasan Al Banna) meminta secara resmi kepada pemerintah (dengan mengatakan),”saya adalah anggota Ikhwan yang kalian tuduh begini-begitu.. saya termasuk diantara mereka, bahkan sayalah pemimpin mereka…. Ayo tangkap saya!”  karena (Hasan Al Banna) sudah merasa akan datang bahaya, ketika dia (secara sengaja) dibiarkan sendiri dan tanda- tandanya dia lihat secara langsung “.  

Muhamad Farid Abdul Kholiq(Anggota lama di maktab Irsysad)

“Setelah krisis penangkapan ini, tersiar berita yang diterima Naqrosyi Basya bahwa Ikhwanul Muslimin akan balas dendam kepadanya dengan cara apapun, termasuk dengan cara yang digunakan (ikhwan) untuk melawan Israel.”                                                                  

Mahmud As-Shobagh(salah satu Komandan kesatuan khusus IM)

“Permasalahan sebenarnya dipicu partai tertentu, yaitu partai Sa’adi  yang dipimpin Mahmud Fahmi Naqrosy Basya, yang sebenarnya partai kecil dan kadernya pun paling sedikit dibanding partai lainnya, namun mereka sangat berambisi memenangkan pemilu, sementara satu-satunya partai yang mereka takuti dalam pemilu ini adalah ikhwan.”                                         

Ahmad ‘Adil Kamal (salah seorang kader kesatuan khusus ikhwanul musalimin)

 “Kesalahan besar bagi Ikhwanul Muslimin menurut ilmu ramalan perbintangan Mesir, mereka ingin menguasai posisi-posisi penting dalam pemerintahan dan mengganti para pejabat-pejabat yang ada.”                                                                                        
Jamal Al-Banna (adik bungsu Hasan Al Banna)

Terjadi reaksi keras pada sekelompok anggota ikhwan atas keputusan pemerintah yang telah menutup organisasinya, bahkan reaksi tersebut sampai ke tingkat kemungkinan akan membalas perbuatan Naqroshi Basya oleh karena itu Naqroshi Basya memperkuat pengawalan atas dirinya sementara gerak-geriknya selalu di intai oleh ikhwan yang menolak keras keputusan pemerintah. Saat itu Mahmud Fahmi Naqroshi Basha menjabat sebagai perdana mentri, ketua partai sa’adi, hakim umum militer, juga menjabat sebagai mentri dalam negri dan mentri keuangan di kabinetnya.Puncaknya akibat pembubaran Ikhwan oleh Naqroshi, anggota Ikhwan yang pernah dilatih oleh Abdurrahman As-Sanadi memutuskan untuk membunuh Naqrosi Basya, kemudian mereka pun merancang skenario pembunuhan.    “Keputusan Naqrosy Basya membubarkan Jama’ah ikhwan dan mengambil semua hartanya, tidak mungkin dilakukan oleh seorang yang beriman, sehingga memicu sekelompok pemuda Ikhwanul Muslimin dari sebagian anggota kesatuan khusus merencanakan untuk membunuhnya.”  

Mahmud As-Shobagh (salah satu Komandan kesatuan khusus IM)

 “Siapa yang berani membubarkan jama’ah ikhwan, berarti dia siap menanggung resiko dibunuh karena (mereka menganggap) kalau sampai dibubarkan, berarti (yang membubarkan) akan mati. Dan ini terbukti. (dimata ikhwan) apa yang diputuskan NAqrosy sama dengan perbuatan teroris nomor satu.”                                                                                        
Jamal Al-Banna (adik bungsu Hasan Al Banna)

