SUARA-MUSLIM.COM ~ Lengsernya Morsi dari kursi presiden mengingatkan saya ketika berada di Mesir di awal-awal keberhasilan revolusi Mesir, Juni 2011 - Juli 2012. Saya ikutan lihat gimana demo di tahrir, antusias rakyat mesir terhadap revolusi, termasuk mengintip jalannya pemilu.
Ketika itu, disekelilingku ada beberapa teman arab mesir, temannya suami. Saya ingat perbincangan dengan Osama, Sa’ad, Mr. Kaled dan beberapa orang lain, kekhawatiran terpendam jika Ikhwanul menang.
Dengan terus terang mereka menyatakan, khawatir akan ada polisi syariah. Yang memantau gerak-gerik menjalankan ibadah. Yups, gimana tidak khawatir, sebelum pemilu saja sudah ada patroli di beberapa tempat oleh kelompok Salafi. Mereka menegur jika seorang perempuan memakai kerudung kependekan, baju terlalu ketat, dan sebagainya. Juga menegur seorang lelaki jika tidak jenggotan.
Kelakuan ini amat dikritik oleh media. Termasuk al ahram, sehingga menjelang pemilu, khawatir kehilangan simpati dan suara, patroli ini dihentikan.
Selain itu, yang mengenaskan adalah pembakaran gereja yang dilakukan oleh kelompok Salafi. Sayang, demo warga koptik tidak mendapat tanggapan yang memadai, sehingga tidak ada kejelasan hukum yang melindungi warga koptik.
Yang bergerak justru masyarakat sipil Mesir. Melalui media sosial semacam FB, islam moderat mesir ikut menjaga gereja-gerja koptik ketika natal dan tahun baru tiba. Khawatir ada serangan dan pembakaran lagi.
Setelah pemilu, IM mendapatkan 48% dan kelompok Salafi, partai Al Noor mendapatkan 24%. Morsi terpilih menjadi Presiden. Aku selalu beranggapan, IM berbeda dengan An Nour. Karena IM partai terbuka, siapapun bisa ‘mewarna’ gerakan ini. Dan memang, sekarang IM sangat diwarnai oleh pemikirran wahabi/salafi. Sangat disayangkan.
Dan seperti dugaan berbagai pihak, alih-alih merangkul pihak lain, Mursi malah melakukan blunder parah terhadap rakyat Mesir. Beberapa diantaranya adalah:
1. Dekrit yang memberikan kuasa penuh kepada Morsi pada bulan November 2012.
Dekrit ini memicu kemarahan luar biasa rakyat Mesir karena berarti Morsi sama otoriternya dengan pendahulunya, yaitu Mubarrak. Termasuk ketika itu, Morsi membungkam beberapa media yang mengkritik keras kebijakannya.
2. Amandemen konstitusi ke arah syariah islam.
Alih-alih secara serius memperbaiki ekonomi Mesir, Morsi melalui IM dan An Nour malah melakukan amandemen terhadap konstitusi yang tadinya berazaskan sekuler menjadi Islam. Berdasarkan Syariat Islam. Yang menjadi pertanyaan, syariat versi siapa? La wong kelompok Salafi/An Nour ini ketika rapat di parlemen saja tidak mau berdiri menghormati bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan mesir, karena dianggap bid’ah.
3. Intervensi dan Intimidasi Morsi kepada Al Azhar
Beberapa kebijakan Morsi ditentang oleh Ulama Al Azhar, termasuk ketika dia membuat obligasi yang tidak masuk akal kepada rakyat Mesir, dan dekrit kekuasaan penuh itu. Tiba-tiba terjadi kasus keracunan yang membuat korban mahasiswa Al Azhar sebanyak 500 orang. Kasus keracunan ini menjadi jalan masuk intervensi Morsi/IM ke Al Azhar dengan mencopot petinggi Al Azhar. Hal ini memicu kemarahan Al Azhar dan menganggap bahwa kasus keracunan adalah ’skema buatan MOrsi dan IM’ untuk intervensi dan intimidasi ke Al Azhar.
Menentang Al Azhar berarti ini sudah menjadi ‘jalan masuk penentangan otoritas yang sangat dihormati dalam memberikan ‘fatwa’ ataupun acuan keislaman (moderat?) rakyat Mesir.
4. Morsi tidak mampu mengontrol militansi IM & Salafi di Lapangan
Beberapa serangan yang dilakukan, baik terhadap masyarakat sipil, gereja, maupun kantor gubernur dibeberapa daerah dilakukan oleh militansi IM dan Salafi. Dan ini semakin membuat masyarakat tidak simpatik.
Selain itu, kekuasaan berbagai posisi strategis memang diberikan kepada kelompok IM dan Salafi. Ini yang membuat pihak oposisi menyatakan bahwa seolah Mesir menjadi milik IM dan Salafi.
5. Kedok Agama untuk Melanggengkan Kekuasaan
Ketika demo besar-besaran 30 juni lalu direncanakan, pengikut Morsi dan kelompok Salafi menyatakan bahwa penentang Morsi dicap sebagai ‘kafir, munafik, dan seterusnya. Bahkan, yang mengejutkan, saya juga pernah membaca update status teman Indonesia yang mendukung Morsi menyatakan bahwa pendemo Morsi ‘dilaknat’ oleh Alllah SWT.
Ini berarti agama sudah digunakan untuk melanggengkan kekuasaan. Syukurnya, ulama Al Azhar menyatakan bahwa demo damai tidak masalah. Jangankan itu, Ulama Al Azhar bersama Uskup Agung Koptik ikut press conference bersama militer ketika menjatuhkan Morsi.
Mesir, telah mengalami revolusi jilid 2. Semoga ke depan lebih baik lagi. Semoga negeri pada nabi dan aulia ini bisa melakukan rekonsiliasi, konsensus, dan mengurus negaranya sendiri dengan sebaik-baiknya. Tidak terikut ‘bara’ lain yang sedang panas.
Penulis: Ilyani Sudardjat
Redaktur: AM





Tidak ada komentar
Posting Komentar