SUARA-MUSLIM.COM ~ Pembunuhan lebih dari 600 orang di Mesir pada “Rabu Berdarah” dan 150 orang pada “Jumat Kemarahan” telah mendorong kecaman dunia internasional, tetapi pemerintahan sementara Mesir yang didukung militer justru menikmati dukungan domestik yang luas untuk tindakan keras yang mereka lakukan terhadap Ikhwanul Muslimin (IM).
Media pro-pemerintah dengan tegas menggambarkan IM sebagai “teroris” yangkeberadaannya mengobarkan perpecahan sektarian. Aksi anarkisme dalam demo yang mereka lakukan juga membuat sebagian masyarakat Mesir menjadi tambah antipati. Bayangkan, dirundung dalam demo berhari-hari membuat rakyat Mesir tertekan dalam rasa tidak aman.
Faktanya, memang sejak IM naik ke panggung kekuasaan telah terjadi polarisasi yang luas di kalangan masyarakat Mesir. Polarisasi makin memburuk ketika Presiden Morsi digulingkan pendemo dengan dukungan militer dari kekuasaan. IM di sisi pendukung Morsi dan kelompok masyarakat sipil di sisi lain menentangnya. Kemudian militer turun tangan ketika pertentangan kedua kelompok makin meruncing.
Wawancara yang dilakukan The Guardian pada beberapa kelompok masyarakat menunjukkan bahwa semenjak aksi penumpasan pendemo anarkis oleh militer, dukungan pada pemerintah sementara Mesir justru meningkat. Ini memang fenomena yang agak aneh. Ketika masyarakat internasional mengutuk peristiwa tersebut, beberapa komponen masyarakat Mesir justru mendukung penuh tindakan pemerintahnya.
“Mereka layak mendapatkannya. Mereka ingin menghancurkan negara, jadi itu sebabnya militer harus turun tangan,” kata Salah Amin, seorang mahasiswa berusia 17 tahun dari Sharqiya, saat ditemui pada hari Jumat ketika kekerasan kedua meletus di Kairo. “Saya mendukung tindakan tentara dan polisi terhadap IM, mereka ingin merusak Mesir dengan cara mengelola negara seperti yang mereka inginkan.”
Pada hari Rabu penduduk daerah Rabaa di Kairo timur terlihat bersorak ketika pasukan keamanan bergerak untuk membubarkan enam minggu aksi demo di sana dan di Nahda Square. “Kami setuju dengan apa yang terjadi di Rabaa dan Nahda,” kata Mohamed Khamis, juru bicara Tamarod (Pemberontakan), yang memobilisasi opini publik untuk menjatuhkan Morsi yang terpilih secara demokratis tetapi sangat tidak populer. “Kami tidak menyukai apa yang IM lakukan,” katanya.
Beberapa orang lainnya membuat perbedaan antara perlawanan politiknya terhadap IM dengan perasaan mereka tentang begitu banyak orang Mesir yang terbunuh. “Bahkan orang-orang seperti saya yang memiliki posisi yang jelas bahwa kami sedang menghadapi entitas teroris, tidak bisa tidak merasa prihatin bagi semua korban yang terbunuh,” kata komentator liberal Hisham Kassem.
Analis politik sudah sedari awal melihat adanya pertumbuhan rasa permusuhan terhadap IM sejak revolusi 2011 dan terutama selama setahun pemerintahan Morsi berlangsung. “Saya memperkirakan bahwa 80% dari rakyat Mesir benar-benar kecewa dengan Islami politik yang diwakili oleh IM dan ingin melihatnya tercerabut dari kehidupan politik Mesir,” kata Hazem Kandil, seorang sosiolog politik Mesir di Universitas Cambridge.
Pendukung IM menuntut pemulihan Morsi di kursi keprisidenan dan menuduh tentara dan pemerintah sementara saat ini berusaha untuk kembali ke gaya diktator Hosni Mubarak, yang digulingkan pada bulan Februari 2011. Namun, penentang IM balik menuduh bahwa IM justru yang sedang melakukan hal tersebut.
