SUARA-MUSLIM.COM ~ Menilik kondisi Mesir yang dilanda konflik sekarang ini ada baiknya kita mencoba mengingat saat Presiden Abdurrahman Wahid lengser dari kursi presiden pada 2001. Gus Dur harus terjungkal lewat kekuatan yang tadinya menggalang tokoh Nahdlatul Ulama ini menjadi presiden, poros tengah.
Gus Dur pun melakukan aksi politik. Dia menandatangani dekrit yang menyatakan parlemen harus dibekukan. Mirip apa yang dilakukan oleh Presiden Soekarno kepada konstituante. Ketika itu, proklamator RI tersebut meneken dekrit untuk membubarkan lembaga tersebut karena gagal membuat konstitusi.
Hanya, Gus Dur terjatuh bukan lewat jalur kudeta. Dia dijungkal dengan prosedur demokrasi yang resmi. Gusdur dijatuhi mosi tidak percaya lewat sidang istimewa di Majelis Permusyawaratan Rakyat.
Dalam hal ini, TNI mengambil posisi jernih. Tentara mengabaikan taklimat presiden untuk membekukan parlemen. Untuk kali ini, militer mencatat prestasi karena berhasil memilih tunduk kepada negara ketimbang penguasa. Alhasil, Gus Dur legowo mundur dari istana. Sebagai Wakil Presiden, Megawati menjadi pengganti.
Penggulingan Gus Dur bukan tanpa gejolak. Kaum Nahdliyin dari berbagai daerah datang ke Jakarta. Menyatakan kesetiaan dengan cap jempol darah. Demonstrasi pun panas. Di daerah, Muhammadiyah yang merupakan penyokong Amien Rais, tokoh utama poros tengah harus bersitegang dengan NU.
Cuma, itu tidak berlangsung lama. Gus Dur menunjukkan kedewasaannya sebagai negarawan. Disaksikan oleh ratusan ribu pengikutnya, Gus Dur bersedia mundur tanpa pertumpahan darah. Tidak seperti yang terjadi di Negara Mesir dengan Presiden Mursi dan pendukungnya saat ini.
Disarikan oleh: Abu Umar
Sumber: ROL





Tidak ada komentar
Posting Komentar