 “saya tidak yakin (pandangan yang mensejajarkan orang orang yang menutup jamaah sama dengan teroris/penjajah) adalah benar, karena ini hal yang sangat berbeda. Ketika berjuang mengusir penjajah untuk kemerdekaan, (membunuh) itu sesuatu yang sah, sedagkan si fulan yang hanya memusuhi Jama’ah,(mengapa) harus dibunuh juga sampai kapan pun prinsip berfikir seperti ini salah, kalau tidak, ini sama dengan membuka pintu malapetaka. Jangan sampai ada orang yang hanya karena berbeda pandangan dengan yang lain boleh dibunuh, misalnya dengan alasan dia berkhianat, dia memusuhi dakwah… yang jelas, dalam prinsip mereka, dibolehkan membunuh.”                                                                           

DR.Rof’at As-Sa’id (Ketua partai Sosialis Mesir)

“Tentang (pembunuhan Naqrosy) yang dihadapi syekh Hasan Al-Banna sesungguhanya peristiwa ini bukan atas perintahnya, juga buka keinginannya, bahkan dia pun tidak mengetahui rencana tersebut akan tetapi ini hanya perbuatan sekelompok pemuda ikhwan yang memnganggap pembubaran Jama’ah Ikhwan berarti memusuhi syari’at Allah dan agamaNya dan orang yang melakukan ini, menurut pemahaman mereka harus dihukum.”  

DR.Abdulloh Rosywan (saksi ikhwan dalam perkara pembunuhan Naqrosy)

“Saya rasa orang seperti ini gegabah dan menyimpang,(membunuh) dengan cara apapun tanpa memeperhitungkan siapa yang boleh dan tidak boleh.” 

Jamal Al-Banna (adik bungsu Hasan Al Banna)

Kelompok anak muda yang memusuhi Naqrosy akhirnya berhasil membunuh Naqrosy didalam kantor Departemen dalam negri, dan disaksikan beberapa perwira polisi.    “Pelaku (yang membunuh Naqrosy) menyamar memakai pakaian polisi. Dia masuk melalui Lift, kemudia fia menembak (Naqrasy) hingga tewas.”                                                                                     
Mahmud As-Shobagh (salah satu Komandan kesatuan khusus IM)

Kejadian ini terjadi pada jam sepuluh pagi hari selasa pada tanggal 28 Desember 1948.    “Dan ketika iring-iringan jenazah (sedang berjalan) ada yang berteriak, “revolusi… revolusi..”(saya katakan).”bukan …itu pasti bukan dari pengikut Al-Banna. Saya yakin itu” karena kalimat “revolusi…revolusi.” Yang muncul saat itu berasal dari kubu saya.”    

DR.Abdulloh Rosywan (saksi ikhwan dalam perkara pembunuhan Naqrosy)

Meskipun situasi semakin memanas ditambah mursyid ‘am dikepung dan dalam status tahanan rumah, serta Abdurrahman Sanadi dalam penjara karena kasus mobil jip, tetapi hal itu tidak menghalangi unsur dalam kesatuan khusus untuk melakukan aksi baru.Pada pagi hari tanggal 13 Januari 1949 terjadi peledakan di depan gedung Mahkamah Agung di Babul Khuluk, kemudian terungkap pelakunya adalah Shafiq Anas sementara scenario dan perintah aksi ini dikeluarkan oleh Sayid Faiz sebagai penanggung jawab baru dalam kesatuan khusus.Aksi peledakan ini bertujuan menghilangkan berkas perkara dan bukti lainya serta semua yang  berkaitan dengan ikhwan.    “tas yang meledak, sebelumnya diletakan di dalam ruang penyimpanan berkas perkara, berkas perkara yang di incar khususnya adalah berkas yang berhubungan dengan perkara mobil Jip, dan eksekutor dalam aksi ini adalah Syafiq Anas, dia datang (ke kantor Mahkamah Agung) seolah seperti orang kampung yang berpura-pura mengadukan suatu perkara kemudian dia meletakan tasnya (yang berisi bom) di ruang penyimpanan berkas, kemudian dia bilang ke petugas kalau dia ingin mencari sarapan dulu dan akan datang lagi, setelah dia keluar, petugas di dalam ruangan curiga dengan isi tas. Akhirnya mereka membawa (tas tersebut) kelapangan di depan gedung Babul Khuluk. Kemudia bom tersebut langsung meledak.”  