Jurnalis veteran sayap kiri Hani Shukrullah mengahtakan bahwa intensitas kebencian terhadap IM benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan gelegaknya jauh melebihi saat rakyat Mesir melawan rezim Mubarak, justru karena IM saat berkuasa dianggap sedang berupaya untuk menciptakan kembali sistem otoriter seperti zaman rejim Mubarak.
Umumnya, para pejabat Mesir dan liberal menyalahkan media Barat karena melaporkan hanya dari satu sisi. Beberapa orang marah pada negara Barat karena begitu mudah percaya dengan informasi yang disampaikan IM, terutama pada AS dan Inggris. “Pertama diplomat mendapat sindrom Stockholm dan sekarang media,” gurau Kassem.
Orang-orang biasa menjadi sangat marah dengan sikap beberapa negara. “Saya di sini mendukung militer dan polisi,” kata ibu rumah tangga Hamidah Mohameda pada demonstrasi pro-pemerintah. “Kami tidak ingin Qatar atau Turki atau Amerika ikut campur. Kami tidak ingin bantuan mereka. Orang-orang Mesir harus mengatur diri mereka sendiri,” teriaknya lantang.
Banyak orang Kristen, khawatir dengan sifat sektarian dari IM dan oleh serangkaian serangan terhadap gereja-gereja, karena mereka secara terbuka mendukung Sisi. “Kristen seperti saya benar-benar takut pada apa yang IM lakukan.” kata Eman Said, seorang Koptik. Diberitakan bahwa terdapat empat gereja yang dibakar oleh demonstran pro-Morsi. Sumber di Gereja Koptik mengatakan bahwa tambahan 13 gereja diserang tapi tidak dibakar. Magda Haroun, presiden komunitas Yahudi Mesir, mengatakan: “[Dengan penumpasan demonstran pada hari Rabu] tentara dan polisi telah menyelamatkan Mesir dari perang saudara,” ujarnya tegas.
Satu-satunya stasiun TV yang pro IM di Mesir adalah Al-Jazeera, ditambah beberapa stasiun televisi dan media cetak kecil milik pribadi. Di sisi lain, media pro-pemerintah lebih banyak dan lebih mudah diakses masyarakat Mesir. Al Akhbar, salah satu surat kabar Mesir paling populer, melaporkan pembantaian Rabu di bawah judul: “Mesir Menghadapi Terorisme” dan menyoroti 43 korban jiwa yang diderita oleh pasukan keamanan serta klaim adanya penggunaan senjata api dan penyiksaan di Rabaa, di mana IM menyangkal dengan keras.
Al-Ahram membuat headline dengan judul: “Hari Keputusan” di dalamnya sama sekali tidak membahas tindakan aparat keamanan yang tidak proporsional dalam merespon pembubaran demo di Rabaa dan Nahda. Sorotan justru diarahkan pada penggunaan senjata api oleh IM dan penyiksaan di lokasi kerusuhan.
Berita terbunuhnya 43 polisi dan lebih dari 140 terluka memang cukup mengemuka. Diberitakan bahwa jumlah korban tersebut berasal dari 21 pos polisi yang diserang oleh pendukung IM. Bahkan, saat penyerbuan kantor polisi Kerdesa (tidak jauh dari piramida Giza), penyerbu tidak hanya membunuh polisi yang bertugas di sana tetapi tubuh mereka dimutilasi.
Lebih jauh, jurnalis veteran sayap kiri Hani Shukrullah, mengatakan: “IM tentu saja berhak melakukan demo, dan pemerintah berhak menertibkan suatu demo, tapi seandainya itu terjadi di China, kejadiannya akan jauh lebih buruk. Ini terjadi dalam semua revolusi. Dan kita akan sembuh. Masalahnya adalah berapa lama waktu yang dibutuhkan.”
Penulis: Ar Kus / Kompasiana
Sumber: the guardian, detikom, dan kompas.





Tidak ada komentar
Posting Komentar