Semangat umat menjadi semakin berkobar setelah mendengar seruan resolusi jihad yang difatwakan Nahdlatul Ulama.
Momentum proklamasi kemerdekaan RI adalah saat-saat amat bersejarah yang harus disyukuri oleh segenap bangsa Indonesia. Setelah pengorbanan dan perjuangan para pahlawan, tibalah jua puncak titian harapan bangsa.
Kita, yang hidup di zaman sekarang, adalah generasi yang beruntung bisa menikmati kemerdekaan tanpa harus turut serta meneteskan darah, air mata, serta keringat untuk merebutnya dari tangan penjajah. Namun bukan berarti kita tak mengemban tugas apa pun. Tugas kita adalah mengisi alam kemerdekaan dengan berbagai hal positif dan konstruktif.
Satu hal yang perlu diingat, proklamasi kemerdekaan RI diperoleh bukan saat perut-perut pahlawan kita itu terasa kenyang. Sebab proklamasi kemerdekaan itu terjadi pada bulan ketika seorang muslim harus menahan haus dan lapar, yaitu di bulan Ramadhan. Dan tahun ini, yang untuk kesekian kalinya peringatan kemerdekaan bertepatan dengan puasa, diharapkan, semangat kebangsaan masyarakat, khususnya umat Islam Indonesia, untuk ikut bersama-sama membangun Indonesia, menjadi lebih baik.
Di zaman Nabi, sejumlah perang juga dimenangkan justru saat bulan Ramadhan. Demikian juga perjuangan bangsa kita. Dalam catatan sejarah pergerakan, proklamasi kemerdekaan RI pada tahun 1945 jatuh pada hari kesembilan bulan Ramadhan. Artinya Ramadhan juga bulan perjuangan, tidak hanya untuk pribadi muslimin, tapi juga untuk kehidupan warga negara. Subhanallah, sungguh luar biasa hikmah bulan Ramadhan bagi bangsa Indonesia ini.
Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak bisa dilepaskan dari peran para pejuang muslim, atau lebih tepatnya kaum santri. Yang menarik, berdasarkan laporan pemerintah Belanda sendiri, peristiwa perlawanan sosial politik terhadap penguasa kolonial dipelopori oleh para kiai, sebagai pemuka agama, para haji, dan guru-guru ngaji.
Semangat perlawanan terhadap penjajah terus bergulir dari satu daerah ke daerah lain di seluruh wilayah Nusantara. Peran serta umat Islam dalam perjuangan melawan dan mengusir penjajahan ini terekam dalam torehan tinta emas sejarah. Perjuangan itu pun tak berhenti sampai republik ini merdeka, tapi terus hidup berlanjut saat mempertahankan kedaulatan RI dari rongrongan kaum penjajah.
Satu hal penting yang perlu diingat, negeri ini lahir atas buah karya keikhlasan para mujahid pejuang kemerdekaan atas berkat rahmat Allah SWT. Sebagaimana tercantum dengan tegas dalam Pembukaan UUD 1945 “Atas berkat rahmat Allah SWT….” Karena, jika tidak atas berkat rahmat Allah SWT, tidaklah mungkin bambu runcing dapat menang melawan senjata-senjata modern pasukan asing.
Era Penjajahan Belanda: “Pendeta Islam”
Ketika imperialisme dan kolonialisme menjajah Indonesia, penduduk negeri ini tidak tinggal diam, dan terus-menerus mengadakan perlawanan. Umat Islam, sebagai mayoritas penduduk Nusantara, memiliki peran penting di dalam proses yang panjang dalam perjuangan melawan penjajahan. Perlawanan awal dilakukan oleh kerajaan-kerajaan, dan kemudian disambung dengan perlawanan rakyat semesta yang dipimpin oleh para ulama hampir di seluruh wilayah Indonesia.
Ulama, sebagai informal leader yang merakyat, dekat dengan rakyat, ditampilkan oleh umat Islam sebagai pemimpinnya dalam perang melawan penjajahan. Selain itu, semangat perang sabil sebagai penggerak umat untuk berani melawan penjajah yang zhalim juga menjadi salah satu faktor gencarnya perlawanan rakyat.
Setidaknya ada enam jasa utama yang telah diberikan para ulama untuk perjuangan kemerdekaan.
Pertama, menyadarkan rakyat akan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan penjajah. Di berbagai pesantren, madrasah, ceramah, organisasi, dan pertemuan lainnya, para ulama menanamkan kesadaran di hati rakyat akan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan penjajah.
