BREAKING NEWS
latest

728x90

header-ad

468x60

header-ad

Perjuangan Ulama-Santri demi Tegak dan Teguhnya NKRI

Semangat umat menjadi semakin berkobar setelah mendengar seruan resolusi jihad yang difatwakan Nahdlatul Ulama.
Momentum proklamasi  kemerdekaan RI adalah saat-saat amat bersejarah yang harus disyukuri oleh segenap bangsa Indone­sia. Setelah pengorbanan dan perjuang­an para pahlawan, tibalah jua puncak titian harapan bangsa.
Kita, yang hidup di zaman sekarang, ada­lah generasi yang beruntung bisa me­nikmati kemerdekaan tanpa harus turut serta meneteskan darah, air mata, serta keringat untuk merebutnya dari tangan pen­jajah. Namun bukan berarti kita tak mengemban tugas apa pun. Tugas kita adalah mengisi alam kemer­de­kaan de­ngan berbagai hal positif dan konstruktif.
Satu hal yang perlu diingat, prokla­masi kemerdekaan RI diperoleh bukan saat perut-perut pahlawan kita itu terasa kenyang. Sebab proklamasi kemerdeka­an itu terjadi pada bulan ketika seorang muslim harus menahan haus dan lapar, yaitu di bulan Ramadhan. Dan tahun ini, yang untuk kesekian kalinya peringatan kemerdekaan bertepatan dengan puasa, diharapkan, semangat kebangsaan ma­syarakat, khususnya umat Islam Indone­sia, untuk ikut bersama-sama memba­ngun Indonesia, menjadi lebih baik.
Di zaman Nabi, sejumlah perang juga dimenangkan justru saat bulan Rama­dhan. Demikian juga perjuangan bangsa kita. Dalam catatan sejarah pergerakan, proklamasi kemerdekaan RI pada tahun 1945 jatuh pada hari kesembilan bulan Ramadhan. Artinya Ramadhan juga bu­lan perjuangan, tidak hanya untuk pribadi muslimin, tapi juga untuk kehidupan war­ga negara. Subhanallah, sungguh luar biasa hikmah bulan Ramadhan bagi bang­sa Indonesia ini.
Berdirinya Negara Kesatuan Repub­lik Indonesia (NKRI) tidak bisa dilepas­kan dari peran para pejuang muslim, atau lebih tepatnya kaum santri. Yang me­narik, berdasarkan laporan pemerin­tah Belanda sendiri, peristiwa perlawan­an sosial politik terhadap penguasa kolo­nial dipelopori oleh para kiai, sebagai pe­muka agama, para haji, dan guru-guru ngaji.
Semangat perlawanan terhadap pen­jajah terus bergulir dari satu daerah ke daerah lain di seluruh wilayah Nusan­tara. Peran serta umat Islam dalam per­juangan melawan dan mengusir penja­jahan ini terekam dalam torehan tinta emas sejarah. Perjuangan itu pun tak ber­henti sampai republik ini merdeka, tapi terus hidup berlanjut saat memper­tahankan kedaulatan RI dari rongrongan kaum penjajah.
Satu hal penting yang perlu diingat, negeri ini lahir atas buah karya keikhlas­an para mujahid pejuang kemerdekaan atas berkat rahmat Allah SWT. Sebagai­mana tercantum dengan tegas da­lam Pembukaan UUD 1945 “Atas berkat rahmat Allah SWT….” Karena, jika tidak atas berkat rahmat Allah SWT, tidaklah mungkin bambu runcing dapat menang me­lawan senjata-senjata modern pa­suk­an asing.
Era Penjajahan Belanda: “Pendeta Islam”
Ketika imperialisme dan kolonialisme menjajah Indonesia, penduduk negeri ini tidak tinggal diam, dan terus-menerus mengadakan perlawanan. Umat Islam, sebagai mayoritas penduduk Nusantara, memiliki peran penting di dalam proses yang panjang dalam perjuangan me­lawan penjajahan. Perlawanan awal di­lakukan oleh kerajaan-kerajaan, dan ke­mudian disambung dengan perlawanan rakyat semesta yang dipimpin oleh para ulama hampir di seluruh wilayah Indo­nesia.
Ulama, sebagai informal leader yang merakyat, dekat dengan rakyat, ditampil­kan oleh umat Islam sebagai pemimpin­nya dalam perang melawan penjajahan. Selain itu, semangat perang sabil se­ba­gai penggerak umat untuk berani me­lawan penjajah yang zhalim juga menjadi salah satu faktor gencarnya perlawanan rakyat.
Setidaknya ada enam jasa utama yang telah diberikan para ulama untuk perjuangan kemerdekaan.