 Ahmad ‘Adil Kamal (salah seorang kader kesatuan khusus IM)

 “jika aksi ini berhasil, akan terjadi bencana, karena peledakan ini akan merenggut ratusan korban jiwa. Ketika pelaku (Syafiq Anas) akhirnya berhasil ditangkap, Hasan Al-Banna kembali mengeluarkan statemen yang sudah tidak asing lagi bahwa mereka itu bukan dari Ikhwan dan pelakunya bukan muslim, dan saya tidak ada hubungan dengan para pelaku, saya juga berharap punya kesempatan membubarkan jama’ah ini, agar saya terbebas dari seluruh musibah ini. Dan Hasan Al-Banna menulis kepada Raja, dalam penjelasannya, setelah dia memuji-muji raja dan pemerintah, dan pujian-pujian lainnya, kemudian dia menyampaikan kalau dia tidak ada kaitannya dengan pelaku”.                                                                                    
DR.Rof’at As-Sa’id (Ketua partai Sosialis Mesir)

“Dalam aksi ini pelaku tidak meminta pendapat Hasan Al-Banna dikarenakan aksi ini pada masa-masa sulit setelah pembubaran ikhwan. Ustadz Al-Banna sendiri sedang benegosiasi dengan pihak pemerintah agar mencabut keputusan penutupan jama’ah (al-Banna) mengusulkan seorang pengacara bernama Musthafa Mar’I sebagai mediator antara pihak pemerintah dan ikhwan, namun aksi peledakan ini, menyebabkan keadaan semakin keruh. Musthafa Mar’I mengatakan, ”saya berusaha bernegosiasi untuk kepentingan (ikhwan), tapi mereka malah membuat masalah baru sehingga posisi Ustadz Al-Banna semakin sulit.”                                                                     
Ahmad ‘Adil Kamal (salah seorang kader kesatuan khusus IM)

“Ikhwan mengutus Abdul Aziz Basya Ali dan Musthafa Mar’I Bik (untuk menyelesaikan kasus ini) sebenarnya saya kurang suka menafsirkan hal-hal yang tidak jelas, yang pasti Ustadz Musthafa Mar’I sudah membuat draft rancangan perjanjian, dia sudah memulai (negosiasi). Tetapi setelah beberapa kejadian terakhir ini, (Msuthafa Mar’i),”saya tetap menulis naskah perjanjian… yang isinya bahwa jama’ah ikhwan anti kekerasan dan anti terorisme, agar kita bisa mengaktifkan kembali jama’ah ini.”                

DR.Rof’at As-Sa’id (Ketua partai Sosialis Mesir)    

“Dalam permasalahan ini, Ustadz Hasan Al-Banna melakukan kesalahan karena dia membiarkan kesimpangsiuran sikap ikhwan ini, sebenarnya dari pihak pemerintah masih memungkinkan membuka peluang pengaktifan kembali jama’ah ini, pemerintah sudah menerima dan mempelajari draft perjanjian, namun Fadhilatu Mursyid sudah tidak semangat lagi melanjutkannya”.                                                                       
DR.Rof’at As-Sa’id (Ketua partai Sosialis Mesir)    

Pagi hari  pada tanggal 12 Februari 1949 ada orang yang menduga bahwa waktu eksekusi terhadap Hasan Al-Banna sudah tiba, tempat eksekusi akan dilakukan di depan kantor Organisasi Subbanul Muslimin persisnya di jalan Mulkah Nasly yang sekarang ini bernama jalan Ramsies, dimana di gedung yang Hasan Al-Banna ikut andil membangunnya ini belakangan dijadikan tempat perundingan antara Jama’ah dengan perwakilan pemerintah untuk membahas pembebasan anggota jama’ah ikhwan yang sedang ditahan.

Sumber Video Dokumenter Al-Jazera

Penulis : Umron
Mahasiswa Universitas Al Azhar - Mesir