BREAKING NEWS
latest

728x90

header-ad

468x60

header-ad

Astaghfirullah, Habib Rizieq Dukung Ulah Memalukan Munarman!



Berkata-kata yang tidak baik saja, itu sudah melanggar etika Islam. Apalagi sampai menyiram muka lawan bicara! Apa pun yang Munarman rasakan ketika beradu mulut dengan Tamrin, mestinya ia menahan diri untuk melakukan tindakan yang memalukan itu.

Ketua DPP FPI Bidang Nahi Munkar, H. Munarman, S.H. menyiram sosiolog UI Tamrin Amal Tomagola dengan air minum, dalam acara Apa Kabar Pagi Indonesia TvOne, Jum’at 28 Juni 2013.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Umum FPI, Habib Muhammad Rizieq Syihab, menyatakan dukungannya. 


Etika Dialog
Etika dalam sebuah dialog, rapat, atau sejenisnya, adalah, pertama, ketika seorang peserta dialog, rapat, atau sejenisnya itu sedang berbicara, peserta yang lain tidak boleh memotong pembicaraannya.

Kedua, kalau toh akan memotong pembicaraan peserta yang sedang berbicara itu, ia harus mengajukan izin kepada moderator dengan kata “inetrupsi” dan sang moderator biasanya akan meminta persetujuan peserta yang sedang berbicara itu apakah ia bersedia diinterupsi.

Dalam hal ini ada dua kemungkinan. Yakni, peserta yang sedang berbicara mempersilakan peserta yang lain tersebut untuk berbicara. Atau, ia akan meminta sedikit waktu lagi untuk menyelesaikan permbicaraannya.
Jika etika dialog, rapat, atau sejenisnya itu diterapkan, mungkin tidak akan terjadi peristiwa di atas. Yakni, Munarman, S.H. menyiram sosiolog UI Tamrin Amal Tomagola dengan air minum.

Ya, siapa pun yang melihat “gaya” Tamrin Amal Tomagola berdiskusi, saya kira, akan merasakan di-kick, sebagaimana yang dirasakan Munarman. Kesan yang saya tangkap, Tamrin itu sombong, menganggap kecil lawan bicara. Belum lagi tindakan yang sering memotong pembicaraan dan menuding-nuding ke arah Munarman.

Namun, bagaimanapun, membalas sikap dan tindakan Tamrin Amal Tomagola yang demikian dengan menyiramkan air ke mukanya tetap saja juga merupakan pelanggaran etika. Lha, kalau sudah begitu, apa bedanya Munarman dan Tamrin? Bahkan, dalam hal etika, Munarman lebih parah daripada Tamrin. Karena, betapapun seringnya memotong pembicaraan dan menuding-nuding ke arah Munarman, Tamrin tidak menyiram muka Munarman dengan air.


Islam dan Etika
Etika Islam dalam berbicara sungguh sangat mulia. Simaklah hadits berikut, “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR Al-Bukhâri dan Muslim).

Etika ini berlaku di mana pun. Termasuk dalam rapat, dialog, dan sebagainya. Berkata-kata yang tidak baik saja, itu sudah melanggar etika Islam. Apalagi sampai menyiram muka lawan bicara! Apa pun yang Munarman rasakan ketika beradu mulut dengan Tamrin, mestinya ia menahan diri untuk melakukan tindakan yang memalukan itu. Ya, dengan cara sesuai petunjuk hadits tersebut.

Yang lebih menyedihkan lagi, sikap dan tindakan Munarman, yang jelas-jelas tak sesui etika dialog dan tak sejalan dengan ajaran hadits di atas, mendapat dukungan Ketua Umum FPI, Habib Rizieq Syihab. Astaghfirullah....

Saya tidak tahu, apakah itu resmi sikap FPI, atau hanya sikap pribadi sang ketua FPI. Namun, terslepas dari itu, apakah itu sikap resmi FPI atau sekadar sikap pribadi Habib Rizieq, sikap dan tindakan Munarman tersebut, apalagi didukung Habib Rizieq, membangkitkan kembali citra “kekerasan” yang selama ini disandangkan orang kepada FPI.

Sayang, sungguh sayang.... FPI, yang selama ini citranya sosialnya sudah mulai dikenal orang, dengan aktif membantu mereka yang tertimpa bencana, misalnya, kembali tersandung aksi kekerasan yang seharusnya tidak perlu terjadi.

(LF/ Majalah Alkisah)
« PREV
NEXT »

Tidak ada komentar