Pertama, menyadarkan rakyat akan ketidakadilan dan kesewenang-wenang­an penjajah. Di berbagai pesantren, ma­drasah, ceramah, organisasi, dan per­temuan lainnya, para ulama menanam­kan kesadaran di hati rakyat akan ke­tidakadilan dan kesewenang-wenangan penjajah.
Pengaruh para ulama, yang disebut ”pendeta Islam”, diakui oleh penjajah. Thomas S. Raffles, letnan gubernur EIC, yang memerintah tahun 1811-1816 di Indonesia, berkata, “Karena mereka be­gitu dihormati, tidak sulit bagi mereka un­tuk menghasut rakyat agar memberon­tak, dan mereka menjadi alat paling ber­ba­haya di tangan penguasa pribumi yang menentang kepentingan pemerin­tah kolonial. ‘Pendeta Islam’ itu ternyata adalah golongan yang paling aktif dalam setiap peristiwa pemberontakan. Mereka umumnya berdarah campuran antara orang Arab dan penduduk pribumi, da­lam jumlah besar berkeliling dari negara satu ke negara lain, di pulau-pulau Timur. Akibat intrik dan hasutan mereka, pemimpin pribumi biasanya dikerahkan untuk menyerang atau membunuh orang Eropa, yang mereka anggap sebagai kafir dan pengacau.”
Kedua, memimpin gerakan non-kooperatif kepada penjajah Belanda. Para ulama di masa penjajahan banyak mendirikan pesantren di daerah-daerah terpencil, untuk menjauhi bangsa penja­jah, yang banyak tinggal di kota.
Ketika Belanda, di masa revolusi, mempropagandakan pelayanan per­jalan­an haji dengan ongkos dan fasilitas yang dapat dijangkau oleh kaum muslim di daerah jajahannya, Hadratusy Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari, pemimpin para ulama di Jawa, menentang. Ia menge­luarkan fatwa bahwa pergi haji dalam masa revolusi dengan menggunakan ka­pal Belanda, hukumnya haram.
Ketika posisi Belanda sulit dalam Perang Dunia II, mereka meminta orang-orang Indonesia masuk militer Belanda dengan dalih untuk mempertahankan Indonesia melawan musuh, Jepang. Wak­tu itu Kiai Hasyim mengeluarkan fat­wa yang terkenal, yaitu mengharamkan masuk menjadi tentara Belanda atau bekerja sama dengan Belanda dalam bentuk apa pun.
Setiap bujukan agar Kiai Hasyim tun­duk dan mendukung Belanda selalu ga­gal. Bahkan tawaran Belanda yang akan menganugerahkan bintang jasa terbuat dari perak dan emas pada 1937 ditolak­nya.
Gerakan non-kooperatif kepada pen­jajah itu juga dilakukan dan dipimpin oleh ulama-ulama lainnya.
Ketiga, mengeluarkan fatwa wajib­nya jihad melawan penjajah. Fatwa jihad ini sangat besar pengaruhnya dalam mem­bangkitkan semangat perlawanan. Perang melawan penjajah dianggap jihad fi sabîlillah, yakni perang suci atau perang sabil demi agama.
Ajaran perang suci ini muncul di Aceh paling awal abad ke-17, dibangkit­kan oleh para guru agama pada masa krisis, yang terhebat pada akhir abad ke-19. Salah satu guru agama di tengah me­dan perang, Syaikh Abbas Ibnu Mu­hammad, mengatakan dalam Tadzkirat ar-Rakidin (ajaran utama tahun 1889) bahwa Aceh adalah Dar-al-Islam, kecuali daerah yang diperintah Belanda dan men­jadi Dar-al-Harb. Jihad merupakan kewajiban moral (fardu ain) orang Islam berperang untuk mengembalikan tanah yang dikuasai orang kafir kepada Dar-al-Islam.
Perang Diponegoro atau Perang Jawa, yang berkobar lima tahun (1825-1830), juga karena alasan serupa. Da­lam permintaan dukungannya kepada ulama, bangsawan, dan masyarakat Jawa, Pangeran Diponegoro (pangeran yang juga ulama) menekankan bahwa ia adalah pemimpin perang sabil, perang suci, untuk mengusir Belanda, yang tidak beriman, dari tanah Jawa. Ia menyurati ulama dan pemimpin di Jawa Tengah dan Jawa Timur, mengimbau mereka “un­tuk ikut melawan Belanda di seluruh daerah untuk mengembalikan keduduk­an tinggi kerajaan berdasar agama yang benar (ngluhurke agami Islam)”. Dalam menyebarkan fatwa jihad itu, Diponegoro dibantu oleh Kiai Mojo, Kiai Besari, dan ulama-ulama lainnya. 

[Majalah Alkisah]
« PREV
NEXT »

Tidak ada komentar