Pengaruh para ulama, yang disebut ”pendeta Islam”, diakui oleh penjajah. Thomas S. Raffles, letnan gubernur EIC, yang memerintah tahun 1811-1816 di Indonesia, berkata, “Karena mereka begitu dihormati, tidak sulit bagi mereka untuk menghasut rakyat agar memberontak, dan mereka menjadi alat paling berbahaya di tangan penguasa pribumi yang menentang kepentingan pemerintah kolonial. ‘Pendeta Islam’ itu ternyata adalah golongan yang paling aktif dalam setiap peristiwa pemberontakan. Mereka umumnya berdarah campuran antara orang Arab dan penduduk pribumi, dalam jumlah besar berkeliling dari negara satu ke negara lain, di pulau-pulau Timur. Akibat intrik dan hasutan mereka, pemimpin pribumi biasanya dikerahkan untuk menyerang atau membunuh orang Eropa, yang mereka anggap sebagai kafir dan pengacau.”
Kedua, memimpin gerakan non-kooperatif kepada penjajah Belanda. Para ulama di masa penjajahan banyak mendirikan pesantren di daerah-daerah terpencil, untuk menjauhi bangsa penjajah, yang banyak tinggal di kota.
Ketika Belanda, di masa revolusi, mempropagandakan pelayanan perjalanan haji dengan ongkos dan fasilitas yang dapat dijangkau oleh kaum muslim di daerah jajahannya, Hadratusy Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari, pemimpin para ulama di Jawa, menentang. Ia mengeluarkan fatwa bahwa pergi haji dalam masa revolusi dengan menggunakan kapal Belanda, hukumnya haram.
Ketika posisi Belanda sulit dalam Perang Dunia II, mereka meminta orang-orang Indonesia masuk militer Belanda dengan dalih untuk mempertahankan Indonesia melawan musuh, Jepang. Waktu itu Kiai Hasyim mengeluarkan fatwa yang terkenal, yaitu mengharamkan masuk menjadi tentara Belanda atau bekerja sama dengan Belanda dalam bentuk apa pun.
Setiap bujukan agar Kiai Hasyim tunduk dan mendukung Belanda selalu gagal. Bahkan tawaran Belanda yang akan menganugerahkan bintang jasa terbuat dari perak dan emas pada 1937 ditolaknya.
Gerakan non-kooperatif kepada penjajah itu juga dilakukan dan dipimpin oleh ulama-ulama lainnya.
Ketiga, mengeluarkan fatwa wajibnya jihad melawan penjajah. Fatwa jihad ini sangat besar pengaruhnya dalam membangkitkan semangat perlawanan. Perang melawan penjajah dianggap jihad fi sabîlillah, yakni perang suci atau perang sabil demi agama.
Ajaran perang suci ini muncul di Aceh paling awal abad ke-17, dibangkitkan oleh para guru agama pada masa krisis, yang terhebat pada akhir abad ke-19. Salah satu guru agama di tengah medan perang, Syaikh Abbas Ibnu Muhammad, mengatakan dalam Tadzkirat ar-Rakidin (ajaran utama tahun 1889) bahwa Aceh adalah Dar-al-Islam, kecuali daerah yang diperintah Belanda dan menjadi Dar-al-Harb. Jihad merupakan kewajiban moral (fardu ain) orang Islam berperang untuk mengembalikan tanah yang dikuasai orang kafir kepada Dar-al-Islam.
Perang Diponegoro atau Perang Jawa, yang berkobar lima tahun (1825-1830), juga karena alasan serupa. Dalam permintaan dukungannya kepada ulama, bangsawan, dan masyarakat Jawa, Pangeran Diponegoro (pangeran yang juga ulama) menekankan bahwa ia adalah pemimpin perang sabil, perang suci, untuk mengusir Belanda, yang tidak beriman, dari tanah Jawa. Ia menyurati ulama dan pemimpin di Jawa Tengah dan Jawa Timur, mengimbau mereka “untuk ikut melawan Belanda di seluruh daerah untuk mengembalikan kedudukan tinggi kerajaan berdasar agama yang benar (ngluhurke agami Islam)”. Dalam menyebarkan fatwa jihad itu, Diponegoro dibantu oleh Kiai Mojo, Kiai Besari, dan ulama-ulama lainnya.
[Majalah Alkisah]





Tidak ada komentar
Posting Komentar